Skip to main content
All About Kalibrr

Belajar Membangun Karir Menjadi Seorang Tech Leader di Scale Up Your Tech Career 2017

By Putri Perwira on December 12, 2017

Pada bulan Oktober lalu, Kalibrr mengadakan sebuah career-talk yang bertujuan untuk meng-empower generasi muda Indonesia dalam membangun karir mereka, khususnya di bidang teknologi. Acara yang bernama Scale Up Your Tech Career 2017 ini dibagi menjadi tiga sesi, dan menghadirkan beberapa ahli teknologi dari perusahaan ternama.

Kali ini kami akan berbagi insight menarik dari para pembicara di sesi pertama, yaitu Gito Wahyudi (Founder & CEO Cartenz Group) dan Siaw Gie Kian (VP of Development Blibli.com), tentang bagaimana mereka meningkatkan karir dari seorang programmer menjadi tech leader.

Apa peran tech leader sebenarnya?

Memasuki era digital, peluang bisnis di sektor ekonomi digital berkembang relatif cepat, terbukti dari banyaknya perusahaan startup yang bermunculan. Karenanya, dibutuhkan tech leader yang memang kompeten untuk membantu mengembangkan lansekap industri teknologi di Indonesia. Tech leader ini nantinya juga akan membantu membentuk ekosistem industri IT tanah air menjadi  lebih baik, dan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi era persaingan global.

Hal apa yang bisa menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi tech leader?

Gito Wahyudi menceritakan mimpi yang mendorongnya untuk menjadi seorang tech leader
Menjadi seorang tech leader pada umumnya bukan hal yang mudah mudah. Pengalaman dan kemampuan leadership yang mumpuni saja tidak cukup. Dibutuhkan juga naluri untuk memecahkan masalah dan kepandaian dalam melihat peluang. Ya, seorang pemimpin haruslah visioner. Selain itu, ada satu komponen lagi yang tidak boleh ketinggalan, yaitu memiliki mimpi.

Gito memiliki mimpi bahwa Indonesia bisa menjadi negara dengan tata kelola yang transparan dan efisien dalam berbagai aspek kehidupan. Mimpi ini muncul ketika ia melakukan perjalanan ke Korea Selatan dan terkesima melihat baik pemerintah, sektor swasta, hingga berbagai lini aktivitas keseharian yang dilakukan masyarakat Korea sudah didukung dengan teknologi informasi yang canggih. Ia ingin agar Indonesia bisa melakukan hal serupa. Sayangnya, kebanyakan perusahaan IT saat ini lebih berfokus pada pengembangan inovasi produknya, dan lupa bahwa pemerintah sebagai penyedia infrastuktur juga butuh bantuan untuk membenahi sistem terkait penggunaan IT untuk membantu warga negaranya. Hal inilah yang kemudian mendasari keputusan Gito untuk mendirikan Cartenz dan menjadi tech leader, demi mewujudkan mimpinya.

“Dalam hidup kita hanya memiliki dua pilihan; menjadi pilot atau menjadi penumpang. Dengan menjadi penumpang, seseorang bisa santai duduk di belakang, menikmati pemandangan, dan dilayani pramugari. Namun ketika membuka jendela, bisa saja orang tersebut sadar bahwa ia tidak sedang menuju ke arah yang diharapkannya. Jika demikian, pilihannya adalah menjadi pilot, kalau memang mau mengarahkan ‘pesawat’ tersebut ke arah yang diharapkan. Karena ini berkaitan dengan mimpi saya untuk membangun Indonesia yang lebih baik, saya tidak bisa hanya menjadi penumpang yang diam saja melihat keadaan. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk menjadi pemimpin,” kata Gito.

Apa hal yang menarik dari menjadi tech leader?

Peserta yang mayoritas adalah programmer muda, antusias menyimak tips dan trik yang dibagikan pembicara
Teknologi adalah sebuah enabler yang memungkinkan hal yang dulunya tidak mungkin. Teknologi juga selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman, menyesuaikan dengan kebutuhan yang terus bertambah. Bisa dikatakan, teknologi sudah menjadi bagian dari peradaban manusia. Terlebih di era digitalisasi saat ini, di mana teknologi telah menjadi sesuatu yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat. Karenanya, tidak heran kalau banyak orang yang berminat untuk mengembangkan karirnya di industri ini.

Menurut Gie Kian, menjadi tech leader adalah impian hampir semua programmer. Dengan menjadi tech leader, bukan hanya kemampuan programming-nya diakui, tetapi seseorang juga bisa memiliki andil yang lebih besar dalam menentukan bagaimana teknologi akan dikembangkan dan digunakan. Ia dapat memberikan kontribusi langsung untuk negeri, dengan memberikan solusi yang memanfaatkan teknologi dalam memecahkan masalah sosial yang ada. Menjadi tech leader juga berarti seseorang bisa memiliki kesempatan untuk memberikan dampak yang berkelanjutan bagi perusahaan dan sekitarnya.

“Kita harus bisa melihat gambaran besarnya, bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh seorang tech leader dapat memberikan perubahan yang berkelanjutan. Mulai dari perubahan produktivitas tim, perusahaan, sampai penggunanya. Bagi saya pribadi, itu adalah salah satu attractive factor dari menjadi tech leader,” jelas Gie Kian.

Kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang tech leader?

Pada dasarnya , untuk menjadi tech leader, seseorang tentu membutuhkan kemampuan IT yang mumpuni. Ini ditujukan agar nantinya orang tersebut bukan hanya gigih dalam memberikan solusi melalui teknologi, tetapi juga paham dengan apa yang sebenarnya ia kerjakan. Namun demikian, kemampuan IT saja ternyata tidak cukup. Menjadi seorang tech leader, atau pemimpin pada umumnya, mengharuskan seseorang untuk mempelajari hal-hal yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya, dan dalam hal ini adalah kemampuan berbisnis.

Gito yang merupakan seorang programmer, mungkin terlihat tidak mengalami masalah ketika memutuskan untuk menjadi tech leader. Namun ia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika mempelajari bagaimana bisnis itu berjalan. Berbeda dengan programming yang notabene adalah ilmu pasti , bisnis adalah ilmu yang variatif, di mana untuk menjalankannya tidak hanya dibutuhkan logika tetapi juga faktor-faktor lainnya. Bagaimana menjalankan bisnis dan bagaimana cara menjual produk adalah salah satu dari sekian pelajaran panjang yang Gito tempuh, sampai dengan saat ini.

Perubahan apa yang paling dirasakan ketika menjadi tech leader?

Siaw Gie Kian membagikan pengalamannya ketika ditunjuk menjadi Vice President of Development di Blibli.com
Menjadi seorang tech leader tentu sangat berbeda dengan ketika menjadi programmer. Seorang pemimpin bukan hanya diharuskan untuk dapat memimpin timnya dalam menjalankan tugas, tetapi juga menjaga agar produktivitas timnya tidak terganggu dengan hal-hal di luar dugaan, seperti perselisihan antar anggota misalnya. Layaknya kutipan dari salah satu film superhero, ‘with great power comes great responsibility’, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan segala hal yang berkaitan dengan proyek yang ia tangani, mulai dari proses sampai hasil, berjalan lancar.

Menurut Gie Kian, dirinya adalah seorang yang lebih senang menghabiskan waktunya di meja kerja dan memecahkan kode atau membaca artikel yang insightful, daripada bersosisialisasi dengan rekan kerjanya. Mungkin sekilas ia terlihat lebih senang menghabiskan waktu untuk berkutat dengan dunianya sendiri, namun ternyata kebiasaan Gie Kian yang berfokus pada pengembangan diri ini berhasil membawanya ke posisi pemimpin. Meski begitu, Gie Kian mengaku bahwa treatment yang sama tidak akan membuatnya menjadi seorang tech leader yang sukses.

“Ketika menjadi tech leader, saya justru diharuskan untuk tidak berada di meja kerja saya. Mencari tahu dinamika tim dengan berdiskusi atau berbincang dengan rekan kerja lalu memetakan permasalahan yang dihadapi, adalah tugas-tugas utama seorang pemimpin. Saya sadar bahwa permasalahan yang saya hadapi sebagai seorang pemimpin, bukanlah permasalahan yang bisa saya pecahkan hanya dengan membaca kutipan bijak atau jurnal, karena permasalahan tersebut berasal dari dalam tim yang notabene setiap anggotanya juga memiliki masalah masing-masing. Oleh karena itu, saya harus lebih sering berinteraksi dengan orang lain,” ungkap Gie Kian.

Apakah ada pelatihan tertentu yang harus dijalani untuk menjadi seorang tech leader?

Untuk menjadi seorang tech leader, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi, apalagi mengingat kebutuhan bisnis yang terus berkembang. Mungkin ada beberapa kemampuan memimpin yang bisa dipelajari melalui buku atau jurnal, akan tetapi, seperti yang dikatakan orang bijak, pengalaman tetap guru terbaik.

Bagi mereka yang baru mau mencoba menjadi pemimpin, Gito menyarankan untuk tidak terlalu berfokus pada ketakutan dengan segala risiko kegagalan yang mungkin terjadi. Menurutnya,  kata kunci untuk bisa benar-benar menjadi pemimpin itu hanya satu, yaitu ‘mulai sekarang juga’.

“Sampai kapanpun kegagalan akan tetap datang. Dengan memulai, mungkin nanti Anda akan mengalami up and down berkali-kali, tetapi proses itulah yang akan membantu Anda untuk bisa menghindari risiko ke depannya. Semua tergantung pada seberapa kuat kegigihan Anda untuk terus belajar dan mencoba. Apakah Anda memilih untuk terpuruk dengan kegagalan, atau justru menjadi terpacu dengan keadaan,” tegas Gito.

Apakah hal tersulit yang dihadapi seorang tech leader?

Sesi pertama SUYTC 2017 dimoderasi oleh Tarun Argawal (Founder & CEO Nadipos)
Berurusan dengan teknologi yang mencakup perangkat lunak maupun perangkat keras mungkin bukan hal asing bagi programmer, yang sering berkutik dengan logika. Mereka bahkan cenderung tidak menemukan kesulitan untuk mengelola perangkat-perangkat tersebut karena memang formulanya menggunakan ilmu pasti. Akan tetapi, mengelola sekelompok manusia adalah hal yang sangat berbeda. Bila diibaratkan, seorang pemimpin harus memperlakukan timnya seperti sedang merawat bunga yang harus rajin disiram dan dirawat menggunakan hati, supaya bisa tumbuh lebih baik. Kemampuan untuk mengelola tim ini, bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari di tempat kursus atau bangku sekolah.

Apa pesan untuk generasi muda tanah air yang ingin mengembangkan karir di bidang teknologi?

Talenta muda di Indonesia pada dasarnya memiliki potensi yang tidak kalah hebat dengan talenta luar. Yang membedakan adalah, talenta lokal cenderung lebih pasif dan malu untuk mengemukakan ide. Tak heran kalau ada yang beranggapan bahwa sumber daya manusia di Indonesia kurang kompeten. Padahal, banyak juga yang memiliki kemampuan dan prestasi melebihi talenta dari negara lain. Bisa dikatakan, kebiasaan masyarakat Indonesia yang ‘gak enakan’ dan ingin menghindari konflik memegang andil yang cukup besar di sini. Mungkin di satu sisi kebiasaan ini memiliki benefitnya sendiri, akan tetapi sampai pada satu titik tertentu mungkin malah menimbulkan efek negatif, baik di kehidupan profesional maupun personal.

Melalui Scale Up Your Tech Career, Gito dan Gie Kian mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih memberanikan diri dalam mengemukakan ide dan menonjolkan kemampuan yang dimiliki. Be outspoken and speak up your mind as your contribution will surely help your surroundings, including yourself, in the long run.

Sebagai salah satu dari sekian startup teknologi yang ada, ke depannya Kalibrr berharap dapat terus secara konsisten membantu mengembangkan karir generasi muda Indonesia, dan membawa lebih dekat kepada kesempatan karir mereka yang lebih berarti.