Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Bangun Internal Branding untuk Pekerja

January 13, 2021

Sebagai HR, pasti seringkali mendengar istilah “employer branding eksternal” untuk meningkatkan awareness kandidat akan perusahaan. Selain untuk meningkatkan awareness kandidat, employer branding juga berguna untuk membangun reputasi perusahaan dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk merekrut talent-talent terbaiknya. Tidak sampai di situ, employer branding juga membawa keuntungan bagi perusahaan dari segi pengurangan biaya perekrutan.

Selain employer branding eksternal, ternyata employer branding internal atau internal branding pun tidak kalah penting dari employer branding eksternal. Padahal, pekerja yang sudah menjadi bagian dari perusahaan juga penting untuk diperhatikan.

Dalam penelitian yang dipublikasi dalam Harvard Business Review, dikatakan, jika perusahaan memiliki employer branding internal yang buruk, maka hal tersebut akan mempengaruhi biaya pengeluaran perusahaan sebesar 10 persen lebih besar dibanding perusahaan yang menerapkan employer branding internal dengan baik. Selain itu, employer branding internal yang buruk juga bisa mempersulit perusahaan dalam mendapatkan kandidat berkualitas yang baru.

Internal branding yang baik juga dapat mengurangi angka turnover sebesar 28 persen. Lalu, pekerja yang merasa bahwa perusahaannya telah menerapkan internal branding  yang baik dapat dan meningkatkan reputasi perusahaan sebanyak 95 persen.

Studi yang dilakukan Glassdoor pun menyebut bahwa internal branding yang baik juga dapat menjadikan pekerjanya sebagai brand ambassador dan sebanyak 49 persen dari pekerja menyatakan bersedia untuk merekomendasikan perusahaannya ke kandidat berkualitas lain yang sedang mencari kerja.

Lantas, bagaimana cara membangun internal branding yang baik dan berkesan bagi pekerja?

  1. Temukan nilai visi dan misi dari perusahaan

Tanpa adanya nilai dan misi yang dimiliki perusahaan, maka sulit bagi pekerja untuk mengidentifikasi tujuan mereka dalam bekerja, pun dalam menjalankan kerja timnya. Nantinya, nilai visi dan misi dari perusahaan bisa mengubah mindset yang dimiliki pekerja, dari yang hanya sekadar “bekerja karena harus mencari uang” menjadi “bekerja karena ingin berkontribusi lebih besar dan baik kepada perusahaan”. Pekerja pun menjadi memiliki tujuan yang ingin digapai, tidak sekadar karena uang atau gaji serta manfaat yang beri perusahaan.

Pekerja yang memiliki motivasi bekerja untuk berkontribusi memiliki angka turnover rate yang lebih rendah dibanding pekerja yang memiliki motivasi hanya untuk mencari uang.

2. Ikutsertakan pekerja

Internal branding adalah tentang pekerja itu sendiri. Maka libatkan pekerja dalam employer branding yang akan dirumuskan oleh HR.

Mulai dari mencari feedback yang berarti dari pekerja, biarkan mereka menuangkan persepsi mereka atas perusahaan serta kekurangan yang harus diperbaiki dari perusahaan. Buat sebuah survei atau forum diskusi terbuka antar pekerja atau sesi Q&A antar pekerja, HR, dan manajemen, agar pekerja merasa menjadi bagian yang dianggap dan bermakna bagi perusahaan.

3. Beri identitas pada pekerja

Jika HR sudah berhasil membangun employer branding eksternal hingga berhasil “nempel” di benak kandidat atau para jobseeker, maka HR juga harus merumuskan internal branding yang juga catchy dan bisa “nempel” di benak pekerja.

Isi dari internal branding harus bisa diterjemahkan juga ke dalam kegiatan sehari-hari pekerja. HR juga harus membuat isi dan nilai dari employer branding eksternal dan internal branding sejalan dan seirama. Pastikan juga, isi dari internal branding bisa memberi pekerja sense of ownership.

4. Investasikan personalized employee experience

Dalam penerapan internal branding, penting untuk menginvestasikan pengalaman kerja pekerja alias employee experience dan melakukan personalisasi.

Jangan perlakukan pekerja hanya sebagai angka, seperti berapa banyak pekerja yang ada dan berapa penghasilan yang mereka dapatkan. Jangan perlakukan pekerja sebagai robot yang selalu siap sedia kapanpun manajemen membutuhkan. Tapi, perlakukan pekerja sebagai seorang individu yang memiliki kemampuan serta aset perusahaan yang paling berharga.

Cari tahu tujuan bekerja mereka, ketertarikan mereka. Dengan perlakuan yang baik dari perusahaan, maka pekerja pun bisa memperlakukan customer atau klien perusahaan dengan baik juga.

5. Adopsi penggunaan software untuk pekerja

Agar internal branding bisa berjalan dengan sukses, HR bisa mencoba menggunakan software yang bisa mengkoneksi seluruh pekerja dengan informasi terbaru mengenai perusahaan.

Software di sini bisa berbentuk media sosial atau newsletter untuk pekerja. Dari software ini, pekerja pun bisa lebih merasa terkoneksi dengan perusahaan dan mendapat informasi yang tepat dari perusahaan.

Internal branding akan selalu ada selama masih adanya pekerja. Jika perusahaan sudah memiliki program employer branding namun hanya dikhususkan untuk eksternal, maka awal tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai mencoba sesuatu yang baru, semisal meluaskan kembali konsep employer branding eksternal sekaligus internal branding juga.

CTA

Artikel ini dlansir dari Everyone Social, Interact Intranet, dan Enplug.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Bangun Internal Branding untuk Pekerja

January 13, 2021

Sebagai HR, pasti seringkali mendengar istilah “employer branding eksternal” untuk meningkatkan awareness kandidat akan perusahaan. Selain untuk meningkatkan awareness kandidat, employer branding juga berguna untuk membangun reputasi perusahaan dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk merekrut talent-talent terbaiknya. Tidak sampai di situ, employer branding juga membawa keuntungan bagi perusahaan dari segi pengurangan biaya perekrutan.

Selain employer branding eksternal, ternyata employer branding internal atau internal branding pun tidak kalah penting dari employer branding eksternal. Padahal, pekerja yang sudah menjadi bagian dari perusahaan juga penting untuk diperhatikan.

Dalam penelitian yang dipublikasi dalam Harvard Business Review, dikatakan, jika perusahaan memiliki employer branding internal yang buruk, maka hal tersebut akan mempengaruhi biaya pengeluaran perusahaan sebesar 10 persen lebih besar dibanding perusahaan yang menerapkan employer branding internal dengan baik. Selain itu, employer branding internal yang buruk juga bisa mempersulit perusahaan dalam mendapatkan kandidat berkualitas yang baru.

Internal branding yang baik juga dapat mengurangi angka turnover sebesar 28 persen. Lalu, pekerja yang merasa bahwa perusahaannya telah menerapkan internal branding  yang baik dapat dan meningkatkan reputasi perusahaan sebanyak 95 persen.

Studi yang dilakukan Glassdoor pun menyebut bahwa internal branding yang baik juga dapat menjadikan pekerjanya sebagai brand ambassador dan sebanyak 49 persen dari pekerja menyatakan bersedia untuk merekomendasikan perusahaannya ke kandidat berkualitas lain yang sedang mencari kerja.

Lantas, bagaimana cara membangun internal branding yang baik dan berkesan bagi pekerja?

  1. Temukan nilai visi dan misi dari perusahaan

Tanpa adanya nilai dan misi yang dimiliki perusahaan, maka sulit bagi pekerja untuk mengidentifikasi tujuan mereka dalam bekerja, pun dalam menjalankan kerja timnya. Nantinya, nilai visi dan misi dari perusahaan bisa mengubah mindset yang dimiliki pekerja, dari yang hanya sekadar “bekerja karena harus mencari uang” menjadi “bekerja karena ingin berkontribusi lebih besar dan baik kepada perusahaan”. Pekerja pun menjadi memiliki tujuan yang ingin digapai, tidak sekadar karena uang atau gaji serta manfaat yang beri perusahaan.

Pekerja yang memiliki motivasi bekerja untuk berkontribusi memiliki angka turnover rate yang lebih rendah dibanding pekerja yang memiliki motivasi hanya untuk mencari uang.

2. Ikutsertakan pekerja

Internal branding adalah tentang pekerja itu sendiri. Maka libatkan pekerja dalam employer branding yang akan dirumuskan oleh HR.

Mulai dari mencari feedback yang berarti dari pekerja, biarkan mereka menuangkan persepsi mereka atas perusahaan serta kekurangan yang harus diperbaiki dari perusahaan. Buat sebuah survei atau forum diskusi terbuka antar pekerja atau sesi Q&A antar pekerja, HR, dan manajemen, agar pekerja merasa menjadi bagian yang dianggap dan bermakna bagi perusahaan.

3. Beri identitas pada pekerja

Jika HR sudah berhasil membangun employer branding eksternal hingga berhasil “nempel” di benak kandidat atau para jobseeker, maka HR juga harus merumuskan internal branding yang juga catchy dan bisa “nempel” di benak pekerja.

Isi dari internal branding harus bisa diterjemahkan juga ke dalam kegiatan sehari-hari pekerja. HR juga harus membuat isi dan nilai dari employer branding eksternal dan internal branding sejalan dan seirama. Pastikan juga, isi dari internal branding bisa memberi pekerja sense of ownership.

4. Investasikan personalized employee experience

Dalam penerapan internal branding, penting untuk menginvestasikan pengalaman kerja pekerja alias employee experience dan melakukan personalisasi.

Jangan perlakukan pekerja hanya sebagai angka, seperti berapa banyak pekerja yang ada dan berapa penghasilan yang mereka dapatkan. Jangan perlakukan pekerja sebagai robot yang selalu siap sedia kapanpun manajemen membutuhkan. Tapi, perlakukan pekerja sebagai seorang individu yang memiliki kemampuan serta aset perusahaan yang paling berharga.

Cari tahu tujuan bekerja mereka, ketertarikan mereka. Dengan perlakuan yang baik dari perusahaan, maka pekerja pun bisa memperlakukan customer atau klien perusahaan dengan baik juga.

5. Adopsi penggunaan software untuk pekerja

Agar internal branding bisa berjalan dengan sukses, HR bisa mencoba menggunakan software yang bisa mengkoneksi seluruh pekerja dengan informasi terbaru mengenai perusahaan.

Software di sini bisa berbentuk media sosial atau newsletter untuk pekerja. Dari software ini, pekerja pun bisa lebih merasa terkoneksi dengan perusahaan dan mendapat informasi yang tepat dari perusahaan.

Internal branding akan selalu ada selama masih adanya pekerja. Jika perusahaan sudah memiliki program employer branding namun hanya dikhususkan untuk eksternal, maka awal tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai mencoba sesuatu yang baru, semisal meluaskan kembali konsep employer branding eksternal sekaligus internal branding juga.

CTA

Artikel ini dlansir dari Everyone Social, Interact Intranet, dan Enplug.

Written by Stefanny

Categories

Tags