Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Manajemen, 5 Faktor Ini Berkontribusi untuk Pekerja Burnout Lebih Cepat

February 24, 2021

Sampai sekarang--khususnya di Indonesia--masih banyak orang yang abai terhadap pentingnya kesehatan mental diri sendiri dan juga kesehatan mental orang lain. Saking abainya, mereka tidak percaya bahwa beberapa situasi dalam bekerja itu bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental, apalagi jika tidak tertangani dengan baik.

Mudahnya, sebagian dari masyarakat tidak percaya akan hadirnya burnout, yang merupakan kepanjangan dari perasaan stres dan tertekan yang terlalu lama diabaikan. Jika awalnya, World Health Organisation hanya menyebut definisi burnout hanya kondisi kelelahan mental dan fisik, kini definisi burnout melebar ke “kondisi stres kronis akibat kerja dan tidak berhasil diatasi atau tertangani dengan baik”.

Meluasnya definisi burnout, akhirnya menyadarkan sebagian masyarakat--masih ada yang tidak percaya--akan kebenaran dan kehadiran kondisi burnout, dan mulai mencari-cari informasi mendalam mengenai burnout dan ciri-ciri orang yang mengidap burnout.

Dari sebuah studi yang dilakukan Gallup tentang employee burnout atau job burnout, ditemukan 23 persen dari pekerja yang disurvei (n: 7.500 pekerja), sering atau selalu merasa burnout akan pekerjaannya. Sedangkan 44 persen lainnya mengaku terkadang merasa burnout.

Walaupun sebagian pekerja menganggap burnout merupakan bagian dari “resiko pekerjaan”, banyak kerugian yang harus ditanggung pekerja juga perusahaan akibat burnout.

Enam puluh tiga persen pekerja yang terkena burnout berpotensi mengambil waktu cuti dan 2,6 kali berpotensi mencari pekerjaan lain yang memiliki tingkat resiko pekerjaan lebih rendah dibanding pekerjaannya yang sekarang. Dan walaupun mereka berhasil bertahan dengan pekerjaannya yang sekarang, 13 persen dari mereka merasakan berkurangnya kepercayaan diri dalam performa mereka dan sering merasa gagal.

Terdapat beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan pekerja mudah terkena burnout, antara lain:

1. Perlakuan yang tidak adil di kantor

Ketika pekerja tidak mendapat perlakuan yang adil di perusahaan, pekerja memiliki kemungkinan 2,3 kali lebih rentan terhadap burnout. Perlakuan tidak adil ini dapat berupa anak emas, perlakuan yang salah dari rekan kerja dan atasan, hingga kompensasi atas pekerjaan yang tidak sebanding dengan pengorbanan pekerja.

Ketika pekerja merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan atau rekan kerjanya, hal ini dapat merusak ikatan kerja yang mungkin sudah terbangun sedemikian lama.

2. Tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat dikelola

Pekerja yang memiliki performa tinggi dan optimis dalam setiap pekerjaannya bisa secara tiba-tiba merasa tidak berdaya dan tidak semangat dalam mengerjakan pekerjaannya. Hal ini diakibatkan workload pekerjaan yang tidak dapat dikelola sendiri.

Ketika workload tidak dapat dikelola oleh diri sendiri dan pekerjaan terasa berada di luar kontrol, pekerja harus segera membicarakan hal ini kepada manajemen dan juga HR untuk membantu mereka mengatasi masalah, entah dengan membagi-bagi tugas ke rekan kerja yang lain, atau merekrut pekerja baru atau intern untuk membantu sementara waktu.

3. Target pekerjaan yang blur

Sebuah studi yang dipublikasi oleh State of American Workplace, menyebut hanya 60 persen dari pekerja yang disurvei tidak tahu dengan pasti hasil apa yang diharapkan dari pekerjaan mereka. Ketika target pekerjaan hanya berfokus pada akuntabilitas dan ekspektasi, pekerja bisa merasa kelelahan karena tidak tahu target yang sebetulnya diinginkan oleh manajemen.

Manajemen yang baik adalah manajemen yang mampu mendiskusikan dan memberikan target pekerjaan yang jelas kepada pekerjanya dan berkolaborasi dengan mereka untuk memastikan bahwa target tersebut sudah jelas dan sejalan dengan target perusahaan.

4. Kurangnya komunikasi dan dukungan manajemen

Komunikasi dan dukungan dari manajemen dan rekan kerja ternyata berpengaruh akan tingkat kemungkinan pekerja terkena burnout. Sebanyak 70 persen pekerja setuju bahwa dukungan dan komunikasi dua arah dari manajemen sangat berarti untuk menurunkan resiko stres dan burnout akibat tugas dan tanggung jawab pekerjaan.

Sebaliknya, jika pekerja tidak mendapat dukungan dan komunikasi bersifat hanya satu arah dapat menyebabkan pekerja merasa diabaikan, terisolasi, dan defensif terhadap kritik dan masukan. Tentu saja, burnout juga menyertai pekerja yang tidak mendapat dukungan dan komunikasi satu arah ini.

5. Tekanan batas waktu kerja yang tidak wajar

Apakah Anda salah satu dari sekian banyak orang yang pernah berkata jika 24 jam rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaan? Hati-hati, ternyata batas waktu kerja bisa mempengaruhi mudahnya seseorang untuk terkena burnout.

Demi mendapatkan hasil kerja yang sempurna, pekerja sering tidak segan untuk lembur demi mengejar deadline. Sayangnya, mengejar deadline dan waktu kerja yang tidak masuk akal merupakan faktor penyebab burnout yang paling sering dijumpai. Pekerjaan yang memiliki deadline dan waktu kerja yang tidak masuk akal meningkatkan resiko burnout lebih cepat.

Pekerja yang burnout dapat merusak kemampuan perusahaan untuk melakukan decision-making hingga pelayanan terhadap customer atau klien.

Burnout memang tidak dapat dihindari. Namun, Anda dapat mencegahnya. Jika Anda adalah seorang pemimpin, Anda bisa mencoba untuk membuat lingkungan kerja yang lebih ramah terhadap pekerja. Ubah cara manajemen perusahaan untuk mencegah pekerja burnout dengan mendengarkan masukan atau keluhan dari pekerja.

CTA


Artikel ini dilansir dari Gallup, Healthline, dan Scientific American.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Manajemen, 5 Faktor Ini Berkontribusi untuk Pekerja Burnout Lebih Cepat

February 24, 2021

Sampai sekarang--khususnya di Indonesia--masih banyak orang yang abai terhadap pentingnya kesehatan mental diri sendiri dan juga kesehatan mental orang lain. Saking abainya, mereka tidak percaya bahwa beberapa situasi dalam bekerja itu bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental, apalagi jika tidak tertangani dengan baik.

Mudahnya, sebagian dari masyarakat tidak percaya akan hadirnya burnout, yang merupakan kepanjangan dari perasaan stres dan tertekan yang terlalu lama diabaikan. Jika awalnya, World Health Organisation hanya menyebut definisi burnout hanya kondisi kelelahan mental dan fisik, kini definisi burnout melebar ke “kondisi stres kronis akibat kerja dan tidak berhasil diatasi atau tertangani dengan baik”.

Meluasnya definisi burnout, akhirnya menyadarkan sebagian masyarakat--masih ada yang tidak percaya--akan kebenaran dan kehadiran kondisi burnout, dan mulai mencari-cari informasi mendalam mengenai burnout dan ciri-ciri orang yang mengidap burnout.

Dari sebuah studi yang dilakukan Gallup tentang employee burnout atau job burnout, ditemukan 23 persen dari pekerja yang disurvei (n: 7.500 pekerja), sering atau selalu merasa burnout akan pekerjaannya. Sedangkan 44 persen lainnya mengaku terkadang merasa burnout.

Walaupun sebagian pekerja menganggap burnout merupakan bagian dari “resiko pekerjaan”, banyak kerugian yang harus ditanggung pekerja juga perusahaan akibat burnout.

Enam puluh tiga persen pekerja yang terkena burnout berpotensi mengambil waktu cuti dan 2,6 kali berpotensi mencari pekerjaan lain yang memiliki tingkat resiko pekerjaan lebih rendah dibanding pekerjaannya yang sekarang. Dan walaupun mereka berhasil bertahan dengan pekerjaannya yang sekarang, 13 persen dari mereka merasakan berkurangnya kepercayaan diri dalam performa mereka dan sering merasa gagal.

Terdapat beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan pekerja mudah terkena burnout, antara lain:

1. Perlakuan yang tidak adil di kantor

Ketika pekerja tidak mendapat perlakuan yang adil di perusahaan, pekerja memiliki kemungkinan 2,3 kali lebih rentan terhadap burnout. Perlakuan tidak adil ini dapat berupa anak emas, perlakuan yang salah dari rekan kerja dan atasan, hingga kompensasi atas pekerjaan yang tidak sebanding dengan pengorbanan pekerja.

Ketika pekerja merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan atau rekan kerjanya, hal ini dapat merusak ikatan kerja yang mungkin sudah terbangun sedemikian lama.

2. Tugas dan tanggung jawab yang tidak dapat dikelola

Pekerja yang memiliki performa tinggi dan optimis dalam setiap pekerjaannya bisa secara tiba-tiba merasa tidak berdaya dan tidak semangat dalam mengerjakan pekerjaannya. Hal ini diakibatkan workload pekerjaan yang tidak dapat dikelola sendiri.

Ketika workload tidak dapat dikelola oleh diri sendiri dan pekerjaan terasa berada di luar kontrol, pekerja harus segera membicarakan hal ini kepada manajemen dan juga HR untuk membantu mereka mengatasi masalah, entah dengan membagi-bagi tugas ke rekan kerja yang lain, atau merekrut pekerja baru atau intern untuk membantu sementara waktu.

3. Target pekerjaan yang blur

Sebuah studi yang dipublikasi oleh State of American Workplace, menyebut hanya 60 persen dari pekerja yang disurvei tidak tahu dengan pasti hasil apa yang diharapkan dari pekerjaan mereka. Ketika target pekerjaan hanya berfokus pada akuntabilitas dan ekspektasi, pekerja bisa merasa kelelahan karena tidak tahu target yang sebetulnya diinginkan oleh manajemen.

Manajemen yang baik adalah manajemen yang mampu mendiskusikan dan memberikan target pekerjaan yang jelas kepada pekerjanya dan berkolaborasi dengan mereka untuk memastikan bahwa target tersebut sudah jelas dan sejalan dengan target perusahaan.

4. Kurangnya komunikasi dan dukungan manajemen

Komunikasi dan dukungan dari manajemen dan rekan kerja ternyata berpengaruh akan tingkat kemungkinan pekerja terkena burnout. Sebanyak 70 persen pekerja setuju bahwa dukungan dan komunikasi dua arah dari manajemen sangat berarti untuk menurunkan resiko stres dan burnout akibat tugas dan tanggung jawab pekerjaan.

Sebaliknya, jika pekerja tidak mendapat dukungan dan komunikasi bersifat hanya satu arah dapat menyebabkan pekerja merasa diabaikan, terisolasi, dan defensif terhadap kritik dan masukan. Tentu saja, burnout juga menyertai pekerja yang tidak mendapat dukungan dan komunikasi satu arah ini.

5. Tekanan batas waktu kerja yang tidak wajar

Apakah Anda salah satu dari sekian banyak orang yang pernah berkata jika 24 jam rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaan? Hati-hati, ternyata batas waktu kerja bisa mempengaruhi mudahnya seseorang untuk terkena burnout.

Demi mendapatkan hasil kerja yang sempurna, pekerja sering tidak segan untuk lembur demi mengejar deadline. Sayangnya, mengejar deadline dan waktu kerja yang tidak masuk akal merupakan faktor penyebab burnout yang paling sering dijumpai. Pekerjaan yang memiliki deadline dan waktu kerja yang tidak masuk akal meningkatkan resiko burnout lebih cepat.

Pekerja yang burnout dapat merusak kemampuan perusahaan untuk melakukan decision-making hingga pelayanan terhadap customer atau klien.

Burnout memang tidak dapat dihindari. Namun, Anda dapat mencegahnya. Jika Anda adalah seorang pemimpin, Anda bisa mencoba untuk membuat lingkungan kerja yang lebih ramah terhadap pekerja. Ubah cara manajemen perusahaan untuk mencegah pekerja burnout dengan mendengarkan masukan atau keluhan dari pekerja.

CTA


Artikel ini dilansir dari Gallup, Healthline, dan Scientific American.

Written by Stefanny

Categories

Tags