Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

4 Poin Penting Bangun Employee Experience Kekinian

January 29, 2021

Workforce trend 2017 mengangkat employee experience sebagai salah satu trend yang akan berkembang di tahun 2018, dan ternyata tidak hanya menjadi tren untuk tahun 2018. Employee experience masih menjadi tren dan menjadi salah satu prioritas unggulan HR dan manajemen hingga kini. Walaupun angka pengangguran kembali mencapai puncaknya akibat pandemi dan banyak orang berbondong-bondong mencari kerja, namun hanya sedikit yang dapat memenuhi kualifikasi perusahaan.

Menurut survei yang dibuat Mercer dalam 2019 Global Talent Trends Study, 97 persen manajemen perusahaan bersiap mengantisipasi kompetisi dalam memperebutkan kandidat-kandidat bertalenta. Angka turnover pekerja yang tinggi pun masih menjadi momok tersendiri bagi perusahaan.

Perusahaan pun mulai berusaha menginvestasikan program terbaik untuk menjaga pekerja agar tetap “betah”. Mulai dari bonus tahunan, pemberian barang inventaris kekinian, asuransi kesehatan untuk pekerja dan keluarganya, hingga inisiatif-inisiatif lain untuk meningkatkan pengalaman positif pekerja dan meningkatkan engagement antara pekerja dan perusahaan.

Sayangnya, dalam Global Talent Trends Study: Connectivity in the Human Age, tetap saja, 1 dari 3 pekerja memilih untuk resign jika ada perusahaan lain yang dirasa lebih cocok dengan jati diri mereka. Fakta ini jadi alasan perusahaan mulai fokus kepada employee experience mereka.

Perusahaan mulai menyadari bahwa pekerja pun ingin diperlakukan sama seperti perusahaan memperlakukan customer mereka. Employee experience adalah “user experience” dari sebuah perusahaan. HR dan manajemen harus mengubah mindset mereka dari mengoptimalisasi segala benefits bagi pekerja, dan mulai mendesain end-to-end experience untuk pekerja.

Dalam bangun employee experience pun, HR dan manajemen patut mempertimbangkan hal-hal yang awalnya tidak terlalu menjadi perhatian serius dari HR dan manajemen. Lantas, apa yang diinginkan pekerja era kini untuk membangun employee experience? Ingat selalu 4 E ini:

  1. Enriching

Pekerja kini mencari arti dan pemenuhan rasa keingintahuan dari pekerjaan mereka. Pekerja ingin memiliki pekerjaan yang punya tujuan jelas. HR dan manajemen bisa menyelaraskan company’s purpose dan membantu pekerja untuk mengembangkan diri, belajar, dan memberikan kontribusi kepada company’s purpose.

2. Efficient

Pekerja menginginkan fasilitas dan sumber daya yang dapat membantu mereka mengerjakan pekerjaan lebih baik dan lebih cepat. Pastikan, inventaris yang diberikan perusahaan dapat membantu kinerja pekerja dalam efisiensi dan produktivitas mereka.

3. Embracing

Pekerja menginginkan lingkungan kerja yang memiliki sense of belonging dan community. Selain itu, pekerja juga menginginkan budaya kerja yang sehat untuk membuat mereka merasa diterima oleh lingkungan pekerjaan dan juga perusahaan.

4. Empathetic

Teknologi telah membuat manusia memiliki jarak antar satu sama lain. Pekerja merasa hanya terhubung dengan teknologi, tanpa adanya interaksi nyata dan rasa empati antar sesama pekerja. Padahal, sebagai manusia, pekerja juga butuh terkoneksi dengan sesama pekerja dan menumbuhkan rasa empati.

Keempat poin tersebut dapat diterjemahkan kembali untuk membangun strategi yang tepat dalam penerapan employee experience:

  1. Perlakukan pekerja seperti customer

Langkah pertama dalam bangun strategi employee experience adalah mengerti apa yang diinginkan pekerja dan kesulitan pekerja dalam menciptakan pengalaman positif selama bekerja. Atasi kesulitan pekerja sama seperti ketika manajemen mengatasi kesulitan yang dialami customer.

Buat persona seakan pekerja adalah customer juga. Dengan begitu, HR dan manajemen dapat lebih mudah dalam mencari penyelesaian masalah yang dihadapi pekerja dalam merasakan employee experience.

2. Gunakan “kacamata” pekerja

Dalam menyusun strategi employee experience, HR dan manajemen bisa memposisikan diri sebagai pekerja. Dengan memposisikan diri sebagai pekerja dan melihat permasalahan yang dialami pekerja dari point of view pekerja, HR dan manajemen bisa membuka pandangan dan mencari solusi terbaik untuk pekerja.

Semisal, dalam proses onboarding yang tidak efektif, permasalahan bukan terletak pada materi onboarding, namun di biaya perjalanan atau ongkos internet untuk video call yang terasa berat bagi pekerja. Dari sini, HR dan manajemen bisa berkoordinasi untuk melakukan reimburse untuk peserta onboarding.

3. Selaraskan employee experience sesuai divisi

Menciptakan employee experience untuk pekerja divisi marketing mungkin akan berbeda dengan menciptakan employee experience untuk pekerja divisi IT. selain membangun employee experience yang diperuntukkan secara general untuk seluruh pekerja, selaraskan employee experience sesuai dengan divisi yang ada di perusahaan.

Jangan lupakan, nilai efisiensi dalam penerapan employee experience. HR dan manajemen bisa mengembangkan atau berlangganan aplikasi yang dapat mempermudah pekerja dalam menikmati employee experience, seperti pengajuan cuti online.

4. Bangun solusi

HR dan manajemen bisa bawa permasalahan yang dihadapi pekerja dan strategi pemecahannya untuk menghasilkan employee experience yang optimal ke level eksekutif.

Ajak jajaran eksekutif untuk ikut mengimplementasikan employee experience dan memfasilitasi employee experience untuk membawa perubahan dalam tubuh organisasi pekerja.

Seperti kata Richard Branson, seorang entrepreneur kenamaan pemilik Virgin Group, “Clients do not come first. Employees come first. If you take care of your employees, they will take care of the clients.

Untuk memuaskan customer, perusahaan harus terlebih dahulu memuaskan pekerja dengan employee experience yang tepat. Ini merupakan langkah pertama untuk menciptakan customer satisfaction.

CTA

Artikel ini dilansir dari Mercer, Vantage Circle, dan Qualtrics.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

4 Poin Penting Bangun Employee Experience Kekinian

January 29, 2021

Workforce trend 2017 mengangkat employee experience sebagai salah satu trend yang akan berkembang di tahun 2018, dan ternyata tidak hanya menjadi tren untuk tahun 2018. Employee experience masih menjadi tren dan menjadi salah satu prioritas unggulan HR dan manajemen hingga kini. Walaupun angka pengangguran kembali mencapai puncaknya akibat pandemi dan banyak orang berbondong-bondong mencari kerja, namun hanya sedikit yang dapat memenuhi kualifikasi perusahaan.

Menurut survei yang dibuat Mercer dalam 2019 Global Talent Trends Study, 97 persen manajemen perusahaan bersiap mengantisipasi kompetisi dalam memperebutkan kandidat-kandidat bertalenta. Angka turnover pekerja yang tinggi pun masih menjadi momok tersendiri bagi perusahaan.

Perusahaan pun mulai berusaha menginvestasikan program terbaik untuk menjaga pekerja agar tetap “betah”. Mulai dari bonus tahunan, pemberian barang inventaris kekinian, asuransi kesehatan untuk pekerja dan keluarganya, hingga inisiatif-inisiatif lain untuk meningkatkan pengalaman positif pekerja dan meningkatkan engagement antara pekerja dan perusahaan.

Sayangnya, dalam Global Talent Trends Study: Connectivity in the Human Age, tetap saja, 1 dari 3 pekerja memilih untuk resign jika ada perusahaan lain yang dirasa lebih cocok dengan jati diri mereka. Fakta ini jadi alasan perusahaan mulai fokus kepada employee experience mereka.

Perusahaan mulai menyadari bahwa pekerja pun ingin diperlakukan sama seperti perusahaan memperlakukan customer mereka. Employee experience adalah “user experience” dari sebuah perusahaan. HR dan manajemen harus mengubah mindset mereka dari mengoptimalisasi segala benefits bagi pekerja, dan mulai mendesain end-to-end experience untuk pekerja.

Dalam bangun employee experience pun, HR dan manajemen patut mempertimbangkan hal-hal yang awalnya tidak terlalu menjadi perhatian serius dari HR dan manajemen. Lantas, apa yang diinginkan pekerja era kini untuk membangun employee experience? Ingat selalu 4 E ini:

  1. Enriching

Pekerja kini mencari arti dan pemenuhan rasa keingintahuan dari pekerjaan mereka. Pekerja ingin memiliki pekerjaan yang punya tujuan jelas. HR dan manajemen bisa menyelaraskan company’s purpose dan membantu pekerja untuk mengembangkan diri, belajar, dan memberikan kontribusi kepada company’s purpose.

2. Efficient

Pekerja menginginkan fasilitas dan sumber daya yang dapat membantu mereka mengerjakan pekerjaan lebih baik dan lebih cepat. Pastikan, inventaris yang diberikan perusahaan dapat membantu kinerja pekerja dalam efisiensi dan produktivitas mereka.

3. Embracing

Pekerja menginginkan lingkungan kerja yang memiliki sense of belonging dan community. Selain itu, pekerja juga menginginkan budaya kerja yang sehat untuk membuat mereka merasa diterima oleh lingkungan pekerjaan dan juga perusahaan.

4. Empathetic

Teknologi telah membuat manusia memiliki jarak antar satu sama lain. Pekerja merasa hanya terhubung dengan teknologi, tanpa adanya interaksi nyata dan rasa empati antar sesama pekerja. Padahal, sebagai manusia, pekerja juga butuh terkoneksi dengan sesama pekerja dan menumbuhkan rasa empati.

Keempat poin tersebut dapat diterjemahkan kembali untuk membangun strategi yang tepat dalam penerapan employee experience:

  1. Perlakukan pekerja seperti customer

Langkah pertama dalam bangun strategi employee experience adalah mengerti apa yang diinginkan pekerja dan kesulitan pekerja dalam menciptakan pengalaman positif selama bekerja. Atasi kesulitan pekerja sama seperti ketika manajemen mengatasi kesulitan yang dialami customer.

Buat persona seakan pekerja adalah customer juga. Dengan begitu, HR dan manajemen dapat lebih mudah dalam mencari penyelesaian masalah yang dihadapi pekerja dalam merasakan employee experience.

2. Gunakan “kacamata” pekerja

Dalam menyusun strategi employee experience, HR dan manajemen bisa memposisikan diri sebagai pekerja. Dengan memposisikan diri sebagai pekerja dan melihat permasalahan yang dialami pekerja dari point of view pekerja, HR dan manajemen bisa membuka pandangan dan mencari solusi terbaik untuk pekerja.

Semisal, dalam proses onboarding yang tidak efektif, permasalahan bukan terletak pada materi onboarding, namun di biaya perjalanan atau ongkos internet untuk video call yang terasa berat bagi pekerja. Dari sini, HR dan manajemen bisa berkoordinasi untuk melakukan reimburse untuk peserta onboarding.

3. Selaraskan employee experience sesuai divisi

Menciptakan employee experience untuk pekerja divisi marketing mungkin akan berbeda dengan menciptakan employee experience untuk pekerja divisi IT. selain membangun employee experience yang diperuntukkan secara general untuk seluruh pekerja, selaraskan employee experience sesuai dengan divisi yang ada di perusahaan.

Jangan lupakan, nilai efisiensi dalam penerapan employee experience. HR dan manajemen bisa mengembangkan atau berlangganan aplikasi yang dapat mempermudah pekerja dalam menikmati employee experience, seperti pengajuan cuti online.

4. Bangun solusi

HR dan manajemen bisa bawa permasalahan yang dihadapi pekerja dan strategi pemecahannya untuk menghasilkan employee experience yang optimal ke level eksekutif.

Ajak jajaran eksekutif untuk ikut mengimplementasikan employee experience dan memfasilitasi employee experience untuk membawa perubahan dalam tubuh organisasi pekerja.

Seperti kata Richard Branson, seorang entrepreneur kenamaan pemilik Virgin Group, “Clients do not come first. Employees come first. If you take care of your employees, they will take care of the clients.

Untuk memuaskan customer, perusahaan harus terlebih dahulu memuaskan pekerja dengan employee experience yang tepat. Ini merupakan langkah pertama untuk menciptakan customer satisfaction.

CTA

Artikel ini dilansir dari Mercer, Vantage Circle, dan Qualtrics.

Written by Stefanny

Categories

Tags