Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Management

Career Switch: Fase Karir Paling Mendebarkan

December 30, 2019

Cukup banyak peniti karir yang merasakan kejenuhan akut dalam menjalani karirnya. Bukan semata jenuh dengan suasana kantornya atau dengan rekan kerjanya, melainkan juga jenuh dengan perjalanan karirnya secara menyeluruh.

Kejenuhan tersebut bisa terjadi karena berbagai sebab. Sebab yang paling umum terjadi adalah peniti karir tidak lagi menemukan tantangan berarti pada pekerjaan yang sehari-harinya mereka jalani, sehingga minim atau tidak ada lagi ruang untuk mengembangkan dirinya.

Segalanya menjadi terlalu mudah untuk dilakukan, dan apa yang ada di depan mata menjadi terlalu mudah untuk diprediksi. Potensinya semakin stagnan atau merendah, sementara tantangannya terlalu mudah untuk ditaklukkan.

Sepintas, kejenuhan karir semacam ini tampak mengherankan bagi sejumlah kalangan yang dapat menikmati stabilitas karirnya selama beberapa dekade hingga pensiun di satu nama perusahaan. Bagi individu dengan karakter yang lebih “cinta damai”, “cinta hal tak beresiko”, dan “cinta stabilitas”; kejenuhan karir semacam ini jarang sekali menghampirinya. Apabila terjadi, mereka umumnya dapat menepisnya dengan mudah, dan kembali menjalani kesehariannya dengan aman, damai, sentosa.

Namun bagi para individu yang dinamis dan menyukai tantangan dari berbagai hal baru, karir dipandang sebagai wahana untuk terus mengembangkan dirinya, mencapai hal-hal baru yang tadinya masih belum tercapai, dan menganggap karir sebagai ajang inovasi pribadi maupun ajang penciptaan berbagai dampak sosial yang positif.

Para pribadi semacam ini butuh faktor “WHY” yang kuat dalam menjalani keseharian karirnya, seperti yang Simon Sinek paparkan dengan mendetail di buku karyanya berjudul “Start With Why”.

Ketika kita telah kehilangan “why” dalam menjalani keseharian karir kita, maka disaat itulah momen-momen kejenuhan akan mulai melanda. Apalagi jika ditambah dengan semakin tingginya kompetensi yang kita dapatkan dari proses pengembangan diri sendiri secara mandiri, namun tantangan tugas dari pekerjaan yang kita jalani selama ini tidak berkembang.

Di saat seperti inilah, umumnya para peniti karir mulai memikirkan untuk melakukan Career Switch. Di dunia fotografi, momen genting semacam ini disebut sebagai The Decisive Moment. Jika eksekusi dilakukan dengan benar, The Decisive Moment bisa menjadi batu loncatan sekaligus leverage bagi karir kita. Namun jika eksekusinya tidak dilakukan secara tepat, dampak yang dihasilkan dapat menjadi fatal.

Baca Juga : Mau Mengubah Karir di Usia 30-an? Coba Simak Ini Dulu

Apakah itu Career Switch dan bagaimana detail teknisnya? Marilah kita ulas satu-persatu.

 

Perbedaan “Job” Dengan “Career

Sedari awal, kita patut menyepakati bahwa ada perbedaan mendasar antara definisi “Job” alias “Pekerjaan”, dengan definisi “Career” alias “Karir”. Berikut ini adalah tabel perbedaan diantara keduanya.

Karir (Career) Pekerjaan (Job)
Ditemukan & didefinisikan oleh diri kita sendiri terlebih dahulu, melalui penetapan visi atau purpose hidup secara jangka panjang, dan faktor WHY. Diberikan oleh pihak lain yang mempercayakan penugasan pekerjaan tersebut pada kita.

Kita secara personal terlebih dahulu mendefinisikan tujuan utama sebelum melakukan suatu perjalanan. 

Kita telah menetapkan suatu tujuan karir, namun dapat menempuh atau mencapainya dengan moda transportasi atau rute yang berbeda-beda.

Lebih bersifat strategis.

Lebih bersifat taktis.

Ibarat membeli puzzle dalam kondisi baru, maka kita akan melihat gambaran akhirnya terlebih dahulu.

Ibarat membeli puzzle untuk dinikmati. Setelah melihat gambaran akhirnya, puzzle tersebut akan kita acak dan susun-ulang, sehingga sesuai dengan gambaran akhirnya.
Menentukan jati diri kita secara menyeluruh, yang melekat pada diri kita selama kita hidup. Menentukan identitas profesi kita pada suatu waktu, ruang, dan kondisi tertentu.

Jati diri kita akan terus melekat, tanpa peduli apa pun pekerjaan, posisi, atau jabatan yang sedang kita emban.

Identitas profesi akan melekat pada diri kita sejauh adanya pihak pemberi pekerjaan yang mempercayakan suatu hal pada kita.
Membutuhkan passion, karakter, konsistensi, dan kecintaan mendalam akan bidang yang kita jalani, dalam jangka panjang. Mengutamakan kepemilikan kompetensi teknis kita akan suatu persyaratan pekerjaan. Terpenting adalah kita dapat menghasilkan pencapaian tertentu berdasarkan target pekerjaan.
Istilah lengkapnya: pembangun karir atau peniti karir. Istilah lengkapnya: pencari pekerjaan, profesional, atau pekerja.

 

Setelah memahami secara lebih jelas dalam melihat perbedaan antara “Karir” dengan “Pekerjaan”, maka kita akan sepakat bahwa yang akan selanjutnya kita bicarakan adalah tentang Career Switch, alias perpindahan jalur karir. Bukan “Job Switch” atau perpindahan pekerjaan.

Untuk dapat menyikapinya secara lebih tepat dan terfokus, saya pribadi membagi pemahaman Career Switch dalam definisi Tipe A dan Tipe B.

Perlu kita pahami bersama, ini adalah pembagian dari saya pribadi, demi mempermudah pemahaman isi artikel ini. Saya menghormati perbedaan pendapat maupun perbedaan definisi tentang topik ini di luar sana, dan artikel ini saya susun bukan untuk mempertentangkan opini maupun definisinya, melainkan untuk saling melengkapi, demi pemahaman kita semua.
 

Career Switch Tipe A

Ini adalah Career Switch dengan tingkat tantangan paling besar yang harus dihadapi peniti karir. Dalam kejadian Career Switch Tipe A, seorang peniti karir bisa saja menghadapi minimal tiga, empat, atau bahkan lima jenis pergantian ini secara bersamaan:

 

Career Switch Tipe B

Secara prinsip, Career Switch Tipe B merupakan seorang peniti karir yang mengalami apa yang dialami Career Switch Tipe A, namun hanya terjadi pada satu atau dua variabel pergantian saja. 

Tipe seperti ini umumnya banyak terjadi di BUMN atau Multi-National Company terkenal dengan skala organisasi besar. Seseorang bisa saja berkarir selama belasan atau puluhan tahun di satu perusahaan, dan mengalami beberapa kali mutasi departemen atau rotasi jabatan. Dalam pandangan saya pribadi, ini belum dapat dikategorikan sebagai Career Switch Tipe A, melainkan Career Switch Tipe B.

Contoh lain dari Career Switch Tipe B adalah seseorang yang selama belasan atau puluhan tahun ada di dunia Finance, namun berganti-ganti jenis industri. Hingga umur pensiunnya, dia tetap berada di dunia Finance, namun terpapar di berbagai jenis industri berbeda.

Berdasarkan kedua tipe Career Switch ini, kita sepakati bersama bahwa kita hanya akan membicarakan Career Switch Tipe A. Mengapa demikian? Karena di masa depan yang semakin tidak menentu namun juga sekaligus semakin sarat dengan berbagai peluang karir dan jenis pekerjaan baru, diprediksi akan semakin banyak peniti karir yang mengalami Career Switch Tipe A.

Beberapa sebab umum terjadinya Career Switch Tipe A pada seorang peniti karir:

 

Apa Saja Yang Dibutuhkan Sebagai Prasyarat Terjadinya Career Switch Tipe A?

Profil karir saya pribadi tidaklah mulus dan tidaklah sempurna, terutama di hadapan Rekruter konservatif. Salah satu sebabnya adalah karena saya telah mengalami dua kali Career Switch, yaitu Career Switch Tipe B ketika saya berpindah dari dunia Training ke dunia Media Cetak atau Jurnalistik, dan Career Switch Tipe A ketika saya berpindah dari dunia Media atau Jurnalistik ke dunia HR.

Oleh karena itu, artikel ini banyak diinspirasikan dari pengalaman saya pribadi dan juga pengalaman nyata para profesional dari berbagai latar belakang akademik, latar belakang profesi, maupun profil karir, yang telah berhasil atau sedang dalam proses menjalani Career Switch.

Cukup banyak peniti karir yang bertanya pada saya, bagaimana caranya agar kita bisa mulus menjalani Career Switch Tipe A. Satu hal yang umumnya saya temui adalah saya tidak pernah atau belum pernah bertemu dengan peniti karir yang benar-benar mulus tanpa gejolak sedikit pun, mengalami Career Switch Tipe A.

Kita semua paham bahwa Career Switch Tipe A adalah dinamika karir yang berisiko tinggi, dan oleh karenanya tidak saya anjurkan untuk dilakukan tanpa analisa mendalam dan persiapan yang memadai.

Berikut ini adalah delapan pra-kondisi yang sangat saya sarankan agar kita analisa secara mendalam terlebih dahulu, agar kita dapat sukses melakukan Career Switch Tipe A dengan seminim mungkin resiko.
 

Bagi orang Indonesia yang masih memegang teguh nilai-nilai kekeluargaan, urusan restu dari keluarga dan orangtua seringkali menjadi penentu yang cukup vital dalam perjalanan karir seseorang.

Mayoritas orang Indonesia masih sangat percaya bahwa betapapun orangtua bukanlah pihak yang paling tahu segalanya tentang kondisi ketenagakerjaan di era teknologi ini, namun kata-kata dan keinginan mereka wajib dituruti dan dijadikan prioritas pertama dalam berbagai keputusan karir mereka.

Pameo ini berlaku di semua tingkatan umur, baik peniti karir yang senior maupun yang Fresh Graduate. Semuanya masih berpegang teguh pada sabda orangtua dan keluarga sebagai yang paling pertama harus dituruti, demi kelancaran karir.

Dengan kata lain, jika keinginan kita untuk melakukan Career Switch tidak direstui oleh satupun anggota keluarga, saya tidak menyarankan Anda untuk nekat melakukannya. Kecuali kita sudah benar-benar siap lahir, batin, dan finansial untuk menanggung berbagai dinamika dan konsekuensi yang timbul setelahnya.

career switch

Ada pameo sekaligus realitas hidup yang menganggap bahwa sesungguhnya mayoritas keputusan karir kita sangat dipengaruhi oleh angka-angka di rekening kita.

Sejumlah peniti karir memilih untuk tetap bertahan di perusahaannya saat ini, betapa meskipun suasana kerjanya sudah tidak nyaman lagi, karena begitu besarnya nilai kebutuhan bulanan yang harus ditanggungnya.

Saya menerima cukup banyak permintaan nasihat karir yang sejak awal pembicaraan, sudah terasa janggal. Di satu sisi, sang peniti karir begitu ingin resign dari kantornya saat ini. Tapi disisi lain, perilaku dan kata-katanya hanya semata menyudutkan perusahaan dan lingkungan sekitarnya.

Lalu saya pertanyakan lagi padanya: Lalu apa susahnya jika Anda resign? Memang dimana permasalahnya? Bukankah masalah di perusahaan tersebut memang lebih besar daripada masalah ketika Anda memutuskan resign?

Lalu saya ajukan pertanyaan terakhir sebagai “peluru terakhir”: Banyak cicilan ya?

Segera di jawabnya: Iya, Betul Pak

Dengan kata lain, sejumlah peniti karir mengeluhkan tentang perusahaan tempatnya bekerja, sebenarnya bukan karena masalahnya itu sendiri, tapi karena dirinya yang tak kuasa resign dari situ karena terlalu besarnya nilai cicilan atau kebutuhan per bulan yang harus ditanggungnya, namun kompetensi dan jaringan pertemanannya tidak memungkinkan dirinya untuk segera resign dari situ dengan aman dan tanpa gejolak.

Sebaliknya, siapa pun yang dapat mengelola aspek finansialnya dengan baik semasa masih bekerja, biasanya dapat mengambil keputusan karir yang cukup berani, tanpa harus bertanya sana-sini, tanpa harus curhat sana-sini, tanpa harus baper sana-sini.

Termasuk dalam memutuskan Career Switch.

Sebagai patokan secara umum, jika kita berencana untuk melakukan Career Switch Tipe A, ada baiknya isi rekening tabungan kita cukup aman untuk menanggung kehidupan normal kita sekeluarga tanpa penghasilan tetap selama setidaknya 6 bulan.

Sejumlah kondisi internal, kondisi domestik, atau kondisi kehidupan pribadinya; dapat menjadi pendukung atau penghalang terjadinya Career Switch Tipe A. Kenalilah benar-benar terlebih dahulu apa saja poin plus dan minus dalam kehidupan pribadi kita, yang sekiranya akan terkait dengan perubahan besar dalam karir kita.

Saya bukanlah penganut pemisahan tegas antara kehidupan pribadi dengan kehidupan karir. Kehidupan karir kita sangat terpengaruh dari kehidupan pribadi kita, dan sebaliknya. Ini kita sebut sebagai Work-Life Integration. Hal ini termasuk dalam hal nilai-nilai pribadi yang kita anut atau yakini, yang dapat bermuara dari agama atau kepercayaan yang kita anut selama ini. Contoh: seseorang memutuskan untuk melakukan “hijrah karir” dari dunia yang selama ini dipandang sebagai sumber riba, ke bidang pekerjaan lain yang diyakini tidak terkait dengan riba.

Melakukan Career Switch tipe apa pun di kota besar, tidaklah sama dengan proses karir di kota kecil.

Dengan kesempatan kerja di kota kecil atau di daerah yang terkenal tidak sebesar dan tidak seberagam apa yang kita dapatkan di kota besar atau Ibukota, sudah pasti, langkah dan keputusan karir apa pun yang kita ambil, harus jauh lebih hati-hati dan harus lebih matang perencanaannya. Tidak bisa begitu saja “just do it” tanpa pertimbangan mendalam akan detail-detail eksekusinya maupun pengelolaan risikonya. 

career switch

Sebelum memutuskan untuk melakukan Career Switch Tipe A, kita harus secara teliti menilik terlebih dahulu apa saja Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang telah kita miliki saat ini.

Jangan lupa, cek juga apa Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang selama ini telah kita pelajari atau alami sendiri, terkait dengan bidang baru yang menjadi tujuan Career Switch kita. Ini adalah variabel yang sama vitalnya dengan Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang telah kita miliki selama ini. Ini bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Jangan sampai kita mengalami bencana karir hanya karena tidak memiliki Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang menjadi tujuan Career Switch yang kita putuskan.

Maka dari itu, mayoritas peniti karir melakukan Career Switch Tipe A ke bidang profesi yang masih ada kaitan atau masih ada irisan kompetensinya dengan bidang profesi yang selama ini mereka jalani. Contohnya: dari dunia Sales ke dunia Operasional, atau dari dunia Warehouse ke dunia Procurement.

Seorang peniti karir tidak dapat begitu saja melakukan Career Switch Tipe A hanya dengan berbekal “saya maunya begitu” atau “saya pengennya begini”. Para Rekruter, Decision Maker, dan pemberi pekerjaan hanya akan memberikan pekerjaan itu pada kita, ketika mereka yakin bahwa kita memang benar-benar memiliki kompetensinya.

Dalam perjalanan kehidupan dan karir kita, seringkali faktor “koneksi” memiliki peranan sangat penting sebagai penentu arah karir kita.

Ada sejumlah peniti karir yang cukup beruntung karena betapa pun mereka tidak benar-benar merencanakan terjadinya Career Switch Tipe A, namun mereka mengalaminya karena adanya Decision Maker atau Rekruter yang mempercayakan suatu posisi atau fungsi profesi tertentu pada mereka, betapa pun latar belakang akademik, profesi, maupun profil karir mereka tidak terlalu “nyambung” dengan penugasan baru yang diberikan atasnya.

Termasuk saya pribadi, yang berhasil melakukan Career Switch Tipe A ke dunia HR, berkat restu dari Rekruter saya saat itu terjadi. Di waktu tersebut, ada kekosongan jabatan HR Manager yang baru saja resign, dan Rekruter tersebut agak enggan merekrut HR Manager dari eksternal karena faktor efisiensi biaya dan urgensi lain.

Saat itu, saya adalah yang paling siap untuk mengemban jabatan HR Head, walaupun selama ini saya belum pernah menyandangnya. Untungnya, sejak awal karir, saya telah melakukan banyak hal yang berhubungan dengan Training & People Development, sehingga tidak terlalu “kaget” ketika harus mengemban tugas sebagai HR Head dengan segudang fungsinya sebagai Generalist.

Ketika “rejeki” seperti ini terjadi pada karir kita, yakinkanlah selalu bahwa kita memiliki dedikasi luar biasa akan proses pengembangan diri kita sendiri, terutama yang terkait dengan bidang profesi & dan karir baru yang kita jalani. Ketika ada seseorang yang berkuasa dan berwenang mempercayakan suatu fungsi pekerjaan pada kita di saat kita belum memiliki kompetensinya secara utuh, yakinkanlah Rekruter tersebut bahwa kita rela melakukan apa pun yang diperlukan demi menjaga kepercayaannya.

Karena sangat besar kemungkinannya, apa yang kita perjuangkan saat itu, menjadi bekal terpenting pada perjalanan karir kita berikutnya di perusahaan lain atau di penugasan lain.

Di jaman serba teknologi dan serba terkoneksi ini, semakin “aneh” jika kita menjadi peniti karir yang sama sekali tidak terdeteksi oleh mesin pencari Google atau media sosial, khususnya LinkedIn.

Bahkan bagi generasi yang lebih tua sekalipun, mereka telah menyadari pentingnya teknologi komunikasi dan media sosial sebagai leverage bagi perjalanan karir maupun bagi Career Switch yang mereka lakukan. Terlebih lagi bagi kita yang termasuk dalam generasi muda, memiliki Personal Brand dan eksistensi diri secara positif di jagat media sosial, telah menjadi suatu hal yang esensi fungsionalnya dan dampaknya tak terbantahkan lagi.

Selama kita bukan bekerja sebagai agen intelijen yang mengharuskan kita sangat tersembunyi dari paparan informasi, maka Career Switch Tipe A dapat terjadi dengan bantuan media sosial.

Contoh: Selama ini, Bimo dikenal sebagai pilot pesawat komersial. Namun sebenarnya Bimo ingin juga dikenal sebagai koki yang handal, dan sanggup menciptakan masakan-masakan hebat yang memukau lidah sesama koki profesional.

Oleh karena itu, Bimo intensif mempergunakan media sosial semisal Instagram, YouTube, Facebook, atau LinkedIn; untuk secara konsisten menampilkan dirinya sebagai koki profesional, bukan sebagai pilot pesawat komersial.

Sehingga suatu saat karirnya berakhir dengan pensiun sebagai pilot pesawat komersial, Bimo dapat mengisi masa tuanya dengan menjadi koki di restoran miliknya sendiri. Berkat komunikasi publik yang selama ini dilakukannya secara intens, restoran milik Bimo telah menikmati stabilitas operasional dan stabilitas penghasilan, ketika dirinya fokus secara purna-waktu di restorannya.

Dari contoh di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa jika kita telah merencanakan Career Switch Tipe A dengan matang dari jauh hari dan kita memang memiliki kompetensi di bidang profesi yang menjadi tujuan karir kita selanjutnya, maka langkah selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah membangun Personal Brand dan melakukan proses komunikasi publik yang konsisten dan intensif, terkait dengan kompetensi yang ingin kita tampilkan tersebut. Kita ingin dikenal banyak orang sebagai orang yang bisa apa, itulah yang terus-menerus kita tampilkan ke publik.

Bukannya mustahil, suatu saat ada Rekruter atau Decision Maker yang melihat aktivitas positif kita tersebut di media sosial dan ruang publik, dan memutuskan untuk menugaskan kita di bidang profesi atau profil karir yang selama ini menjadi idaman kita.

Jangan lupa satu hal penting lainnya adalah Sosial Capital atau aset sosial kita, yang terbukti dapat menjadi nilai plus atau bahkan bargaining value kita di hadapan Rekruter. Dengan social presence yang baik dan berkualitas, kita telah sukses memberikan gambaran pada orang lain bahwa kita adalah pribadi yang terampil membangun dan mengelola hubungan baik dengan banyak orang dari berbagai kalangan, baik offline (di dunia nyata) maupun online (di media layar) .

Satu hal yang tidak kalah berdampaknya adalah tentang kemampuan kita untuk mengenali diri kita sendiri, beserta dengan semua kemampuan dan keterbatasannya, untuk kemudian kita bangun narasinya berdasarkan tujuan-tujuan tertentu yang telah kita tetapkan sebelumnya.

Narasi profesional dan kemampuan komunikasi yang dibangun di atas landasan kompetensi, karakter, dan karya yang solid semakin dibutuhkan di masa depan, termasuk ketika kita berencana untuk melakukan Career Switch.

Bagaimana kita membangun narasi yang berpihak pada keuntungan orang lain ketika Rekruter merekrut kita, dan membangun narasi yang bersifat connecting the dots antara kompetensi kita terdahulu dengan kompetensi terbaru kita; dapat menjadi faktor vital yang menentukan sukses (atau gagalnya) eksekusi Career Switch Tipe A yang telah lama kita rencanakan.

 

Pahami “No Pain No Gain. Along With Pains, There’s So Many Gains”

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah: jika Career Switch Tipe A termasuk berisiko tinggi, lalu mengapa masih ada peniti karir yang melakukannya? Lebih jauh lagi: Hasil atau buah manis apakah yang dijanjikan oleh Career Switch Tipe A, yang bermanfaat bagi karir kita?

Buah termanis dari keberhasilan melakukan Career Switch Tipe A adalah:

Kombinasi kompetensi dan kombinasi pengalaman yang berdaya-jual tinggi bagi Rekruter & Decision Maker.

Kombinasi kompetensi adalah kemampuan seorang peniti karir untuk menguasai lebih dari satu Kompetensi Utama, atau penguasaan satu Kompetensi Utama dengan beberapa Kompetensi Pendukung yang solid dan sinergis.

Para Rekruter dan Decision Maker akan semakin membutuhkan banyak peniti karir yang memiliki kombinasi kompetensi. Mengapa demikian? Tidak lain adalah karena semakin tingginya tingkat kompetisi di antara sesama pencari kerja dan sesama peniti karir.

Lebih jauh lagi, persaingannya bahkan bukan dengan sesama manusia saja, tetapi dengan sistem robotik, otomatisasi, teknologi, dan kecerdasan buatan.

Dengan kata lain, kini sudah semakin banyak pencari kerja dan peniti karir yang memiliki satu Kompetensi Utama.

Jika kemudian ada pencari kerja yang memiliki dua kombinasi Kompetensi Utama atau ada tambahan Kompetensi Pendukung-nya, maka dapat dipastikan, mereka yang memiliki satu Kompetensi Utama akan terlihat tidak lagi kompetitif di mata Rekruter & Decision Maker.

Bagaimana caranya agar kita dapat memiliki lebih dari satu Kompetensi Utama, atau memiliki Kompetensi Utama yang diperkuat dengan Kompetensi Pendukung? Hanya ada tiga cara yang terbukti efektif untuk mencapainya, yaitu:

Lalu, apa sajakah poin-poin terpenting yang dapat kita peroleh sebagai nilai jual kita pada Rekruter dan Decision Maker, ketika telah sukses menjalani Career Switch Tipe A?

Ketika kita telah menjalani pekerjaan atau penugasan kita secara 100% berdedikasi, maka akan ada sekitar 20% “saripati” keahlian & pengetahuan yang akan kita dapatkan dari pekerjaan tersebut, yang kemudian dapat menjadi bekal yang berguna bagi tangga karir berikutnya.

20% “saripati” keahlian dan pengetahuan ini disebut sebagai Transferable Skill & Knowledge.

Angka 20% itu sebenarnya bukan sebagai sesuatu yang eksak, melainkan sebagai gambaran, bahwa kita baru bisa benar-benar mendapatkan Transferable Skill & Knowledge, ketika kita menjalani pekerjaan atau penugasan tersebut dengan sepenuh kesungguhan di dalam prakteknya bukan hanya berteori di belakang meja saja.

Contoh: Poppy adalah seorang Electrical Engineer yang telah menjalani karirnya di dunia elektro, lalu melakukan Career Switch ke dunia IT, bagian pemrograman.

Dipandang dari sudut pandang kompetisi dengan para pencari kerja lainnya yang memang benar-benar berlatar belakang IT sejak awal karirnya, secara sekilas, nampaknya Poppy akan kurang kompetitif di keahlian IT-nya.

Namun sebenarnya Poppy memiliki dimensi keahlian dan pengetahuan yang sama sekali tidak dimiliki oleh para pencari kerja lainnya yang berlatar belakang murni IT, yaitu pengetahuan hardware & prinsip kelistrikan. Kita semua tahu bahwa dunia IT tidak dapat lepas dari disiplin kelistrikan dan hardware.

Sehingga ketika Poppy melakukan pemrograman, Poppy dapat menyusun bahasa pemrograman yang benar-benar efisien & efektif bagi setiap jenis hardware yang melekat padanya, berkat pengetahuan dan pengalamannya di dunia elektro dan hardware. Inilah yang disebut sebagai 20% “saripati” Transferable Skill & Knowledge.

Justru karena itulah, seharusnya Poppy dapat lebih mengenali kelebihan dirinya dan dapat membangun narasi yang “lebih menjual” ke hadapan Rekruter & Decision Maker, jika dibandingkan dengan para pencari kerja lainnya yang murni berasal dari dunia IT; karena adanya faktor Transferable Skill & Knowledge tersebut.

Bagi peniti karir yang sempat mengalami Career Switch Tipe A, jangan sampai “patah arang” ketika dianggap “kutu loncat” atau dipandang memiliki "kompetensi yang gak jelas” oleh Rekruter. Bisa jadi, Rekruter sedang menguji kemampuan kita mengenali diri kita.

Bangunlah narasi yang solid, bahwa justru karena kita mengalami Career Switch Tipe A, maka ada nilai tambah yang besar, spesifik, dan kontributif bagi penugasan baru kelak, yang tidak dimiliki oleh para peniti karir lainnya yang tidak mengalaminya.

Transferable Experience adalah pengalaman di industri atau kondisi penugasan tertentu, yang dapat didapatkan dari Career Switch Tipe A atau Tipe B.

Pengalaman itu sendiri sudah sangat berharga. Namun, pengalaman lintas-industri atau lintas-penugasan khusus akan memberikan makna tersendiri pada perjalanan karir kita.

Misalnya: Agatha sudah selama 10 tahun berkarir di industri penerbangan, dan 5 tahun di industri pelayaran. Kemudian Agatha mengalami Career Switch Tipe A ke jenis industri Logistics & Supply Chain Management. 

Ketika di perusahaan barunya, Agatha terbukti dapat menjadi profesional yang efektif dan efisien, terutama jika berurusan dengan regulasi dan regulator. Ini disebabkan karena pengalaman karir sebelumnya di dunia penerbangan dan pelayaran, yaitu jenis industri yang sangat lekat dengan regulasi dan regulator.

Inilah yang disebut sebagai Transferable Experience. Angka persentasenya kurang-lebih mirip dengan Transferable Skill & Knowledge, yang ada di kisaran 20%, dengan asumsi bahwa di perjalanan karir sebelumnya, kita terpapar secara intensif di bidang tersebut dalam durasi waktu yang relatif cukup.

Karena ada sejumlah hal penting dalam karir yang tidak dapat “diakali” atau “dipercepat” perolehannya dengan teknologi, melainkan harus secara langsung dijalani dan ditangani oleh kemampuan manusia dalam durasi waktu tertentu. Inilah yang sebenarnya berharga dari Transferable Experience.

Sehingga jangan sampai kita berpikir bahwa yang paling berharga dari sebuah perjalanan karir adalah semata pada durasinya saja, melainkan pada seberapa intens-nya seseorang tersebut terpapar pada praktek-praktek nyata dalam pekerjaannya, termasuk tantangan, kompleksitas, kegagalan, dan improvement di dalamnya. Dengan segala kualitas tersebut itulah baru dapat ditarik “saripati” dari 20% Transferable Experience yang berharga bagi perjalanan karir berikutnya.

Banyak orang bijak mengatakan bahwa unsur terpenting dalam sebuah bisnis dalam bentuk apapun, adalah People, alias Sumber Daya Manusia. Ini benar adanya.

Zig Ziglar mengatakan bahwa “You don’t build a business. You build people, and then people build your business”.

Dalam setiap langkah karir kita, kita akan bertemu dengan sejumlah orang yang pernah berurusan secara langsung maupun tidak langsung dengan kita, entah sebagai atasan, anak buah, kolega, klien, vendor, dan masih banyak peran lainnya lagi.

Ketika kita berpindah perusahaan, berpindah industri, atau bahkan mengalami Career Switch, siapapun mereka yang pernah berurusan dengan kita, akan menjadi aset berharga bagi perjalanan karir kita.

Namun harus kita akui bersama, bahwa kualitas jaringan pertemanan akan semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya atau semakin peliknya peran profesional kita dalam sebuah industri, dan juga ketika kita memiliki jaringan pertemanan lintas-industri akibat mengalami sendiri Career Switch.

Ketika kita sudah lama di dunia Procurement lalu berpindah ke fungsi Operasional, misalnya, jaringan pertemanan kita ketika masih masih dijalani dengan baik di dunia Procurement, sudah pasti akan membantu kita ketika kita menjalankan fungsi-fungsi Operasional di perusahaan atau jenis industri yang baru.

Tidak seperti Transferable Skill & Knowledge atau Transferable Experience yang kurang-lebih dapat dikuantifikasi dengan persentase, Transferable Network adalah bersifat kualitatif. Semua orang yang pernah melintasi kehidupan maupun perjalanan karir kita, memiliki nilai yang sama tingginya untuk menimbulkan dampak positif bagi karir kita ke depannya.

Itulah sebabnya dalam setiap perjalanan karir kita, berlaku pameo “don’t burn the bridge” alias “jangan membakar jembatan”. Pameo ini dapat diartikan sebagai sikap positif dimana walaupun kita di masa lalu pernah mengalami ketidaksetujuan atau pertentangan dengan orang-orang yang melintasi perjalanan karir kita, sebisa mungkin janganlah merusak hubungan baik & silaturahmi kita bersama mereka yang ada di penghujung perjalanan karir kita saat itu. Ada kemungkinannya saat kita mengalami Career Switch Tipe A yang berpindah jenis industri, kita akan bertemu dan berurusan lagi dengan mereka. We never know.

Faktanya, sejumlah kalangan Top Management direkrut dengan kompensasi bernilai fantastis, karena kualitas, soliditas, dan tingginya value jaringan pertemanan yang telah mereka bangun di kehidupan karir mereka sebelumnya. Mereka direkrut dengan keyakinan bahwa mereka bisa membawa industri tersebut ke tingkatan berikutnya, berkat soliditas hubungan baik mereka dengan banyak Decision Maker dari kehidupan karir mereka sebelumnya.

 

“Top Grade Talent” yang Semakin Dicari di Masa Mendatang

Artikel ini bukanlah untuk mempertentangkan antara pelaku Career Switch-er alias Street Fighter, dengan para peniti karir Silver Spoon-er.

Istilah “peniti karir Silver Spoon” ditujukan bagi mereka yang perjalanan karirnya mulus tanpa cacat, tanpa gejolak, dan “sempurna” bagi Head Hunter atau rekruter yang konservatif. Perjalanan karirnya tampak linear dan selalu naik, baik dari segi tingkat jabatan, peran, maupun kompensasinya.

Sedangkan peniti karir Street Fighter atau Career Switch-er saya bahasakan pada mereka yang mengalami dinamika naik-turun depan-belakang kiri-kanan dalam perjalanan karirnya.

Setiap orang memiliki “garis tangan” dan tujuan hidupnya masing-masing. Tidak ada satu hukum pun yang dapat menyatakan dengan pasti, mana yang lebih baik atau mana yang tidak lebih baik. Baik pembangun karir Street Fighter maupun Silver Spoon, keduanya membutuhkan sejumlah hal di atas rata-rata dalam proses dan perjalanannya.

Tulisan ini bermaksud menekankan bahwa di masa depan, semakin banyak Rekruter dan Decision Maker yang mengalami kesulitan untuk mencari dan menemukan kandidat top grade, khususnya untuk mengisi jajaran Top Management. Nah, maksudnya “top grade” itu seperti apa?

Salah satu kriteria kandidat agar disebut sebagai top grade adalah bukan sekedar memiliki kompetensi di bidang tertentu, tetapi juga memiliki kombinasi kompetensi di lebih dari satu aspek, beserta tiga poin Transferable Attributes yang solid.

Jadi, di masa depan, tantangan utama para pencari kerja dan peniti karir adalah karena kata kunci utama dalam proses rekrutmen perusahaan-perusahaan ternama bukanlah lagi semata pada “kompetensi” atau “karakter”, melainkan “kombinasi kompetensi dan kombinasi karakter” yang akan menjadi daya jual terkuat seorang kandidat. 

Artikel ini jelas bertujuan untuk lebih membuka wawasan bagi kita semua bahwa, peniti karir terbaik tidak dapat semata-mata hanya dipandang berdasarkan tingkat kemulusan perjalanan karirnya bak Silver Spoon, melainkan juga pada seberapa besar dan beragamnya Transferable Skill & Knowledge, Transferable Experience, dan Transferable Network yang dapat mereka bawa bagi penempatan atau penugasan terbaru mereka.

Dengan demikian, Career Switch, bahkan yang Tipe A sekalipun, seharusnya sudah bukan lagi menjadi suatu hal yang membingungkan atau menakutkan para peniti karir. Ada sejumlah kekuatan dan daya jual yang dapat kita peroleh dari Career Switch Tipe A, yang kelak dapat kita “jual” pada Rekruter dan Decision Maker.

Karena tidak ada yang lebih berkekuatan besar, daripada seorang peniti karir yang mampu membangun narasi karirnya dengan baik di hadapan Rekruter dan Decision Maker, di atas fondasi Transferable Skill & Knowledge, Transferable Experience, dan Transferable Network yang solid dan telah teruji dengan waktu beserta semua dinamikanya.

cta

 

Management

Career Switch: Fase Karir Paling Mendebarkan

December 30, 2019

Cukup banyak peniti karir yang merasakan kejenuhan akut dalam menjalani karirnya. Bukan semata jenuh dengan suasana kantornya atau dengan rekan kerjanya, melainkan juga jenuh dengan perjalanan karirnya secara menyeluruh.

Kejenuhan tersebut bisa terjadi karena berbagai sebab. Sebab yang paling umum terjadi adalah peniti karir tidak lagi menemukan tantangan berarti pada pekerjaan yang sehari-harinya mereka jalani, sehingga minim atau tidak ada lagi ruang untuk mengembangkan dirinya.

Segalanya menjadi terlalu mudah untuk dilakukan, dan apa yang ada di depan mata menjadi terlalu mudah untuk diprediksi. Potensinya semakin stagnan atau merendah, sementara tantangannya terlalu mudah untuk ditaklukkan.

Sepintas, kejenuhan karir semacam ini tampak mengherankan bagi sejumlah kalangan yang dapat menikmati stabilitas karirnya selama beberapa dekade hingga pensiun di satu nama perusahaan. Bagi individu dengan karakter yang lebih “cinta damai”, “cinta hal tak beresiko”, dan “cinta stabilitas”; kejenuhan karir semacam ini jarang sekali menghampirinya. Apabila terjadi, mereka umumnya dapat menepisnya dengan mudah, dan kembali menjalani kesehariannya dengan aman, damai, sentosa.

Namun bagi para individu yang dinamis dan menyukai tantangan dari berbagai hal baru, karir dipandang sebagai wahana untuk terus mengembangkan dirinya, mencapai hal-hal baru yang tadinya masih belum tercapai, dan menganggap karir sebagai ajang inovasi pribadi maupun ajang penciptaan berbagai dampak sosial yang positif.

Para pribadi semacam ini butuh faktor “WHY” yang kuat dalam menjalani keseharian karirnya, seperti yang Simon Sinek paparkan dengan mendetail di buku karyanya berjudul “Start With Why”.

Ketika kita telah kehilangan “why” dalam menjalani keseharian karir kita, maka disaat itulah momen-momen kejenuhan akan mulai melanda. Apalagi jika ditambah dengan semakin tingginya kompetensi yang kita dapatkan dari proses pengembangan diri sendiri secara mandiri, namun tantangan tugas dari pekerjaan yang kita jalani selama ini tidak berkembang.

Di saat seperti inilah, umumnya para peniti karir mulai memikirkan untuk melakukan Career Switch. Di dunia fotografi, momen genting semacam ini disebut sebagai The Decisive Moment. Jika eksekusi dilakukan dengan benar, The Decisive Moment bisa menjadi batu loncatan sekaligus leverage bagi karir kita. Namun jika eksekusinya tidak dilakukan secara tepat, dampak yang dihasilkan dapat menjadi fatal.

Baca Juga : Mau Mengubah Karir di Usia 30-an? Coba Simak Ini Dulu

Apakah itu Career Switch dan bagaimana detail teknisnya? Marilah kita ulas satu-persatu.

 

Perbedaan “Job” Dengan “Career

Sedari awal, kita patut menyepakati bahwa ada perbedaan mendasar antara definisi “Job” alias “Pekerjaan”, dengan definisi “Career” alias “Karir”. Berikut ini adalah tabel perbedaan diantara keduanya.

Karir (Career) Pekerjaan (Job)
Ditemukan & didefinisikan oleh diri kita sendiri terlebih dahulu, melalui penetapan visi atau purpose hidup secara jangka panjang, dan faktor WHY. Diberikan oleh pihak lain yang mempercayakan penugasan pekerjaan tersebut pada kita.

Kita secara personal terlebih dahulu mendefinisikan tujuan utama sebelum melakukan suatu perjalanan. 

Kita telah menetapkan suatu tujuan karir, namun dapat menempuh atau mencapainya dengan moda transportasi atau rute yang berbeda-beda.

Lebih bersifat strategis.

Lebih bersifat taktis.

Ibarat membeli puzzle dalam kondisi baru, maka kita akan melihat gambaran akhirnya terlebih dahulu.

Ibarat membeli puzzle untuk dinikmati. Setelah melihat gambaran akhirnya, puzzle tersebut akan kita acak dan susun-ulang, sehingga sesuai dengan gambaran akhirnya.
Menentukan jati diri kita secara menyeluruh, yang melekat pada diri kita selama kita hidup. Menentukan identitas profesi kita pada suatu waktu, ruang, dan kondisi tertentu.

Jati diri kita akan terus melekat, tanpa peduli apa pun pekerjaan, posisi, atau jabatan yang sedang kita emban.

Identitas profesi akan melekat pada diri kita sejauh adanya pihak pemberi pekerjaan yang mempercayakan suatu hal pada kita.
Membutuhkan passion, karakter, konsistensi, dan kecintaan mendalam akan bidang yang kita jalani, dalam jangka panjang. Mengutamakan kepemilikan kompetensi teknis kita akan suatu persyaratan pekerjaan. Terpenting adalah kita dapat menghasilkan pencapaian tertentu berdasarkan target pekerjaan.
Istilah lengkapnya: pembangun karir atau peniti karir. Istilah lengkapnya: pencari pekerjaan, profesional, atau pekerja.

 

Setelah memahami secara lebih jelas dalam melihat perbedaan antara “Karir” dengan “Pekerjaan”, maka kita akan sepakat bahwa yang akan selanjutnya kita bicarakan adalah tentang Career Switch, alias perpindahan jalur karir. Bukan “Job Switch” atau perpindahan pekerjaan.

Untuk dapat menyikapinya secara lebih tepat dan terfokus, saya pribadi membagi pemahaman Career Switch dalam definisi Tipe A dan Tipe B.

Perlu kita pahami bersama, ini adalah pembagian dari saya pribadi, demi mempermudah pemahaman isi artikel ini. Saya menghormati perbedaan pendapat maupun perbedaan definisi tentang topik ini di luar sana, dan artikel ini saya susun bukan untuk mempertentangkan opini maupun definisinya, melainkan untuk saling melengkapi, demi pemahaman kita semua.
 

Career Switch Tipe A

Ini adalah Career Switch dengan tingkat tantangan paling besar yang harus dihadapi peniti karir. Dalam kejadian Career Switch Tipe A, seorang peniti karir bisa saja menghadapi minimal tiga, empat, atau bahkan lima jenis pergantian ini secara bersamaan:

 

Career Switch Tipe B

Secara prinsip, Career Switch Tipe B merupakan seorang peniti karir yang mengalami apa yang dialami Career Switch Tipe A, namun hanya terjadi pada satu atau dua variabel pergantian saja. 

Tipe seperti ini umumnya banyak terjadi di BUMN atau Multi-National Company terkenal dengan skala organisasi besar. Seseorang bisa saja berkarir selama belasan atau puluhan tahun di satu perusahaan, dan mengalami beberapa kali mutasi departemen atau rotasi jabatan. Dalam pandangan saya pribadi, ini belum dapat dikategorikan sebagai Career Switch Tipe A, melainkan Career Switch Tipe B.

Contoh lain dari Career Switch Tipe B adalah seseorang yang selama belasan atau puluhan tahun ada di dunia Finance, namun berganti-ganti jenis industri. Hingga umur pensiunnya, dia tetap berada di dunia Finance, namun terpapar di berbagai jenis industri berbeda.

Berdasarkan kedua tipe Career Switch ini, kita sepakati bersama bahwa kita hanya akan membicarakan Career Switch Tipe A. Mengapa demikian? Karena di masa depan yang semakin tidak menentu namun juga sekaligus semakin sarat dengan berbagai peluang karir dan jenis pekerjaan baru, diprediksi akan semakin banyak peniti karir yang mengalami Career Switch Tipe A.

Beberapa sebab umum terjadinya Career Switch Tipe A pada seorang peniti karir:

 

Apa Saja Yang Dibutuhkan Sebagai Prasyarat Terjadinya Career Switch Tipe A?

Profil karir saya pribadi tidaklah mulus dan tidaklah sempurna, terutama di hadapan Rekruter konservatif. Salah satu sebabnya adalah karena saya telah mengalami dua kali Career Switch, yaitu Career Switch Tipe B ketika saya berpindah dari dunia Training ke dunia Media Cetak atau Jurnalistik, dan Career Switch Tipe A ketika saya berpindah dari dunia Media atau Jurnalistik ke dunia HR.

Oleh karena itu, artikel ini banyak diinspirasikan dari pengalaman saya pribadi dan juga pengalaman nyata para profesional dari berbagai latar belakang akademik, latar belakang profesi, maupun profil karir, yang telah berhasil atau sedang dalam proses menjalani Career Switch.

Cukup banyak peniti karir yang bertanya pada saya, bagaimana caranya agar kita bisa mulus menjalani Career Switch Tipe A. Satu hal yang umumnya saya temui adalah saya tidak pernah atau belum pernah bertemu dengan peniti karir yang benar-benar mulus tanpa gejolak sedikit pun, mengalami Career Switch Tipe A.

Kita semua paham bahwa Career Switch Tipe A adalah dinamika karir yang berisiko tinggi, dan oleh karenanya tidak saya anjurkan untuk dilakukan tanpa analisa mendalam dan persiapan yang memadai.

Berikut ini adalah delapan pra-kondisi yang sangat saya sarankan agar kita analisa secara mendalam terlebih dahulu, agar kita dapat sukses melakukan Career Switch Tipe A dengan seminim mungkin resiko.
 

Bagi orang Indonesia yang masih memegang teguh nilai-nilai kekeluargaan, urusan restu dari keluarga dan orangtua seringkali menjadi penentu yang cukup vital dalam perjalanan karir seseorang.

Mayoritas orang Indonesia masih sangat percaya bahwa betapapun orangtua bukanlah pihak yang paling tahu segalanya tentang kondisi ketenagakerjaan di era teknologi ini, namun kata-kata dan keinginan mereka wajib dituruti dan dijadikan prioritas pertama dalam berbagai keputusan karir mereka.

Pameo ini berlaku di semua tingkatan umur, baik peniti karir yang senior maupun yang Fresh Graduate. Semuanya masih berpegang teguh pada sabda orangtua dan keluarga sebagai yang paling pertama harus dituruti, demi kelancaran karir.

Dengan kata lain, jika keinginan kita untuk melakukan Career Switch tidak direstui oleh satupun anggota keluarga, saya tidak menyarankan Anda untuk nekat melakukannya. Kecuali kita sudah benar-benar siap lahir, batin, dan finansial untuk menanggung berbagai dinamika dan konsekuensi yang timbul setelahnya.

career switch

Ada pameo sekaligus realitas hidup yang menganggap bahwa sesungguhnya mayoritas keputusan karir kita sangat dipengaruhi oleh angka-angka di rekening kita.

Sejumlah peniti karir memilih untuk tetap bertahan di perusahaannya saat ini, betapa meskipun suasana kerjanya sudah tidak nyaman lagi, karena begitu besarnya nilai kebutuhan bulanan yang harus ditanggungnya.

Saya menerima cukup banyak permintaan nasihat karir yang sejak awal pembicaraan, sudah terasa janggal. Di satu sisi, sang peniti karir begitu ingin resign dari kantornya saat ini. Tapi disisi lain, perilaku dan kata-katanya hanya semata menyudutkan perusahaan dan lingkungan sekitarnya.

Lalu saya pertanyakan lagi padanya: Lalu apa susahnya jika Anda resign? Memang dimana permasalahnya? Bukankah masalah di perusahaan tersebut memang lebih besar daripada masalah ketika Anda memutuskan resign?

Lalu saya ajukan pertanyaan terakhir sebagai “peluru terakhir”: Banyak cicilan ya?

Segera di jawabnya: Iya, Betul Pak

Dengan kata lain, sejumlah peniti karir mengeluhkan tentang perusahaan tempatnya bekerja, sebenarnya bukan karena masalahnya itu sendiri, tapi karena dirinya yang tak kuasa resign dari situ karena terlalu besarnya nilai cicilan atau kebutuhan per bulan yang harus ditanggungnya, namun kompetensi dan jaringan pertemanannya tidak memungkinkan dirinya untuk segera resign dari situ dengan aman dan tanpa gejolak.

Sebaliknya, siapa pun yang dapat mengelola aspek finansialnya dengan baik semasa masih bekerja, biasanya dapat mengambil keputusan karir yang cukup berani, tanpa harus bertanya sana-sini, tanpa harus curhat sana-sini, tanpa harus baper sana-sini.

Termasuk dalam memutuskan Career Switch.

Sebagai patokan secara umum, jika kita berencana untuk melakukan Career Switch Tipe A, ada baiknya isi rekening tabungan kita cukup aman untuk menanggung kehidupan normal kita sekeluarga tanpa penghasilan tetap selama setidaknya 6 bulan.

Sejumlah kondisi internal, kondisi domestik, atau kondisi kehidupan pribadinya; dapat menjadi pendukung atau penghalang terjadinya Career Switch Tipe A. Kenalilah benar-benar terlebih dahulu apa saja poin plus dan minus dalam kehidupan pribadi kita, yang sekiranya akan terkait dengan perubahan besar dalam karir kita.

Saya bukanlah penganut pemisahan tegas antara kehidupan pribadi dengan kehidupan karir. Kehidupan karir kita sangat terpengaruh dari kehidupan pribadi kita, dan sebaliknya. Ini kita sebut sebagai Work-Life Integration. Hal ini termasuk dalam hal nilai-nilai pribadi yang kita anut atau yakini, yang dapat bermuara dari agama atau kepercayaan yang kita anut selama ini. Contoh: seseorang memutuskan untuk melakukan “hijrah karir” dari dunia yang selama ini dipandang sebagai sumber riba, ke bidang pekerjaan lain yang diyakini tidak terkait dengan riba.

Melakukan Career Switch tipe apa pun di kota besar, tidaklah sama dengan proses karir di kota kecil.

Dengan kesempatan kerja di kota kecil atau di daerah yang terkenal tidak sebesar dan tidak seberagam apa yang kita dapatkan di kota besar atau Ibukota, sudah pasti, langkah dan keputusan karir apa pun yang kita ambil, harus jauh lebih hati-hati dan harus lebih matang perencanaannya. Tidak bisa begitu saja “just do it” tanpa pertimbangan mendalam akan detail-detail eksekusinya maupun pengelolaan risikonya. 

career switch

Sebelum memutuskan untuk melakukan Career Switch Tipe A, kita harus secara teliti menilik terlebih dahulu apa saja Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang telah kita miliki saat ini.

Jangan lupa, cek juga apa Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang selama ini telah kita pelajari atau alami sendiri, terkait dengan bidang baru yang menjadi tujuan Career Switch kita. Ini adalah variabel yang sama vitalnya dengan Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang telah kita miliki selama ini. Ini bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Jangan sampai kita mengalami bencana karir hanya karena tidak memiliki Kompetensi Utama, Kompetensi Pendukung, dan Passion yang menjadi tujuan Career Switch yang kita putuskan.

Maka dari itu, mayoritas peniti karir melakukan Career Switch Tipe A ke bidang profesi yang masih ada kaitan atau masih ada irisan kompetensinya dengan bidang profesi yang selama ini mereka jalani. Contohnya: dari dunia Sales ke dunia Operasional, atau dari dunia Warehouse ke dunia Procurement.

Seorang peniti karir tidak dapat begitu saja melakukan Career Switch Tipe A hanya dengan berbekal “saya maunya begitu” atau “saya pengennya begini”. Para Rekruter, Decision Maker, dan pemberi pekerjaan hanya akan memberikan pekerjaan itu pada kita, ketika mereka yakin bahwa kita memang benar-benar memiliki kompetensinya.

Dalam perjalanan kehidupan dan karir kita, seringkali faktor “koneksi” memiliki peranan sangat penting sebagai penentu arah karir kita.

Ada sejumlah peniti karir yang cukup beruntung karena betapa pun mereka tidak benar-benar merencanakan terjadinya Career Switch Tipe A, namun mereka mengalaminya karena adanya Decision Maker atau Rekruter yang mempercayakan suatu posisi atau fungsi profesi tertentu pada mereka, betapa pun latar belakang akademik, profesi, maupun profil karir mereka tidak terlalu “nyambung” dengan penugasan baru yang diberikan atasnya.

Termasuk saya pribadi, yang berhasil melakukan Career Switch Tipe A ke dunia HR, berkat restu dari Rekruter saya saat itu terjadi. Di waktu tersebut, ada kekosongan jabatan HR Manager yang baru saja resign, dan Rekruter tersebut agak enggan merekrut HR Manager dari eksternal karena faktor efisiensi biaya dan urgensi lain.

Saat itu, saya adalah yang paling siap untuk mengemban jabatan HR Head, walaupun selama ini saya belum pernah menyandangnya. Untungnya, sejak awal karir, saya telah melakukan banyak hal yang berhubungan dengan Training & People Development, sehingga tidak terlalu “kaget” ketika harus mengemban tugas sebagai HR Head dengan segudang fungsinya sebagai Generalist.

Ketika “rejeki” seperti ini terjadi pada karir kita, yakinkanlah selalu bahwa kita memiliki dedikasi luar biasa akan proses pengembangan diri kita sendiri, terutama yang terkait dengan bidang profesi & dan karir baru yang kita jalani. Ketika ada seseorang yang berkuasa dan berwenang mempercayakan suatu fungsi pekerjaan pada kita di saat kita belum memiliki kompetensinya secara utuh, yakinkanlah Rekruter tersebut bahwa kita rela melakukan apa pun yang diperlukan demi menjaga kepercayaannya.

Karena sangat besar kemungkinannya, apa yang kita perjuangkan saat itu, menjadi bekal terpenting pada perjalanan karir kita berikutnya di perusahaan lain atau di penugasan lain.

Di jaman serba teknologi dan serba terkoneksi ini, semakin “aneh” jika kita menjadi peniti karir yang sama sekali tidak terdeteksi oleh mesin pencari Google atau media sosial, khususnya LinkedIn.

Bahkan bagi generasi yang lebih tua sekalipun, mereka telah menyadari pentingnya teknologi komunikasi dan media sosial sebagai leverage bagi perjalanan karir maupun bagi Career Switch yang mereka lakukan. Terlebih lagi bagi kita yang termasuk dalam generasi muda, memiliki Personal Brand dan eksistensi diri secara positif di jagat media sosial, telah menjadi suatu hal yang esensi fungsionalnya dan dampaknya tak terbantahkan lagi.

Selama kita bukan bekerja sebagai agen intelijen yang mengharuskan kita sangat tersembunyi dari paparan informasi, maka Career Switch Tipe A dapat terjadi dengan bantuan media sosial.

Contoh: Selama ini, Bimo dikenal sebagai pilot pesawat komersial. Namun sebenarnya Bimo ingin juga dikenal sebagai koki yang handal, dan sanggup menciptakan masakan-masakan hebat yang memukau lidah sesama koki profesional.

Oleh karena itu, Bimo intensif mempergunakan media sosial semisal Instagram, YouTube, Facebook, atau LinkedIn; untuk secara konsisten menampilkan dirinya sebagai koki profesional, bukan sebagai pilot pesawat komersial.

Sehingga suatu saat karirnya berakhir dengan pensiun sebagai pilot pesawat komersial, Bimo dapat mengisi masa tuanya dengan menjadi koki di restoran miliknya sendiri. Berkat komunikasi publik yang selama ini dilakukannya secara intens, restoran milik Bimo telah menikmati stabilitas operasional dan stabilitas penghasilan, ketika dirinya fokus secara purna-waktu di restorannya.

Dari contoh di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa jika kita telah merencanakan Career Switch Tipe A dengan matang dari jauh hari dan kita memang memiliki kompetensi di bidang profesi yang menjadi tujuan karir kita selanjutnya, maka langkah selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah membangun Personal Brand dan melakukan proses komunikasi publik yang konsisten dan intensif, terkait dengan kompetensi yang ingin kita tampilkan tersebut. Kita ingin dikenal banyak orang sebagai orang yang bisa apa, itulah yang terus-menerus kita tampilkan ke publik.

Bukannya mustahil, suatu saat ada Rekruter atau Decision Maker yang melihat aktivitas positif kita tersebut di media sosial dan ruang publik, dan memutuskan untuk menugaskan kita di bidang profesi atau profil karir yang selama ini menjadi idaman kita.

Jangan lupa satu hal penting lainnya adalah Sosial Capital atau aset sosial kita, yang terbukti dapat menjadi nilai plus atau bahkan bargaining value kita di hadapan Rekruter. Dengan social presence yang baik dan berkualitas, kita telah sukses memberikan gambaran pada orang lain bahwa kita adalah pribadi yang terampil membangun dan mengelola hubungan baik dengan banyak orang dari berbagai kalangan, baik offline (di dunia nyata) maupun online (di media layar) .

Satu hal yang tidak kalah berdampaknya adalah tentang kemampuan kita untuk mengenali diri kita sendiri, beserta dengan semua kemampuan dan keterbatasannya, untuk kemudian kita bangun narasinya berdasarkan tujuan-tujuan tertentu yang telah kita tetapkan sebelumnya.

Narasi profesional dan kemampuan komunikasi yang dibangun di atas landasan kompetensi, karakter, dan karya yang solid semakin dibutuhkan di masa depan, termasuk ketika kita berencana untuk melakukan Career Switch.

Bagaimana kita membangun narasi yang berpihak pada keuntungan orang lain ketika Rekruter merekrut kita, dan membangun narasi yang bersifat connecting the dots antara kompetensi kita terdahulu dengan kompetensi terbaru kita; dapat menjadi faktor vital yang menentukan sukses (atau gagalnya) eksekusi Career Switch Tipe A yang telah lama kita rencanakan.

 

Pahami “No Pain No Gain. Along With Pains, There’s So Many Gains”

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah: jika Career Switch Tipe A termasuk berisiko tinggi, lalu mengapa masih ada peniti karir yang melakukannya? Lebih jauh lagi: Hasil atau buah manis apakah yang dijanjikan oleh Career Switch Tipe A, yang bermanfaat bagi karir kita?

Buah termanis dari keberhasilan melakukan Career Switch Tipe A adalah:

Kombinasi kompetensi dan kombinasi pengalaman yang berdaya-jual tinggi bagi Rekruter & Decision Maker.

Kombinasi kompetensi adalah kemampuan seorang peniti karir untuk menguasai lebih dari satu Kompetensi Utama, atau penguasaan satu Kompetensi Utama dengan beberapa Kompetensi Pendukung yang solid dan sinergis.

Para Rekruter dan Decision Maker akan semakin membutuhkan banyak peniti karir yang memiliki kombinasi kompetensi. Mengapa demikian? Tidak lain adalah karena semakin tingginya tingkat kompetisi di antara sesama pencari kerja dan sesama peniti karir.

Lebih jauh lagi, persaingannya bahkan bukan dengan sesama manusia saja, tetapi dengan sistem robotik, otomatisasi, teknologi, dan kecerdasan buatan.

Dengan kata lain, kini sudah semakin banyak pencari kerja dan peniti karir yang memiliki satu Kompetensi Utama.

Jika kemudian ada pencari kerja yang memiliki dua kombinasi Kompetensi Utama atau ada tambahan Kompetensi Pendukung-nya, maka dapat dipastikan, mereka yang memiliki satu Kompetensi Utama akan terlihat tidak lagi kompetitif di mata Rekruter & Decision Maker.

Bagaimana caranya agar kita dapat memiliki lebih dari satu Kompetensi Utama, atau memiliki Kompetensi Utama yang diperkuat dengan Kompetensi Pendukung? Hanya ada tiga cara yang terbukti efektif untuk mencapainya, yaitu:

Lalu, apa sajakah poin-poin terpenting yang dapat kita peroleh sebagai nilai jual kita pada Rekruter dan Decision Maker, ketika telah sukses menjalani Career Switch Tipe A?

Ketika kita telah menjalani pekerjaan atau penugasan kita secara 100% berdedikasi, maka akan ada sekitar 20% “saripati” keahlian & pengetahuan yang akan kita dapatkan dari pekerjaan tersebut, yang kemudian dapat menjadi bekal yang berguna bagi tangga karir berikutnya.

20% “saripati” keahlian dan pengetahuan ini disebut sebagai Transferable Skill & Knowledge.

Angka 20% itu sebenarnya bukan sebagai sesuatu yang eksak, melainkan sebagai gambaran, bahwa kita baru bisa benar-benar mendapatkan Transferable Skill & Knowledge, ketika kita menjalani pekerjaan atau penugasan tersebut dengan sepenuh kesungguhan di dalam prakteknya bukan hanya berteori di belakang meja saja.

Contoh: Poppy adalah seorang Electrical Engineer yang telah menjalani karirnya di dunia elektro, lalu melakukan Career Switch ke dunia IT, bagian pemrograman.

Dipandang dari sudut pandang kompetisi dengan para pencari kerja lainnya yang memang benar-benar berlatar belakang IT sejak awal karirnya, secara sekilas, nampaknya Poppy akan kurang kompetitif di keahlian IT-nya.

Namun sebenarnya Poppy memiliki dimensi keahlian dan pengetahuan yang sama sekali tidak dimiliki oleh para pencari kerja lainnya yang berlatar belakang murni IT, yaitu pengetahuan hardware & prinsip kelistrikan. Kita semua tahu bahwa dunia IT tidak dapat lepas dari disiplin kelistrikan dan hardware.

Sehingga ketika Poppy melakukan pemrograman, Poppy dapat menyusun bahasa pemrograman yang benar-benar efisien & efektif bagi setiap jenis hardware yang melekat padanya, berkat pengetahuan dan pengalamannya di dunia elektro dan hardware. Inilah yang disebut sebagai 20% “saripati” Transferable Skill & Knowledge.

Justru karena itulah, seharusnya Poppy dapat lebih mengenali kelebihan dirinya dan dapat membangun narasi yang “lebih menjual” ke hadapan Rekruter & Decision Maker, jika dibandingkan dengan para pencari kerja lainnya yang murni berasal dari dunia IT; karena adanya faktor Transferable Skill & Knowledge tersebut.

Bagi peniti karir yang sempat mengalami Career Switch Tipe A, jangan sampai “patah arang” ketika dianggap “kutu loncat” atau dipandang memiliki "kompetensi yang gak jelas” oleh Rekruter. Bisa jadi, Rekruter sedang menguji kemampuan kita mengenali diri kita.

Bangunlah narasi yang solid, bahwa justru karena kita mengalami Career Switch Tipe A, maka ada nilai tambah yang besar, spesifik, dan kontributif bagi penugasan baru kelak, yang tidak dimiliki oleh para peniti karir lainnya yang tidak mengalaminya.

Transferable Experience adalah pengalaman di industri atau kondisi penugasan tertentu, yang dapat didapatkan dari Career Switch Tipe A atau Tipe B.

Pengalaman itu sendiri sudah sangat berharga. Namun, pengalaman lintas-industri atau lintas-penugasan khusus akan memberikan makna tersendiri pada perjalanan karir kita.

Misalnya: Agatha sudah selama 10 tahun berkarir di industri penerbangan, dan 5 tahun di industri pelayaran. Kemudian Agatha mengalami Career Switch Tipe A ke jenis industri Logistics & Supply Chain Management. 

Ketika di perusahaan barunya, Agatha terbukti dapat menjadi profesional yang efektif dan efisien, terutama jika berurusan dengan regulasi dan regulator. Ini disebabkan karena pengalaman karir sebelumnya di dunia penerbangan dan pelayaran, yaitu jenis industri yang sangat lekat dengan regulasi dan regulator.

Inilah yang disebut sebagai Transferable Experience. Angka persentasenya kurang-lebih mirip dengan Transferable Skill & Knowledge, yang ada di kisaran 20%, dengan asumsi bahwa di perjalanan karir sebelumnya, kita terpapar secara intensif di bidang tersebut dalam durasi waktu yang relatif cukup.

Karena ada sejumlah hal penting dalam karir yang tidak dapat “diakali” atau “dipercepat” perolehannya dengan teknologi, melainkan harus secara langsung dijalani dan ditangani oleh kemampuan manusia dalam durasi waktu tertentu. Inilah yang sebenarnya berharga dari Transferable Experience.

Sehingga jangan sampai kita berpikir bahwa yang paling berharga dari sebuah perjalanan karir adalah semata pada durasinya saja, melainkan pada seberapa intens-nya seseorang tersebut terpapar pada praktek-praktek nyata dalam pekerjaannya, termasuk tantangan, kompleksitas, kegagalan, dan improvement di dalamnya. Dengan segala kualitas tersebut itulah baru dapat ditarik “saripati” dari 20% Transferable Experience yang berharga bagi perjalanan karir berikutnya.

Banyak orang bijak mengatakan bahwa unsur terpenting dalam sebuah bisnis dalam bentuk apapun, adalah People, alias Sumber Daya Manusia. Ini benar adanya.

Zig Ziglar mengatakan bahwa “You don’t build a business. You build people, and then people build your business”.

Dalam setiap langkah karir kita, kita akan bertemu dengan sejumlah orang yang pernah berurusan secara langsung maupun tidak langsung dengan kita, entah sebagai atasan, anak buah, kolega, klien, vendor, dan masih banyak peran lainnya lagi.

Ketika kita berpindah perusahaan, berpindah industri, atau bahkan mengalami Career Switch, siapapun mereka yang pernah berurusan dengan kita, akan menjadi aset berharga bagi perjalanan karir kita.

Namun harus kita akui bersama, bahwa kualitas jaringan pertemanan akan semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya atau semakin peliknya peran profesional kita dalam sebuah industri, dan juga ketika kita memiliki jaringan pertemanan lintas-industri akibat mengalami sendiri Career Switch.

Ketika kita sudah lama di dunia Procurement lalu berpindah ke fungsi Operasional, misalnya, jaringan pertemanan kita ketika masih masih dijalani dengan baik di dunia Procurement, sudah pasti akan membantu kita ketika kita menjalankan fungsi-fungsi Operasional di perusahaan atau jenis industri yang baru.

Tidak seperti Transferable Skill & Knowledge atau Transferable Experience yang kurang-lebih dapat dikuantifikasi dengan persentase, Transferable Network adalah bersifat kualitatif. Semua orang yang pernah melintasi kehidupan maupun perjalanan karir kita, memiliki nilai yang sama tingginya untuk menimbulkan dampak positif bagi karir kita ke depannya.

Itulah sebabnya dalam setiap perjalanan karir kita, berlaku pameo “don’t burn the bridge” alias “jangan membakar jembatan”. Pameo ini dapat diartikan sebagai sikap positif dimana walaupun kita di masa lalu pernah mengalami ketidaksetujuan atau pertentangan dengan orang-orang yang melintasi perjalanan karir kita, sebisa mungkin janganlah merusak hubungan baik & silaturahmi kita bersama mereka yang ada di penghujung perjalanan karir kita saat itu. Ada kemungkinannya saat kita mengalami Career Switch Tipe A yang berpindah jenis industri, kita akan bertemu dan berurusan lagi dengan mereka. We never know.

Faktanya, sejumlah kalangan Top Management direkrut dengan kompensasi bernilai fantastis, karena kualitas, soliditas, dan tingginya value jaringan pertemanan yang telah mereka bangun di kehidupan karir mereka sebelumnya. Mereka direkrut dengan keyakinan bahwa mereka bisa membawa industri tersebut ke tingkatan berikutnya, berkat soliditas hubungan baik mereka dengan banyak Decision Maker dari kehidupan karir mereka sebelumnya.

 

“Top Grade Talent” yang Semakin Dicari di Masa Mendatang

Artikel ini bukanlah untuk mempertentangkan antara pelaku Career Switch-er alias Street Fighter, dengan para peniti karir Silver Spoon-er.

Istilah “peniti karir Silver Spoon” ditujukan bagi mereka yang perjalanan karirnya mulus tanpa cacat, tanpa gejolak, dan “sempurna” bagi Head Hunter atau rekruter yang konservatif. Perjalanan karirnya tampak linear dan selalu naik, baik dari segi tingkat jabatan, peran, maupun kompensasinya.

Sedangkan peniti karir Street Fighter atau Career Switch-er saya bahasakan pada mereka yang mengalami dinamika naik-turun depan-belakang kiri-kanan dalam perjalanan karirnya.

Setiap orang memiliki “garis tangan” dan tujuan hidupnya masing-masing. Tidak ada satu hukum pun yang dapat menyatakan dengan pasti, mana yang lebih baik atau mana yang tidak lebih baik. Baik pembangun karir Street Fighter maupun Silver Spoon, keduanya membutuhkan sejumlah hal di atas rata-rata dalam proses dan perjalanannya.

Tulisan ini bermaksud menekankan bahwa di masa depan, semakin banyak Rekruter dan Decision Maker yang mengalami kesulitan untuk mencari dan menemukan kandidat top grade, khususnya untuk mengisi jajaran Top Management. Nah, maksudnya “top grade” itu seperti apa?

Salah satu kriteria kandidat agar disebut sebagai top grade adalah bukan sekedar memiliki kompetensi di bidang tertentu, tetapi juga memiliki kombinasi kompetensi di lebih dari satu aspek, beserta tiga poin Transferable Attributes yang solid.

Jadi, di masa depan, tantangan utama para pencari kerja dan peniti karir adalah karena kata kunci utama dalam proses rekrutmen perusahaan-perusahaan ternama bukanlah lagi semata pada “kompetensi” atau “karakter”, melainkan “kombinasi kompetensi dan kombinasi karakter” yang akan menjadi daya jual terkuat seorang kandidat. 

Artikel ini jelas bertujuan untuk lebih membuka wawasan bagi kita semua bahwa, peniti karir terbaik tidak dapat semata-mata hanya dipandang berdasarkan tingkat kemulusan perjalanan karirnya bak Silver Spoon, melainkan juga pada seberapa besar dan beragamnya Transferable Skill & Knowledge, Transferable Experience, dan Transferable Network yang dapat mereka bawa bagi penempatan atau penugasan terbaru mereka.

Dengan demikian, Career Switch, bahkan yang Tipe A sekalipun, seharusnya sudah bukan lagi menjadi suatu hal yang membingungkan atau menakutkan para peniti karir. Ada sejumlah kekuatan dan daya jual yang dapat kita peroleh dari Career Switch Tipe A, yang kelak dapat kita “jual” pada Rekruter dan Decision Maker.

Karena tidak ada yang lebih berkekuatan besar, daripada seorang peniti karir yang mampu membangun narasi karirnya dengan baik di hadapan Rekruter dan Decision Maker, di atas fondasi Transferable Skill & Knowledge, Transferable Experience, dan Transferable Network yang solid dan telah teruji dengan waktu beserta semua dinamikanya.

cta

 

Categories

Tags