Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Mitos Remote Work yang Harus Ditinggalkan

January 5, 2021

Pernahkah Anda mendengar mitos tentang prosesi tanam kepala kerbau sebelum sebuah konstruksi gedung dibangun? Atau mitos yang mengatakan bahwa kalau berwisata ke Pelabuhan Ratu, Anda dilarang memakai pakaian berwarna hijau?

Mitos-mitos pasti selalu ada dan berkembang di masyarakat. Termasuk mitos yang berkembang di kalangan HR dan manajemen perusahaan tentang remote work alias bekerja jarak jauh. Nyatanya, masih banyak HR dan manajemen yang percaya akan mitos remote work yang membuat mereka enggan memberikan kesempatan bagi pekerja untuk melakukan remote work--walaupun kini, mulai banyak yang mencoba mengimplementasikan gaya kerja baru ini kepada pekerja.

Fakta menunjukkan, semakin maju perkembangan zaman, remote work akan semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan. Apalagi, sejak pandemi COVID-19 merajalela di dunia dan membuat masyarakat harus mengisolasi diri dari dunia luar untuk menekan angka penyebaran virus. Perusahaan pun belajar untuk percaya dan mau tidak mau, menerapkan remote work ini untuk pekerjanya.

Dibalik banyaknya mitos yang berkembang tentang bekerja jarak jauh, banyak keuntungan yang bisa HR dan manajemen perusahaan raih dengan mengimplementasikan remote work bagi pekerja. Tidak hanya, HR dan manajemen, pekerja pun bisa merasakan dampak positif dari penerapan remote work dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Beberapa mitos dan fakta tentang remote work di bawah ini bisa membantu Anda, para HR dan manajemen, untuk mempertimbangkan penerapan remote work bagi pekerja:

  1. Pekerja remote tidak produktif

Ini adalah mitos remote work yang paling lazim dipercayai banyak HR, manajemen, bahkan hingga pekerja itu sendiri. Kekhawatiran terbesar adalah jika pekerja bekerja jarak jauh, maka mereka akan lebih “santai” dan tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Sebuah studi dari CoSo Cloud yang bekerja sama dengan Adobe Connect membuktikan bahwa 77 persen pekerja merasa lebih produktif dengan bekerja di luar kantor dan 55 persen lainnya menyatakan bahwa mereka jarang mengambil waktu cuti ketika bekerja secara remote. Survei yang juga dilakukan oleh Flexjobs pada 2018 juga menunjukkan bahwa 65 persen pekerja remote merasa lebih produktif bekerja di rumah dibanding di kantor.

Hal ini disebabkan karena pekerja tidak perlu berjibaku di jalan untuk pergi dan pulang dari kantor. Pekerja juga merasa terbebas dari politik kantor yang terkadang terkesan drama, dan pekerja bisa dengan mudah mengatur suasana ruang bekerja mereka senyaman mungkin.

2. Pekerja remote harus selalu dimonitor

Tentu saja tidak. Mitos ini merupakan kelanjutan dari mitos nomor satu. Karena pekerja yang tidak berada di kantor secara fisik, maka berkembanglah mitos bahwa HR dan manajemen harus selalu memantau pekerja agar mereka bisa bekerja dengan serius dan produktif.

Padahal, bekerja secara remote tidak memerlukan monitor intens dari HR dan manajemen. HR dan manajemen bisa untuk memonitor kinerja pekerja lewat teknologi yang ada sekarang dan mengecek pekerja mereka seminggu sekali atau dua minggu sekali.

Justru, terlalu banyak memonitor para pekerja dengan meminta mereka melakukan update secara berkala akan mengurangi produktivitas dan efektivitas mereka dalam pekerja.

3. Sebuah tim hanya akan sukses jika anggotanya berada di secara fisik di tempat yang sama

Tidak semua proyek tim harus didiskusikan secara tatap muka. Apalagi di era pandemi seperti sekarang, di mana berkumpul merupakan hal yang harus dihindari dan bahkan terlarang di beberapa tempat.

Sebuah studi menunjukkan bahwa sebuah tim akan sukses jika terbangun hubungan kepercayaan serta hubungan yang terpadu antar anggota. Kepala tim bisa mengajak anggotanya untuk berdiskusi dan brainstorming lewat video conference seperti Zoom atau Google Meet. Selain itu, pastikan komunikasi yang terjalin antar anggota berjalan dengan lancar dan kepala tim bisa berkoordinasi dengan anggotanya dengan baik.

4. Remote working bisa merusak budaya kerja

Menurut beberapa manajemen dan HR, budaya kerja hanya bisa terbentuk jika pekerja berkumpul di suatu tempat, misal kantor, dalam waktu yang lama dan terus-menerus. Faktanya, budaya kerja bisa terbentuk jika manajemen dan HR bisa menanamkan nilai dari budaya kerja kepada pekerjanya dengan baik, tidak peduli di mana mereka berada.

Masih banyak contoh pekerja yang mengadopsi budaya kerja perusahaannya walaupun bekerja secara remote, sebut saja perusahaan seperti Microsoft atau Tesla. Pekerja masih bisa melakukan temu kangen secara virtual dan mengadakan acara bersama yang bisa meningkatkan bonding secara virtual lewat teknologi video conference yang ada.

5. Beberapa pekerjaan tidak bisa diselesaikan jarak jauh

Dulu, pekerjaan seperti tenaga kesehatan harus dilakukan secara tatap muka, namun sejak pandemi, masyarakat mulai menyadari keberadaan aplikasi kesehatan yang mulai menjamur. Aplikasi kesehatan ini menawarkan berbagai macam fitur, salah satunya adalah berkonsultasi dengan dokter secara virtual dan membeli obat secara virtual.

Memang tidak semua pekerjaan bisa dilakukan jarak jauh, sebut saja petugas pemadam kebakaran atau kapster di salon. Namun, selalu ada cara untuk membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin dilakukan. Jika, pekerja, HR, dan manajemen bisa memastikan bahwa kebutuhan untuk bekerja dapat dilakukan di mana saja, maka bukan tidak mungkin pekerjaan yang awalnya membutuhkan tatap muka secara tradisional berubah menjadi jarak jauh dan virtual.

Seperti contoh di atas. Siapa sangka, bahwa kini konsultasi dengan tenaga kesehatan pun bisa dilakukan secara jarak jauh tanpa harus datang ke rumah sakit?

Tidak semua mitos itu benar adanya ketika dijalankan. Namanya juga mitos, belum tentu berisikan fakta sesungguhnya ketika diaplikasikan di dalam kehidupan nyata. HR dan manajemen juga harus pintar dalam melihat peluang dan menggunakan teknologi serta cara kreatif dalam menerapkan gaya kerja untuk pekerja.

Setelah membaca beberapa mitos dan fakta yang tersaji di atas, apakah Anda tertarik untuk mencoba gaya kerja baru ini untuk pekerja?

CTA

Artikel dilansir dari Inc, Talent Quarterly, HubSpot, dan Lemon Light.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Mitos Remote Work yang Harus Ditinggalkan

January 5, 2021

Pernahkah Anda mendengar mitos tentang prosesi tanam kepala kerbau sebelum sebuah konstruksi gedung dibangun? Atau mitos yang mengatakan bahwa kalau berwisata ke Pelabuhan Ratu, Anda dilarang memakai pakaian berwarna hijau?

Mitos-mitos pasti selalu ada dan berkembang di masyarakat. Termasuk mitos yang berkembang di kalangan HR dan manajemen perusahaan tentang remote work alias bekerja jarak jauh. Nyatanya, masih banyak HR dan manajemen yang percaya akan mitos remote work yang membuat mereka enggan memberikan kesempatan bagi pekerja untuk melakukan remote work--walaupun kini, mulai banyak yang mencoba mengimplementasikan gaya kerja baru ini kepada pekerja.

Fakta menunjukkan, semakin maju perkembangan zaman, remote work akan semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan. Apalagi, sejak pandemi COVID-19 merajalela di dunia dan membuat masyarakat harus mengisolasi diri dari dunia luar untuk menekan angka penyebaran virus. Perusahaan pun belajar untuk percaya dan mau tidak mau, menerapkan remote work ini untuk pekerjanya.

Dibalik banyaknya mitos yang berkembang tentang bekerja jarak jauh, banyak keuntungan yang bisa HR dan manajemen perusahaan raih dengan mengimplementasikan remote work bagi pekerja. Tidak hanya, HR dan manajemen, pekerja pun bisa merasakan dampak positif dari penerapan remote work dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Beberapa mitos dan fakta tentang remote work di bawah ini bisa membantu Anda, para HR dan manajemen, untuk mempertimbangkan penerapan remote work bagi pekerja:

  1. Pekerja remote tidak produktif

Ini adalah mitos remote work yang paling lazim dipercayai banyak HR, manajemen, bahkan hingga pekerja itu sendiri. Kekhawatiran terbesar adalah jika pekerja bekerja jarak jauh, maka mereka akan lebih “santai” dan tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Sebuah studi dari CoSo Cloud yang bekerja sama dengan Adobe Connect membuktikan bahwa 77 persen pekerja merasa lebih produktif dengan bekerja di luar kantor dan 55 persen lainnya menyatakan bahwa mereka jarang mengambil waktu cuti ketika bekerja secara remote. Survei yang juga dilakukan oleh Flexjobs pada 2018 juga menunjukkan bahwa 65 persen pekerja remote merasa lebih produktif bekerja di rumah dibanding di kantor.

Hal ini disebabkan karena pekerja tidak perlu berjibaku di jalan untuk pergi dan pulang dari kantor. Pekerja juga merasa terbebas dari politik kantor yang terkadang terkesan drama, dan pekerja bisa dengan mudah mengatur suasana ruang bekerja mereka senyaman mungkin.

2. Pekerja remote harus selalu dimonitor

Tentu saja tidak. Mitos ini merupakan kelanjutan dari mitos nomor satu. Karena pekerja yang tidak berada di kantor secara fisik, maka berkembanglah mitos bahwa HR dan manajemen harus selalu memantau pekerja agar mereka bisa bekerja dengan serius dan produktif.

Padahal, bekerja secara remote tidak memerlukan monitor intens dari HR dan manajemen. HR dan manajemen bisa untuk memonitor kinerja pekerja lewat teknologi yang ada sekarang dan mengecek pekerja mereka seminggu sekali atau dua minggu sekali.

Justru, terlalu banyak memonitor para pekerja dengan meminta mereka melakukan update secara berkala akan mengurangi produktivitas dan efektivitas mereka dalam pekerja.

3. Sebuah tim hanya akan sukses jika anggotanya berada di secara fisik di tempat yang sama

Tidak semua proyek tim harus didiskusikan secara tatap muka. Apalagi di era pandemi seperti sekarang, di mana berkumpul merupakan hal yang harus dihindari dan bahkan terlarang di beberapa tempat.

Sebuah studi menunjukkan bahwa sebuah tim akan sukses jika terbangun hubungan kepercayaan serta hubungan yang terpadu antar anggota. Kepala tim bisa mengajak anggotanya untuk berdiskusi dan brainstorming lewat video conference seperti Zoom atau Google Meet. Selain itu, pastikan komunikasi yang terjalin antar anggota berjalan dengan lancar dan kepala tim bisa berkoordinasi dengan anggotanya dengan baik.

4. Remote working bisa merusak budaya kerja

Menurut beberapa manajemen dan HR, budaya kerja hanya bisa terbentuk jika pekerja berkumpul di suatu tempat, misal kantor, dalam waktu yang lama dan terus-menerus. Faktanya, budaya kerja bisa terbentuk jika manajemen dan HR bisa menanamkan nilai dari budaya kerja kepada pekerjanya dengan baik, tidak peduli di mana mereka berada.

Masih banyak contoh pekerja yang mengadopsi budaya kerja perusahaannya walaupun bekerja secara remote, sebut saja perusahaan seperti Microsoft atau Tesla. Pekerja masih bisa melakukan temu kangen secara virtual dan mengadakan acara bersama yang bisa meningkatkan bonding secara virtual lewat teknologi video conference yang ada.

5. Beberapa pekerjaan tidak bisa diselesaikan jarak jauh

Dulu, pekerjaan seperti tenaga kesehatan harus dilakukan secara tatap muka, namun sejak pandemi, masyarakat mulai menyadari keberadaan aplikasi kesehatan yang mulai menjamur. Aplikasi kesehatan ini menawarkan berbagai macam fitur, salah satunya adalah berkonsultasi dengan dokter secara virtual dan membeli obat secara virtual.

Memang tidak semua pekerjaan bisa dilakukan jarak jauh, sebut saja petugas pemadam kebakaran atau kapster di salon. Namun, selalu ada cara untuk membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin dilakukan. Jika, pekerja, HR, dan manajemen bisa memastikan bahwa kebutuhan untuk bekerja dapat dilakukan di mana saja, maka bukan tidak mungkin pekerjaan yang awalnya membutuhkan tatap muka secara tradisional berubah menjadi jarak jauh dan virtual.

Seperti contoh di atas. Siapa sangka, bahwa kini konsultasi dengan tenaga kesehatan pun bisa dilakukan secara jarak jauh tanpa harus datang ke rumah sakit?

Tidak semua mitos itu benar adanya ketika dijalankan. Namanya juga mitos, belum tentu berisikan fakta sesungguhnya ketika diaplikasikan di dalam kehidupan nyata. HR dan manajemen juga harus pintar dalam melihat peluang dan menggunakan teknologi serta cara kreatif dalam menerapkan gaya kerja untuk pekerja.

Setelah membaca beberapa mitos dan fakta yang tersaji di atas, apakah Anda tertarik untuk mencoba gaya kerja baru ini untuk pekerja?

CTA

Artikel dilansir dari Inc, Talent Quarterly, HubSpot, dan Lemon Light.

Written by Stefanny

Categories

Tags