Skip to main content
story telling
Insights + Data

Story Telling adalah Salah Satu Skill yang Harus Dimiliki oleh Praktisi HR di Era Digital.

By Roh Budianto on September 19, 2019

Proses rekrutmen adalah soal pilihan, namun berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh MRI Network saat ini HR atau User bukan lagi pihak yang paling berkuasa memilih kandidat, namun talent/kandidat yang memilih kesediaannya bekerja di perusahaan apa atau bekerja dengan siapa.  Menurut hasil riset tersebut, diketahui bahwa 90% rekruter menyatakan bahwa kandidat mempunyai otoritas penuh untuk menolak tawaran yang diberikan. Untuk meningkatkan peluang diterimanya tawaran yang diberikan perusahaan kepada kandidat ada aspek lain yang perlu disampaikan kepada kandidat dan dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk kandidat tersebut, seperti nilai-nilai perusahaan atau Employee Value Proposition lain yang menjadi keunikan/brand dari perusahaan. Agar pesan dari keunikan/brand perusahaan tersampaikan secara efektif diperlukan adanya cara atau pendekatan komunikasi yang terencana, dan aktivitas ini yang dinamakan sebagai Employer Branding. Secara singkat, Employer Branding adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan uniqueness atau Employer Brandnya. Hal tersebut yang menjadikan Employer Branding menjadi hal yang sangat krusial dalam pemenangan di Era Talent War.

Para talent - terutama kalangan milenial dan generasi yang lebih muda - ingin merasa terhubung dengan tempat mereka bekerja. Mereka ingin melihat value dalam tindakan memiliki hubungan yang bermakna dengan apa yang mereka kontribusikan pada pekerjaannya, jadi nggak sekedar datang kerja lalu bayaran. Karenanya, cara yang paling mudah dan paling efektif untuk memasarkan employer brand yang dipilih kebanyakan perusahaan dewasa ini adalah secara internal dengan influencer terbaik mereka – tak lain adalah karyawan mereka sendiri untuk berbagi pengalaman emosional bekerja di perusahaan. Menceritakan pengalaman emosional dalam bekerja di suatu perusahaan merupakan salah satu pendekatan yang maknyus dalam aktivitas employer branding perusahaan

artboard 1

Di era generasi media sosial, semua orang bisa melihat, mendapatkan informasi secara bebas dan terbuka. Tidak bisa dipungkiri testimoni/cerita pengalaman bekerja paling menentukan baik buruknya suatu employer brand. Employer brand yang positif jika tidak diimbangi dengan cara penyampaian yang personalize dan human touch tentu hasilnya akan kurang seperti yang diharapkan. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk menyampaikan brand secara personalize dan human touch adalah dengan menggunakan Story Telling.  Tak ayal lagi jika Story Telling merupakan komponen penting dari strategi talent acquisition dalam menarik calon-calon pelamar terbaik dimasa yang akan datang.

Dalam berkisah haruslah menghadirkan wawasan eksternal yang realistis (bukan fiktif), yang benar-benar nyata, berhubungan dengan rasa/pengalaman yang dialami langsung oleh karakter di lingkungan kerja yang mana kisah tersebut tidak hanya asal menarik atau yang penting viral namun tiap jenis konten harus terdapat benang merah yang jika ditarik akan ada kesesuaian pada “company values” yang dapat membuat talenta terbaik untuk tertarik dengan nilai perusahaan. Membuat konten yang menarik dan mempunyai benang merah merupakan salah satu hal penting dalam aktivitas employer branding. Maka pastikan narasi yang dibangun dapat dengan jelas mengartikulasikan employer brand sebagai ciri khas - pembeda dari perusahaan pesaing Anda.

artboard 3

Story telling itu sendiri merupakan gabungan dari art dan science, karena itu diperlukan adanya research dan strategi yang tepat untuk suksesnya membangun employer brand yang mempunyai reputasi. Untuk melakukan research tersebut bisa dimulai melalui observasi-internal dengan menggunakan alat bantu seperti survey terlebih dahulu untuk menemukan Employee Value Proposition (rangkaian value unik untuk mempengaruhi kandidat secara positif) yang paling nyata dirasakan dan disukai oleh karyawan. Lebih lanjut EVP sangat mempengaruhi resonansi dari story telling yang menjadi magnet menarik minat para kandidat terbaik untuk bergabung. Dengan kata lain EVP merupakan inti dari suatu employer brand perusahaan yang dikomunikasikan melalui aktivitas employer branding.

Setelah Employee Value Proposition tersebut dapat diidentifikasi, aktivitas berikutnya adalah membentuk team kecil yang membuat program-program  untuk membangkitkan hasrat para karyawan untuk berpartisipasi.  Partisipasi karyawan di  media sosial mereka masing-masing adalah praktik terbaik dalam aktivitas Employer Branding saat ini. Salah satu contoh program yang menarik adalah dengan menyediakan “panggung” bagi para internal influencer untuk berbagi dan berkolaborasi kepada sesama karyawan Internal. Aktivitas tersebut kemudian dijadikan konten yang menarik dan mendapat exposure media perusahaan dan media lainnya. Liputan kegiatan karyawan seperti ini biasanya menjadi salah satu aktivitas employer branding yang mendapatkan engagement tertinggi.

Jika membicarakan tentang format konten, di era kecepatan internet yang semakin cepat saat ini, tentunya format terbaik adalah video yang dipadu dengan narasi ciamik. Adanya keterlibatan mereka di konten akan membuat generasi “pengakuan” ini dengan sukarela berbagi dengan connection masing-masing. Jika hal ini dilakukan dengan tepat dan kontinu tentu saja akan mendongkrak employer brand perusahaan.

Salah satu cara untuk mengatur distribusi konten apa saja yang mencitrakan employer brand secara positif yang paling wajib dilakukan pihak perusahaan (HR) adalah dengan menghadirkan media sosial sebagai cara perusahaan berkomunikasi dengan audiens eksternal mereka. Cara tersebut bisa dilakukan dengan membuka dan mengelola akun Instagram, Linkedin dan Youtube Channel, lengkap dengan hashtag, tagline sebagai pembeda. Disinilah peran penting HR untuk menjadi Marketer yang terampil dalam memanusiakan “brand”, dan dengan kehadiran media sosial, peran mereka pun bertambah menjadi “Mimin” yang aktif dan ramah, content creator yang kreatif dan yang pasti sudah tidak jamannya lagi HR menjadi institusi yang tertutup dan kaku ibarat “kanebo kering”.

 

artboard 3

Tantangan terbesar adalah tidak semua perusahaan mampu membangun culture yang “menjual”, karena banyak pimpinan perusahaan tidak menyadari pentingnya agility dalam merespon perubahan. Terlebih para pucuk pimpinan tidak menyadari bahwasanya pembentukan culture dimulai secara “top to down” yaitu dimulai dari pola perilaku para pimpinan yang diturunkan ke dasar organisasi dan akhirnya menjadi budaya.

Jika HR mau disebut sebagai “Agent of Change” haruslah bisa persuasif meyakinkan pihak pemberi kerja (company owner/CEO) akan pentingnya “employer brand reputation” diluar perusahaan, dan memberikan pandangan bahwa usaha dan biaya yang dikeluarkan untuk semua program yang bermuara pada employee service experience is worth di era Tarik menarik kandidat terbaik saat ini.

“Narasi bisa dibangun demi reputasi digital, namun employee service experience itu sendiri yang menjadi faktor penentu utama keberhasilannya. Tanpa “rasa dimanusiakan” visi misi perusahaan hanya sekedar sebagai hiasan dinding direksi, dan employer branding ibarat panggung kampanye tanpa program nyata dan team pemenangan.

 

Penulis:

Roh Budianto