Skip to main content
Kalibrr Communities June 2019
Indonesia Success Story

Kalibrr Communities 2019: Rahasia Dibalik Kesuksesan Perekrutan Talenta Digital Masa Kini

By Diah Wahyu Asih on June 19, 2019

Pada Kamis 13 Juni 2019, Kalibrr Indonesia kembali menyelenggarakan Kalibrr Communities untuk keempat kalinya. Kalibrr Communities merupakan sebuah acara leadership dan networking yang dikhususkan untuk para praktisi Human Resource di Jakarta. Mengusung tema “First Steps for Enterprises to Recruit Digital Talent”, Kalibrr mengundang Pradana Saktya Adi selaku Head of Tech Human Capital Trans Digital dan Anung Anindita selaku Senior Vice President of Human Resources PT. Pegadaian. Melalui tema tersebut, Kalibrr berharap dapat membantu para praktisi HR untuk menemukan kiat-kiat dalam merekrut talenta digital masa kini.

Walaupun mengusung tema talenta digital, Kalibrr Communities tidak hanya dihadiri oleh perwakilan HR dari perusahaan digital saja. Sejumlah perusahaan ternama seperti PT. Unilever Indonesia yang berbasis FMCG serta PT. Trakindo Utama yang berfokus di bidang konstruksi pun turut hadir untuk memperoleh informasi tentang cara merekrut talenta IT muda bagi perusahaan mereka. “Digitalisasi sangat berdampak pada perkembangan perusahaan dan kami ingin mengetahui lebih dalam cara menarik perhatian digitally-savvy talents untuk bekerja di Unilever Indonesia.” ucap Irwanti Barianita selaku Talent Advisor PT Unilever Indonesia, Tbk.

Keseruan peserta Kalibrr Communities mengikuti Totebag Painting Workshop
Keseruan peserta Kalibrr Communities saat mengikuti Totebag Painting Workshop 

Kalibrr Communities dikemas dalam bentuk diskusi panel agar terjadinya interaksi dua arah antara pembicara dengan peserta. Andrew Nugraha Patty, selaku Marketing Consultant Kalibrr Indonesia menjadi moderator yang memimpin jalannya diskusi selama acara berlangsung. Sebelum diskusi dimulai, para peserta mendapatkan pengalaman menarik dengan mengikuti sesi tote bag painting workshop yang disediakan oleh Kalibrr untuk memeriahkan acara. Terlihat antusiasme peserta sembari melukis tote bag masing-masing. “Menarik sekali, seperti mengenang masa lalu” ucap salah satu peserta. Usai melukis, Kalibrr juga menyediakan makan malam kepada peserta di mana selagi peserta menikmati makan malam, kedua pembicara berbagi pengalaman mereka dalam merekrut dan mempertahankan talenta digital masa kini untuk bekerja di perusahaan mereka.

 

Rahasia Transformasi Perusahaan: Menyesuaikan Lingkungan Perusahaan Dengan Preferensi Talenta Digital

Transformasi perusahaan menjadi salah satu kunci keberhasilan Trans Digital dan PT Pegadaian untuk memikat perhatian dan mempertahankan para talenta digital dalam bekerja di kedua perusahaan tersebut. “Di Trans Digital, Kami berusaha semaksimal mungkin membentuk ekosistem yang sesuai dengan minat talenta digital yang mayoritas didominasi oleh kalangan anak muda,” ucap Pradana. Menurutnya, kunci utama perusahaan adalah menyesuaikan lingkungan kerja perusahaan dengan karakteristik dari para karyawannya. “Misalnya, kita membuat karyawan betah dengan membentuk area beristirahat, area bermain dengan menyediakan playstation untuk menghilangkan kejenuhan karyawan saat bekerja, dan lainnya. Intinya adalah menyenangkan karyawan senyaman mungkin.” jelas Pradana.

Lantas, bagaimana dengan PT. Pegadaian yang sudah berdiri semenjak 1764? Uniknya, PT. Pegadaian memiliki cara khas sendiri dalam mentransformasikan perusahaannya untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital saat ini. “Kami mewajibkan seluruh karyawan Pegadaian untuk menggunakan aplikasi dalam menjalankan aktivitas rutin di perusahaan setiap harinya dimulai dari berinteraksi secara online sesama rekan karyawan.” ucap Anung. Anung juga mengakui bahwa rata-rata umur karyawan di PT Pegadaian adalah 35 tahun yang mungkin tidak terlalu familiar dengan teknologi digital sehingga dengan menerapkan kewajiban tersebut, beliau berharap dapat meningkatkan potensi karyawannya dalam beradaptasi di era digital saat ini, apalagi mengetahui bahwa PT Pegadaian mulai berekspansi secara online dengan membentuk Pegadaian Digital untuk memudahkan konsumen dalam mengakses fitur yang disediakan. 

 

Tantangan Kedua Perusahaan dalam Menghadapi Transformasi Digital

Tentunya tidak mudah bagi Trans Digital maupun PT Pegadaian dalam menghadapi transformasi digital. Diperlukannya waktu bulanan hingga tahunan agar perusahaan dapat benar-benar mengubah lingkungan perusahaannya menjadi berbasis digital. Pradana mengakui bahwa Trans Digital memerlukan 5 tahun untuk mengadaptasikan ekosistem perusahaannya menjadi digital sepenuhnya, baik dari segi sistemisasi perusahaan maupun penyesuaian suasana perusahaan mengikuti karakteristik talenta digitalnya. 

Tidak hanya Trans Digital, Anung mewakili PT Pegadaian juga merasakan kesulitan dalam mengadaptasikan perusahaannya dengan era digital saat ini, bahkan ia sempat menggunakan jasa pihak eksternal untuk membantu merealisasikan transformasi tersebut. “Dimulai dari tahun 2018, kita menggunakan jasa consulting firm untuk membantu mengubah PT Pegadaian menjadi digitalised company.” jelas Anung. Lagi-lagi, beliau mengakui memiliki rahasia unik dalam menghadapi tantangan tersebut. Beliau menyatakan transformasi digital hanya akan menjadi wacana yang berlangsung lama apabila tidak diwujudkan secara cepat. Maka dari itu, ia membentuk sebuah sistem di mana apabila terdapat saran untuk melakukan perubahan digital dalam perusahaan, perubahan tersebut harus dilaksanakan langsung dalam waktu 1x24 jam agar benar-benar dapat terwujud. “Sekarang, kita kalau mau berubah harus langsung berubah dalam waktu 1x24 jam. Jangan takut salah, pokoknya jalankan saja dulu.” Tambahnya.

 

networking session
Di Kalibrr Communties, peserta tidak hanya memperoleh ilmu baru, namun juga berpeluang untuk memperluas koneksi dengan para pakar HR lainnya. 

Teknologi Menggantikan Peran HRD?

Seiring dengan berjalannya waktu, muncul sebuah pertanyaan menarik dari salah satu peserta diskusi yang menanyakan apakah teknologi dapat menggantikan pekerjaan HRD Hal ini tentunya sangat relevan melihat perkembangan Industri 4.0 yang terlihat mulai menggantikan peran manusia dengan otomasi mesin dan teknologi. Namun, apakah benar teknologi dapat menggantikan peran HRD dalam suatu perusahaan? “Jangan khawatir, teknologi tidak akan menggantikan peran HRD, namun dapat menjadi sebuah aset yang membantu HRD dalam menjalankan perannya” ucap Anung menanggapi pertanyaan tersebut. “Misalnya, eksistensi video sebagai salah satu perwujudan teknologi. Tetap saja masih membutuhkan ahli psikologi untuk dapat menganalisis perilaku kandidat saat wawancara berlangsung” jelas Anung mengenai pendapatnya sebelumnya. 

Dengan demikian, berakhirlah acara Kalibrr Communities pada bulan Juni ini. Para peserta diskusi tidak hanya mendapatkan pengetahuan tambahan seputar tips dan trik terkait perekrutan talenta digital masa kini, namun juga dapat membawa pulang tote bag yang sudah dilukis oleh masing-masing peserta pada saat workshop berlangsung. Kehadiran Kalibrr Communities sendiri membawakan kegembiraan kepada para peserta karena tidak hanya mendapatkan ilmu baru, peserta juga berhasil memperluas networking mereka dengan bertemu teman-teman dari latar belakang yang sama. 

“Sulit sekali bagi saya untuk menemukan komunitas HRD sebelum akhirnya menemukan Kalibrr Communities. Sangat menyenangkan karena saya dapat berkenalan dengan teman-teman baru dari profesi yang sama.” ucap Arsafira selaku HR Business Partner Analyst GOJEK.

Sanuk Tandon, Managing Director Kalibrr Indonesia (kanan) bersama para pembicara Kalibrr Communities: Pradana Saktya Adi (tengah) dan Anung Anindita (kiri) 

Terima kasih Anung, Pradana, dan para praktisi HR yang sudah bergabung dalam acara Kalibrr Communities.

Sampai jumpa di acara Kalibrr selanjutnya!

 

Penulis: Wenvint   Editor:   Tanisha Miranda