Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Job Burnout vs Stres: Yuk Kenali Diri Sendiri

February 18, 2021

Kerja tiada henti, deadline yang rasanya menumpuk jadi satu, revisi berkepanjangan, lembur setiap hari, mau makan saja susah. Siapa yang pernah berada di situasi seperti yang digambarkan barusan? Ketika Anda dihadapkan pada posisi di atas, pembelaan yang biasa muncul karena situasi tersebut adalah, “Namanya juga mencari uang, harus ada yang harus dikorbankan. Paling juga stres saja, tinggal liburan, kok.”

Eits, tunggu dulu. Sadarkah Anda jika hal seperti itu terjadi berulang kali dan dalam tempo waktu yang sering akan mengakibatkan job burnout?

Sebelum lebih jauh berbicara tentang burnout, mari cari tahu definisi dari burnout.

Menurut Mayo Clinic, job burnout adalah special type dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan. Job burnout merupakan sebuah kondisi di mana, tidak hanya fisik dan mental serta emosi yang kelelahan, namun juga melibatkan perasaan selalu gagal dan tidak memiliki kemampuan untuk kembali bangkit dari kegagalan. Ada pula, penderita dari job burnout yang sampai kehilangan identitas personal dan kepercayaan dirinya.

Pada 2019, WHO telah mengkategorikan job burnout sebagai fenomena pekerjaan dan kondisi medis serta masuk dalam klasifikasi International Classification of Diseases. Job burnout tidak hanya terjadi pada orang yang workaholic atau overworked, tapi juga bisa terjadi pada orang yang dikucilkan dalam pekerjaan dan tidak diperlakukan dengan adil oleh atasan atau rekan kerja.

Burnout sendiri tidak memerlukan diagnosis dari dokter atau psikolog. Beberapa ahli menyebut bahawa burnout merupakan kontemplasi dari depresi dan kelelahan. Beberapa penelitian juga menyebut bahwa orang yang mengalami job burnout seringkali tidak percaya bahwa pekerjaan yang menyebabkan dirinya burnout.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi deteksi awal jika anda mengalami job burnout:

  1. Apakah Anda menjadi seorang yang sinis dan kritis berlebihan dalam pekerjaan?
  2. Apakah Anda merasa sulit untuk pergi bekerja hingga harus memaksakan diri?
  3. Apakah Anda mudah tersinggung atau tidak sabar akan rekan kerja, customer, atau klien?
  4. Apakah Anda merasa selalu kelelahan ketika harus produktif?
  5. Apakah Anda sulit berkonsentrasi?
  6. Apakah Anda merasa sulit untuk mencapai target dan selalu merasa tidak terpuaskan?
  7. Apakah waktu tidur Anda berantakan?
  8. Apakah Anda sering mengalami sakit kepala, permasalahan pencernaan, dan permasalahan sakit fisik yang lain tanpa alasan?

Jika Anda menjawab iya untuk beberapa pertanyaan di atas, bisa jadi, Anda masuk sedang mengalami job burnout.

Lalu apa bedanya dengan stres?

Menurut Ryan Howes, seorang psikolog klinis dari Pasadena, California, stres merupakan kondisi di mana mental, fisik, dan emosi seseorang didorong hingga mencapai limit dan melewat comfort zone. “Penting untuk digaris bawahi, ketika Anda berusaha mendorong diri Anda untuk keluar dari comfort zone, Anda harus memastikan, setelah mendorong diri keluar dari comfort zone hasil yang didapatkan merupakan hasil permanen dan benar-benar membantu Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan membantu Anda untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan,” ungkap Ryan Howes dilansir dari HuffPost.

Lantas, job burnout merupakan respon psikis ketika stres sudah berkepanjangan dan membuat mental dan fisik kelelahan serta kehilangan gairah untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan. Jika job burnout dibiarkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut, bukan tidak mungkin job burnout akan berubah menjadi depresi klinis.

Menariknya, job burnout bahkan memiliki dampak yang lebih besar terhadap stres. Sebuah studi yang dilakukan oleh Johannes Gutenberg University Mainz menyebut bahwa semakin burnout seseorang akan pekerjaannya, semakin stres pula dirinya akan pekerjaan tersebut.

Job burnout biasa dipicu oleh situasi pekerjaan dan akan terbentuk secara perlahan dari waktu ke waktu. Akibatnya, setiap pekerjaan yang ada dan diberikan akan selalu terasa stressful--pekerjaan akan terasa sangat banyak dan kelelahan menjadi tak terhindarkan. Bahkan, ketika pekerjaan yang biasa dikerjakan dengan mudah akan menjadi sulit ketika job burnout,” ujar Christian Dormann, peneliti yang mempelajari burnout dan stres di Johannes Gutenberg University Mainz, dilansir dari Psychology Today.

Sebagai solusi, perusahaan harus memberikan support untuk pekerja yang menghadapi burnout dan untuk memutus rantai stres kerja dan job burnout. Perusahaan juga harus memberikan delegasi penuh terhadap pekerjaan kepada pekerja untuk meminimalisir efek dari burnout dan stres. Jangan lupa berikan feedback yang memabngun dan manajemen harus memberikan waktu yang cukup bagi pekerja untuk beristirahat total dari pekerjaan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Psychology Today, Mayo Clinic, dan HuffPost.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Job Burnout vs Stres: Yuk Kenali Diri Sendiri

February 18, 2021

Kerja tiada henti, deadline yang rasanya menumpuk jadi satu, revisi berkepanjangan, lembur setiap hari, mau makan saja susah. Siapa yang pernah berada di situasi seperti yang digambarkan barusan? Ketika Anda dihadapkan pada posisi di atas, pembelaan yang biasa muncul karena situasi tersebut adalah, “Namanya juga mencari uang, harus ada yang harus dikorbankan. Paling juga stres saja, tinggal liburan, kok.”

Eits, tunggu dulu. Sadarkah Anda jika hal seperti itu terjadi berulang kali dan dalam tempo waktu yang sering akan mengakibatkan job burnout?

Sebelum lebih jauh berbicara tentang burnout, mari cari tahu definisi dari burnout.

Menurut Mayo Clinic, job burnout adalah special type dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan. Job burnout merupakan sebuah kondisi di mana, tidak hanya fisik dan mental serta emosi yang kelelahan, namun juga melibatkan perasaan selalu gagal dan tidak memiliki kemampuan untuk kembali bangkit dari kegagalan. Ada pula, penderita dari job burnout yang sampai kehilangan identitas personal dan kepercayaan dirinya.

Pada 2019, WHO telah mengkategorikan job burnout sebagai fenomena pekerjaan dan kondisi medis serta masuk dalam klasifikasi International Classification of Diseases. Job burnout tidak hanya terjadi pada orang yang workaholic atau overworked, tapi juga bisa terjadi pada orang yang dikucilkan dalam pekerjaan dan tidak diperlakukan dengan adil oleh atasan atau rekan kerja.

Burnout sendiri tidak memerlukan diagnosis dari dokter atau psikolog. Beberapa ahli menyebut bahawa burnout merupakan kontemplasi dari depresi dan kelelahan. Beberapa penelitian juga menyebut bahwa orang yang mengalami job burnout seringkali tidak percaya bahwa pekerjaan yang menyebabkan dirinya burnout.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi deteksi awal jika anda mengalami job burnout:

  1. Apakah Anda menjadi seorang yang sinis dan kritis berlebihan dalam pekerjaan?
  2. Apakah Anda merasa sulit untuk pergi bekerja hingga harus memaksakan diri?
  3. Apakah Anda mudah tersinggung atau tidak sabar akan rekan kerja, customer, atau klien?
  4. Apakah Anda merasa selalu kelelahan ketika harus produktif?
  5. Apakah Anda sulit berkonsentrasi?
  6. Apakah Anda merasa sulit untuk mencapai target dan selalu merasa tidak terpuaskan?
  7. Apakah waktu tidur Anda berantakan?
  8. Apakah Anda sering mengalami sakit kepala, permasalahan pencernaan, dan permasalahan sakit fisik yang lain tanpa alasan?

Jika Anda menjawab iya untuk beberapa pertanyaan di atas, bisa jadi, Anda masuk sedang mengalami job burnout.

Lalu apa bedanya dengan stres?

Menurut Ryan Howes, seorang psikolog klinis dari Pasadena, California, stres merupakan kondisi di mana mental, fisik, dan emosi seseorang didorong hingga mencapai limit dan melewat comfort zone. “Penting untuk digaris bawahi, ketika Anda berusaha mendorong diri Anda untuk keluar dari comfort zone, Anda harus memastikan, setelah mendorong diri keluar dari comfort zone hasil yang didapatkan merupakan hasil permanen dan benar-benar membantu Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan membantu Anda untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan,” ungkap Ryan Howes dilansir dari HuffPost.

Lantas, job burnout merupakan respon psikis ketika stres sudah berkepanjangan dan membuat mental dan fisik kelelahan serta kehilangan gairah untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan. Jika job burnout dibiarkan begitu saja tanpa ada tindak lanjut, bukan tidak mungkin job burnout akan berubah menjadi depresi klinis.

Menariknya, job burnout bahkan memiliki dampak yang lebih besar terhadap stres. Sebuah studi yang dilakukan oleh Johannes Gutenberg University Mainz menyebut bahwa semakin burnout seseorang akan pekerjaannya, semakin stres pula dirinya akan pekerjaan tersebut.

Job burnout biasa dipicu oleh situasi pekerjaan dan akan terbentuk secara perlahan dari waktu ke waktu. Akibatnya, setiap pekerjaan yang ada dan diberikan akan selalu terasa stressful--pekerjaan akan terasa sangat banyak dan kelelahan menjadi tak terhindarkan. Bahkan, ketika pekerjaan yang biasa dikerjakan dengan mudah akan menjadi sulit ketika job burnout,” ujar Christian Dormann, peneliti yang mempelajari burnout dan stres di Johannes Gutenberg University Mainz, dilansir dari Psychology Today.

Sebagai solusi, perusahaan harus memberikan support untuk pekerja yang menghadapi burnout dan untuk memutus rantai stres kerja dan job burnout. Perusahaan juga harus memberikan delegasi penuh terhadap pekerjaan kepada pekerja untuk meminimalisir efek dari burnout dan stres. Jangan lupa berikan feedback yang memabngun dan manajemen harus memberikan waktu yang cukup bagi pekerja untuk beristirahat total dari pekerjaan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Psychology Today, Mayo Clinic, dan HuffPost.

Written by Stefanny

Categories

Tags