Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

4 Cara HR Bantu Pekerja 'Burnout' Saat Remote Working

October 8, 2020

Work from home alias kerja dari rumah, bukan lagi jadi istilah aneh bagi pekerja di seluruh dunia--tak terkecuali di Indonesia--sejak merebaknya pandemi COVID-19. Awalnya, sistem kerja seperti ini cukup dinikmati oleh pekerja. Mereka tidak perlu bangun pagi untuk pergi ke kantor, bisa mengirit karena tidak perlu keluar ongkos pergi-pulang kantor, bisa bekerja sambil leyeh-leyeh, dan segudang keuntungan lainnya yang dirasakan ketika perusahaan memutuskan untuk bekerja dari rumah.

Namun, lama-kelamaan bekerja dari rumah menimbulkan masalah tersendiri. Misalnya, memakan kuota yang banyak untuk sekadar meeting virtual bersama pekerja--jika tidak memiliki jaringan internet rumah. Atau bagi yang sudah berkeluarga, sulit untuk memisahkan tugas sebagai anggota keluarga di rumah dan tugas kantor. Lebih fatalnya lagi, jika ketika masih bekerja di kantor, rumah menjadi tempat beristirahat dan melepas penat, kini sudah tidak ada lagi istilah ‘pulang’ dan melepas penat di rumah, karena rumah pun jadi kantor sekarang. Tak jarang, waktu kerja pun tidak lagi normal dan melebihi waktu kerja yang seharusnya

Masalah tersebut pun disebut menjadi faktor yang berpengaruh tingginya tingkat stres dan kelelahan mental dalam bekerja--atau istilahnya burnout.

Sebagai manajer atau human resource, Anda harus tahu ciri-ciri pekerja yang sedang mengalami burnout akibat terlalu lama bekerja dari rumah:

  1. Menghindari Pekerjaan

Email yang menumpuk dan tidak dibalas atau dibalas dalam waktu jeda yang sangat lama, membiarkan telepon berdering tanpa adanya keinginan untuk mengangkat, atau sering menunda pekerjaan menjadi ciri pertama yang mudah untuk dibedakan ketika pekerja Anda mengalami burnout.

2. Kinerja Menurun

Jika pekerja Anda sering telat masuk ke dalam room virtual meeting, atau jadi sering marah besar tanpa alasan jelas, bisa jadi, pekerja Anda mengalami kelelahan mental dalam bekerja.

3. Kelelahan dan Apatis

Jadi seorang yang percaya diri dan tidak mengakui pencapaiannya dalam pekerjaan, malas melakukan segala sesuatu, termasuk melakukan hal sehari-hari seperti mandi, jika meeting hanya diam dan menjadi pasif, sulit fokus pada topik pekerjaan, merupakan ciri-ciri lanjutan dari burnout.

4. Sulit Bedakan Waktu Kerja dan Istirahat

pekerja Anda suka mengirim pesan tentang pekerjaan di waktu yang tidak seharusnya? Apakah dia tidak bisa melepas pandangan dari ponsel atau laptop seharian?

Antusias dalam bekerja itu baik, namun jika terlalu antusias pun tidak baik pada akhirnya. Jika Anda sebagai human resource atau manajer menemukan keempat ciri di atas pada pekerja Anda, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar pekerja Anda bisa mengatasi kelelahan mentalnya dalam bekerja.

  1. Mengingatkan Kembali Waktu Bekerja

Sebagai manajer atau HR, Anda berhak mengumumkan dan mengingatkan kembali jam kerja untuk rekan-rekan, walaupun seluruh karyawan sedang bekerja di rumah. Hal ini penting dilakukan agar mereka tidak terlalu menguras energi mereka hanya untuk bekerja dan agar mereka memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak.

2. Cuti

Luangkan waktu sejenak untuk menanyakan kabar karyawan yang sedang burnout dan ingatkan untuk mengambil cuti kepada pekerja yang burnout. Biarkan dia mengambil waktu libur sejenak dan membebaskan kembali pikirannya dari pekerjaan. Dengan waktu cuti pun, pekerja bisa mengumpulkan lagi kemampuannya dalam mencapai kinerja yang maksimal di kemudian hari.

3. Virtual Coffee Break

Ajak pekerja untuk istirahat sejenak dengan memberi mereka waktu mengobrol singkat sambil makan atau minum lewat video call. Buatlah jadwal reguler untuk virtual coffee break minimal seminggu sekali, selain untuk menyegarkan pikiran pekerja, hal ini bisa membuat produktivitas pekerja meningkat.

4. Friday Close-off Meeting

Karena sejak WFH, pekerja jadi suka lupa waktu, ada baiknya sebagai HR, Anda mengingatkan pekerja untuk istirahat sejenak di weekend. Buatlah meeting di setiap hari Jumat yang isinya adalah obrolan seputar cerita weekday mereka, apa saja pencapaian mereka, dan jangan lupa berikan apresiasi untuk pencapaian pekerja Anda.

Tak ada yang tahu pasti kapan pandemi ini berakhir. Dan ini adalah saatnya bagi Anda dan pekerja untuk memperkuat solidaritas tim agar lebih baik lagi kedepannya. Selama itu, sebagai seorang tim HR Anda dapat menolong pekerja yang burnout agar tidak terjebak dalam kelelahan fisik maupun mental selama work from home.

CTA

Artikel ini dikutip dari Forbes dan Talentlyft



Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

4 Cara HR Bantu Pekerja 'Burnout' Saat Remote Working

October 8, 2020

Work from home alias kerja dari rumah, bukan lagi jadi istilah aneh bagi pekerja di seluruh dunia--tak terkecuali di Indonesia--sejak merebaknya pandemi COVID-19. Awalnya, sistem kerja seperti ini cukup dinikmati oleh pekerja. Mereka tidak perlu bangun pagi untuk pergi ke kantor, bisa mengirit karena tidak perlu keluar ongkos pergi-pulang kantor, bisa bekerja sambil leyeh-leyeh, dan segudang keuntungan lainnya yang dirasakan ketika perusahaan memutuskan untuk bekerja dari rumah.

Namun, lama-kelamaan bekerja dari rumah menimbulkan masalah tersendiri. Misalnya, memakan kuota yang banyak untuk sekadar meeting virtual bersama pekerja--jika tidak memiliki jaringan internet rumah. Atau bagi yang sudah berkeluarga, sulit untuk memisahkan tugas sebagai anggota keluarga di rumah dan tugas kantor. Lebih fatalnya lagi, jika ketika masih bekerja di kantor, rumah menjadi tempat beristirahat dan melepas penat, kini sudah tidak ada lagi istilah ‘pulang’ dan melepas penat di rumah, karena rumah pun jadi kantor sekarang. Tak jarang, waktu kerja pun tidak lagi normal dan melebihi waktu kerja yang seharusnya

Masalah tersebut pun disebut menjadi faktor yang berpengaruh tingginya tingkat stres dan kelelahan mental dalam bekerja--atau istilahnya burnout.

Sebagai manajer atau human resource, Anda harus tahu ciri-ciri pekerja yang sedang mengalami burnout akibat terlalu lama bekerja dari rumah:

  1. Menghindari Pekerjaan

Email yang menumpuk dan tidak dibalas atau dibalas dalam waktu jeda yang sangat lama, membiarkan telepon berdering tanpa adanya keinginan untuk mengangkat, atau sering menunda pekerjaan menjadi ciri pertama yang mudah untuk dibedakan ketika pekerja Anda mengalami burnout.

2. Kinerja Menurun

Jika pekerja Anda sering telat masuk ke dalam room virtual meeting, atau jadi sering marah besar tanpa alasan jelas, bisa jadi, pekerja Anda mengalami kelelahan mental dalam bekerja.

3. Kelelahan dan Apatis

Jadi seorang yang percaya diri dan tidak mengakui pencapaiannya dalam pekerjaan, malas melakukan segala sesuatu, termasuk melakukan hal sehari-hari seperti mandi, jika meeting hanya diam dan menjadi pasif, sulit fokus pada topik pekerjaan, merupakan ciri-ciri lanjutan dari burnout.

4. Sulit Bedakan Waktu Kerja dan Istirahat

pekerja Anda suka mengirim pesan tentang pekerjaan di waktu yang tidak seharusnya? Apakah dia tidak bisa melepas pandangan dari ponsel atau laptop seharian?

Antusias dalam bekerja itu baik, namun jika terlalu antusias pun tidak baik pada akhirnya. Jika Anda sebagai human resource atau manajer menemukan keempat ciri di atas pada pekerja Anda, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar pekerja Anda bisa mengatasi kelelahan mentalnya dalam bekerja.

  1. Mengingatkan Kembali Waktu Bekerja

Sebagai manajer atau HR, Anda berhak mengumumkan dan mengingatkan kembali jam kerja untuk rekan-rekan, walaupun seluruh karyawan sedang bekerja di rumah. Hal ini penting dilakukan agar mereka tidak terlalu menguras energi mereka hanya untuk bekerja dan agar mereka memiliki waktu luang untuk beristirahat sejenak.

2. Cuti

Luangkan waktu sejenak untuk menanyakan kabar karyawan yang sedang burnout dan ingatkan untuk mengambil cuti kepada pekerja yang burnout. Biarkan dia mengambil waktu libur sejenak dan membebaskan kembali pikirannya dari pekerjaan. Dengan waktu cuti pun, pekerja bisa mengumpulkan lagi kemampuannya dalam mencapai kinerja yang maksimal di kemudian hari.

3. Virtual Coffee Break

Ajak pekerja untuk istirahat sejenak dengan memberi mereka waktu mengobrol singkat sambil makan atau minum lewat video call. Buatlah jadwal reguler untuk virtual coffee break minimal seminggu sekali, selain untuk menyegarkan pikiran pekerja, hal ini bisa membuat produktivitas pekerja meningkat.

4. Friday Close-off Meeting

Karena sejak WFH, pekerja jadi suka lupa waktu, ada baiknya sebagai HR, Anda mengingatkan pekerja untuk istirahat sejenak di weekend. Buatlah meeting di setiap hari Jumat yang isinya adalah obrolan seputar cerita weekday mereka, apa saja pencapaian mereka, dan jangan lupa berikan apresiasi untuk pencapaian pekerja Anda.

Tak ada yang tahu pasti kapan pandemi ini berakhir. Dan ini adalah saatnya bagi Anda dan pekerja untuk memperkuat solidaritas tim agar lebih baik lagi kedepannya. Selama itu, sebagai seorang tim HR Anda dapat menolong pekerja yang burnout agar tidak terjebak dalam kelelahan fisik maupun mental selama work from home.

CTA

Artikel ini dikutip dari Forbes dan Talentlyft



Written by Stefanny

Categories

Tags