Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Management

Pengeluaran Lebih untuk People Development : Saving atau Pemborosan Anggaran?

January 15, 2020

Wajah baru dunia kerja saat ini telah berubah dengan hadirnya teknologi digital seiring berkembangnya revolusi industri 4.0. Perkembangan dunia digital juga berpengaruh terhadap munculnya jenis-jenis pekerjaan baru dan lebih terbukanya pilihan pekerjaan dan pengembangan karir.

Teknologi bukan satu-satunya hal yang memberi dampak pada “wajah” tenaga kerja saat ini. Demografi angkatan kerja yang didominasi millennial juga membawa perubahan yang signifikan, terutama aspek perilaku dalam hal preferensi dan ekspektasi atas pilihan karir yang lebih fleksibel dan kesempatan untuk berkembang, yang selalu menduduki posisi utama berbagai survei terkait motivasi angkatan muda ini dalam bekerja, selain tentu saja urusan finansial.

Berdasarkan riset dari Gallup 87% dari responden generasi millenial sangat menghargai kesempatan pengembangan karier yang ditawarkan pekerjaannya dan 59% dari responden mengatakan bahwa kesempatan untuk belajar adalah salah satu faktor terpenting ketika melamar sebuah pekerjaan. 

Menjadi tantangan bagi pemilik usaha umumnya dan praktisi HR khususnya dalam menyambut demand atau tuntutan yang tinggi dari talent market untuk bekerja pada perusahaan yang memiliki employee development program.

 

Tantangan Implementasi Employee Development Program.

Di tengah besarnya harapan angkatan kerja muda terhadap perusahaan yang menjalankan program pelatihan dan pengembangan karyawannya, namun kenyataannya masih banyak praktisi HR yang mendapatkan penolakan untuk memiliki dan menjalankan program pengembangan karyawan.

Ketika dihadapkan pada pilihan untuk berinvestasi (atau tidak berinvestasi) pada karyawan, praktisi HR sebagai punggawa dan pemelihara pengembangan keterampilan karyawan seringkali mendapat hambatan dalam mewujudkan berbagai program kerja yang dipercaya dapat meningkatkan kinerja divisi yang memberikan dampak pada perusahaan.

Pimpinan HR perlu usaha ekstra dalam meyakinkan jajaran management perusahaan terutama pucuk pimpinan perusahaan dan pimpinan bagian keuangan, bahwa employee development adalah salah satu fungsi HR yang bertanggung jawab dalam kelangsungan organisasi dan retensi karyawan yang dimiliki, yang pada akhirnya bermuara pada goal perusahaan yang ingin dicapai.

Perlu diberikan pemahaman pula, bahwa penolakan menjalankan program pelatihan dan pengembangan karyawan merupakan praktik yang merugikan baik bagi karyawan maupun perusahaan. Tanda disadari, akibatnya tidak hanya “mengusir” secara halus talenta yang ada, tetapi juga dapat menurunkan minat talenta baru untuk bergabung, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan dan menjadi faktor utama penghambat dalam mencapai goal yang diinginkan.

 

Investasi pada karyawan yang ada atau meng-hire karyawan yang sudah diinvestasikan?

Jika Anda meyakini bahwa mempekerjakan karyawan berpengalaman dan terlatih lebih murah daripada melatih karyawan sendiri, anggapan tersebut perlu dipikir ulang kembali.

Meng-hire top talent yang telah dilatih di perusahaan sebelumnya memiliki sejumlah resiko. Tingkat gaji karyawan terlatih selalu lebih mahal dibanding karyawan hasil pengembangan (promosi), resiko lain meng-hire karyawan terlatih adalah kecenderungan mereka tidak memberikan loyalitas dan dedikasi penuh pada perusahaan, dan jauh lebih rentan untuk pergi jika dibandingkan karyawan yang telah Anda investasikan dengan pelatihan dan pengembangan.

Dalam jangka panjang investasi pada karyawan melalui pelatihan pengembangan adalah keputusan strategis, karena sangat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan pengembanan organisasi, disisi lain karyawan yang dikembangkan oleh perusahaan memiliki keterikatan secara psikologis berupa “rasa terima kasih” kepada perusahaan yang telah memberinya kesempatan berkembang, sehingga menjadi pertimbangan mereka dalam memutuskan pindah dalam waktu singkat.
 

Mengapa harus berinvestasi pada employee development?

“Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada melatih karyawan Anda dan menyuruh mereka pergi adalah tidak melatih mereka dan membiarkan mereka tetap tinggal”, kata-kata Henry Ford yang begitu menginspirasi.

Karyawan bukan hanya aset penting perusahaan, namun mereka adalah backbone perusahaan yang menjadi faktor penting dalam memastikan perusahaan tetap tegak berdiri, sehingga pelatihan dan pengembangan profesional mereka adalah sesuatu yang harus diperhitungkan bukan sebagai pengeluaran tetapi sebagai investasi.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa investasi terbaik perusahaan adalah dengan mengembangkan karyawannya:

people development

 

Ketika sebuah perusahaan menjadikan karyawannya layaknya aset dengan menaruh investasi melalui program pelatihan dan pengembangan, karyawan tentunya merasa dihargai.

Perasaan dihargai ini yang menjadikan nilai lebih dari perusahan yang ditawarkan pada mereka sehingga loyalitas karyawan terhadap perusahaan juga akan meningkat. Semakin tinggi tingkat engagement karyawan, maka akan semakin besar kemungkinan mereka untuk tetap tinggal lebih lama.

Perasaan dihargai layaknya aset akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Kepuasan ini akan memberikan dampak positif seperti dengan mudah merekomendasikan talent terbaik dalam lingkaran pertemanan mereka untuk bergabung di dalam perusahaan. Sebagaimana kita ketahui, kemampuan word-of-mouth atau informasi dari mulut ke mulut berupa pengakuan nyata dan rujukan dari karyawan memberikan dampak yang sangat ampuh terhadap perusahaan.

“Culture eats strategy for breakfast”, sebuah frasa sederhana yang penuh makna dari Peter Drucker, yang memberikan insight bahwa membangun culture atau budaya memiliki peran yang sangat krusial pada sebuah organisasi atau perusahaan.

Budaya perusahaan adalah hal yang sulit untuk diperbaiki. Hal ini menjadi target bergerak yang tumbuh berkembang yang diwarnai berdasarkan karakter orang-orang yang ada didalamnya. Dengan kata lain semua talent yang ada menjadi salah satu subjek penggerak yang menciptakan budaya perusahaan selain decision maker di perusahaan.

Bisa dibayangkan jika perusahaan tanpa program pengembangan karyawan, bagaimana masa depan perusahaan jika didalamnya silih berganti terjadi substitusi, ditinggalkan talent potensial yang ingin berkembang di luar dan menyisakan talent yang hanya merasa nyaman tanpa pelatihan dan pengembangan.

people development

Tidak hanya dalam hal mendatangkan revenue, karyawan yang selalu mendapatkan pelatihan juga akan meminimalisir terjadi kesalahan pada karyawan, yang mana setiap kesalahan bisa dikonversikan dengan nilai rupiah yang tidak kecil, baik dalam hal kesalahan yang menimbulkan kerugian secara langsung maupun yang bersifat menimbulkan potensi kerugian.

Contohnya berapa kerugian yang ditanggung perusahaan Anda, jika seorang frontliner memberikan pelayanan yang mengecewakan kepada customer, lalu costumer tersebut menyebarkan kekecewaannya di media online? tentu tidak ternilai bukan.
 

Pengembangan Karyawan Sepadan Dengan Investasi

Kunci dalam menjadikan pengembangan karyawan sepadan dengan investasi ada pada pelaksanaan dan dampak yang dihasilkan. Pengembangan karyawan tidak terjadi tanpa adanya perencanaan. Penting untuk dicatat bahwa program pelatihan karyawan tak hanya sekedar rutinitas nan monoton menjalankan sesuai jadual program dan atau hanya sekedar memenuhi target jumlah jam pelatihan, namun perlu dikelola secara dinamis mengikuti perubahan bisnis proses dan berorientasi kepada kebutuhan pelanggan. 

Pelatihan dan pengembangan hanyalah investasi yang baik jika secara efektif meningkatkan kompetensi (attitude, skill dan knowledge) karyawan yang berimbas pada meningkatnya produktivitas perusahaan, menimbulkan keterikatan di internal organisasi dan meningkatkan reputasi yang positif dimata talent diluaran. Itulah sebabnya pengembangan karyawan bukan hanya sebagai biaya pengeluaran, tetapi layaknya investasi yang dikelola secara berkesinambungan.

cta

 

Management

Pengeluaran Lebih untuk People Development : Saving atau Pemborosan Anggaran?

January 15, 2020

Wajah baru dunia kerja saat ini telah berubah dengan hadirnya teknologi digital seiring berkembangnya revolusi industri 4.0. Perkembangan dunia digital juga berpengaruh terhadap munculnya jenis-jenis pekerjaan baru dan lebih terbukanya pilihan pekerjaan dan pengembangan karir.

Teknologi bukan satu-satunya hal yang memberi dampak pada “wajah” tenaga kerja saat ini. Demografi angkatan kerja yang didominasi millennial juga membawa perubahan yang signifikan, terutama aspek perilaku dalam hal preferensi dan ekspektasi atas pilihan karir yang lebih fleksibel dan kesempatan untuk berkembang, yang selalu menduduki posisi utama berbagai survei terkait motivasi angkatan muda ini dalam bekerja, selain tentu saja urusan finansial.

Berdasarkan riset dari Gallup 87% dari responden generasi millenial sangat menghargai kesempatan pengembangan karier yang ditawarkan pekerjaannya dan 59% dari responden mengatakan bahwa kesempatan untuk belajar adalah salah satu faktor terpenting ketika melamar sebuah pekerjaan. 

Menjadi tantangan bagi pemilik usaha umumnya dan praktisi HR khususnya dalam menyambut demand atau tuntutan yang tinggi dari talent market untuk bekerja pada perusahaan yang memiliki employee development program.

 

Tantangan Implementasi Employee Development Program.

Di tengah besarnya harapan angkatan kerja muda terhadap perusahaan yang menjalankan program pelatihan dan pengembangan karyawannya, namun kenyataannya masih banyak praktisi HR yang mendapatkan penolakan untuk memiliki dan menjalankan program pengembangan karyawan.

Ketika dihadapkan pada pilihan untuk berinvestasi (atau tidak berinvestasi) pada karyawan, praktisi HR sebagai punggawa dan pemelihara pengembangan keterampilan karyawan seringkali mendapat hambatan dalam mewujudkan berbagai program kerja yang dipercaya dapat meningkatkan kinerja divisi yang memberikan dampak pada perusahaan.

Pimpinan HR perlu usaha ekstra dalam meyakinkan jajaran management perusahaan terutama pucuk pimpinan perusahaan dan pimpinan bagian keuangan, bahwa employee development adalah salah satu fungsi HR yang bertanggung jawab dalam kelangsungan organisasi dan retensi karyawan yang dimiliki, yang pada akhirnya bermuara pada goal perusahaan yang ingin dicapai.

Perlu diberikan pemahaman pula, bahwa penolakan menjalankan program pelatihan dan pengembangan karyawan merupakan praktik yang merugikan baik bagi karyawan maupun perusahaan. Tanda disadari, akibatnya tidak hanya “mengusir” secara halus talenta yang ada, tetapi juga dapat menurunkan minat talenta baru untuk bergabung, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan dan menjadi faktor utama penghambat dalam mencapai goal yang diinginkan.

 

Investasi pada karyawan yang ada atau meng-hire karyawan yang sudah diinvestasikan?

Jika Anda meyakini bahwa mempekerjakan karyawan berpengalaman dan terlatih lebih murah daripada melatih karyawan sendiri, anggapan tersebut perlu dipikir ulang kembali.

Meng-hire top talent yang telah dilatih di perusahaan sebelumnya memiliki sejumlah resiko. Tingkat gaji karyawan terlatih selalu lebih mahal dibanding karyawan hasil pengembangan (promosi), resiko lain meng-hire karyawan terlatih adalah kecenderungan mereka tidak memberikan loyalitas dan dedikasi penuh pada perusahaan, dan jauh lebih rentan untuk pergi jika dibandingkan karyawan yang telah Anda investasikan dengan pelatihan dan pengembangan.

Dalam jangka panjang investasi pada karyawan melalui pelatihan pengembangan adalah keputusan strategis, karena sangat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan pengembanan organisasi, disisi lain karyawan yang dikembangkan oleh perusahaan memiliki keterikatan secara psikologis berupa “rasa terima kasih” kepada perusahaan yang telah memberinya kesempatan berkembang, sehingga menjadi pertimbangan mereka dalam memutuskan pindah dalam waktu singkat.
 

Mengapa harus berinvestasi pada employee development?

“Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada melatih karyawan Anda dan menyuruh mereka pergi adalah tidak melatih mereka dan membiarkan mereka tetap tinggal”, kata-kata Henry Ford yang begitu menginspirasi.

Karyawan bukan hanya aset penting perusahaan, namun mereka adalah backbone perusahaan yang menjadi faktor penting dalam memastikan perusahaan tetap tegak berdiri, sehingga pelatihan dan pengembangan profesional mereka adalah sesuatu yang harus diperhitungkan bukan sebagai pengeluaran tetapi sebagai investasi.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa investasi terbaik perusahaan adalah dengan mengembangkan karyawannya:

people development

 

Ketika sebuah perusahaan menjadikan karyawannya layaknya aset dengan menaruh investasi melalui program pelatihan dan pengembangan, karyawan tentunya merasa dihargai.

Perasaan dihargai ini yang menjadikan nilai lebih dari perusahan yang ditawarkan pada mereka sehingga loyalitas karyawan terhadap perusahaan juga akan meningkat. Semakin tinggi tingkat engagement karyawan, maka akan semakin besar kemungkinan mereka untuk tetap tinggal lebih lama.

Perasaan dihargai layaknya aset akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Kepuasan ini akan memberikan dampak positif seperti dengan mudah merekomendasikan talent terbaik dalam lingkaran pertemanan mereka untuk bergabung di dalam perusahaan. Sebagaimana kita ketahui, kemampuan word-of-mouth atau informasi dari mulut ke mulut berupa pengakuan nyata dan rujukan dari karyawan memberikan dampak yang sangat ampuh terhadap perusahaan.

“Culture eats strategy for breakfast”, sebuah frasa sederhana yang penuh makna dari Peter Drucker, yang memberikan insight bahwa membangun culture atau budaya memiliki peran yang sangat krusial pada sebuah organisasi atau perusahaan.

Budaya perusahaan adalah hal yang sulit untuk diperbaiki. Hal ini menjadi target bergerak yang tumbuh berkembang yang diwarnai berdasarkan karakter orang-orang yang ada didalamnya. Dengan kata lain semua talent yang ada menjadi salah satu subjek penggerak yang menciptakan budaya perusahaan selain decision maker di perusahaan.

Bisa dibayangkan jika perusahaan tanpa program pengembangan karyawan, bagaimana masa depan perusahaan jika didalamnya silih berganti terjadi substitusi, ditinggalkan talent potensial yang ingin berkembang di luar dan menyisakan talent yang hanya merasa nyaman tanpa pelatihan dan pengembangan.

people development

Tidak hanya dalam hal mendatangkan revenue, karyawan yang selalu mendapatkan pelatihan juga akan meminimalisir terjadi kesalahan pada karyawan, yang mana setiap kesalahan bisa dikonversikan dengan nilai rupiah yang tidak kecil, baik dalam hal kesalahan yang menimbulkan kerugian secara langsung maupun yang bersifat menimbulkan potensi kerugian.

Contohnya berapa kerugian yang ditanggung perusahaan Anda, jika seorang frontliner memberikan pelayanan yang mengecewakan kepada customer, lalu costumer tersebut menyebarkan kekecewaannya di media online? tentu tidak ternilai bukan.
 

Pengembangan Karyawan Sepadan Dengan Investasi

Kunci dalam menjadikan pengembangan karyawan sepadan dengan investasi ada pada pelaksanaan dan dampak yang dihasilkan. Pengembangan karyawan tidak terjadi tanpa adanya perencanaan. Penting untuk dicatat bahwa program pelatihan karyawan tak hanya sekedar rutinitas nan monoton menjalankan sesuai jadual program dan atau hanya sekedar memenuhi target jumlah jam pelatihan, namun perlu dikelola secara dinamis mengikuti perubahan bisnis proses dan berorientasi kepada kebutuhan pelanggan. 

Pelatihan dan pengembangan hanyalah investasi yang baik jika secara efektif meningkatkan kompetensi (attitude, skill dan knowledge) karyawan yang berimbas pada meningkatnya produktivitas perusahaan, menimbulkan keterikatan di internal organisasi dan meningkatkan reputasi yang positif dimata talent diluaran. Itulah sebabnya pengembangan karyawan bukan hanya sebagai biaya pengeluaran, tetapi layaknya investasi yang dikelola secara berkesinambungan.

cta

 

Categories

Tags