Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Tren HR 2021: Remote Working

December 29, 2020

Dalam hitungan hari, masyarakat akan menyongsong tahun yang baru. Data-data mengenai tren pekerja dan HR pun sudah banyak dipublikasi oleh perusahaan-perusahaan konsultan. Ada satu tren dari tahun 2020 yang diprediksi masih akan menjadi tren juga di tahun 2021--atau lebih tepatnya, selama pandemi masih ada di dunia.

Pandemi mengharuskan masyarakat untuk beraktivitas dari tempat tinggalnya masing-masing, termasuk dalam hal bekerja, untuk menekan angka penyebaran dan penularan virus COVID-19. Maka, muncullah konsep remote working alias bekerja jarak jauh--jarak jauh di sini yang berarti tempat tinggal. Mungkin, remote working bukan sebuah konsep bekerja yang baru bagi sebagian kecil orang. Namun bagi masyarakat yang bekerja pada umumnya, konsep bekerja dari tempat tinggal masih asing.

Bahkan, setelah diterapkan selama lebih kurang sepuluh bulan di Indonesia, masih ada beberapa dari masyarakat yang masih berusaha beradaptasi dan mengakali diri agar remote working bisa berjalan secara produktif dan efektif. Bagi pekerja, remote working sulit untuk dijalankan karena mereka merasa terasingkan, tidak dapat bersosialisasi dengan teman sekantor. Engagement dan budaya kerja yang telah terbangun selama bertahun-tahun antar rekan kerja, terasa sia-sia karena harus melakukan pekerjaan dari rumah.

Bagi sebagian tim manajemen, dan tim eksekutif perusahaan, pengaplikasian remote work juga menemui jalan terjal, akibat kurangnya kepercayaan antara tim manajemen ke pekerjanya. Lalu, alasan selanjutnya yang membuat remote work sulit untuk dijalankan adalah hilangnya budaya kerja yang terbangun di kantor akibat pekerja yang melakukan remote work.

Lalu, bagaimana cara agar remote work tetap bisa berjalan efektif dan produktif saat dunia tampaknya belum bisa pulih dari pandemi dalam beberapa waktu ke depan? Berikut, ada beberapa tips yang bisa HR jalankan untuk membangun remote work yang sukses, bagi manajemen, juga pekerja:

  1. Komunikasi secara terbuka dan sering

Remote work membuat gaya komunikasi pekerja berubah. Beberapa dari mereka mungkin merasa informasi tentang perusahaan yang biasanya mudah didapat, kini menjadi sulit untuk didapatkan. Remote work juga meningkatkan kemungkinan misinformasi antara pekerja dan manajemen.

Padahal keterbukaan dan penyampaian informasi tentang perusahaan penting dan dapat memberi dampak yang signifikan bagi perusahaan. Jika HR dan manajemen tidak memberikan informasi secara terbuka, maka ada kemungkinan pekerja untuk mencari informasi sendiri lewat media sosial atau situs pencari. Kemungkinan pekerja menjadi misinformasi juga tinggi karena informasi yang mereka dapat bukan dari perusahaan.

Bangunlah komunikasi secara dua arah antara manajemen, pekerja, dan juga HR, untuk meningkatkan kepercayaan pekerja kepada perusahaan dan menyukseskan program remote working.

2. Berikan kepercayaan kepada pekerja

Suksesnya remote work bergantung pada seberapa HR dan manajemen percaya akan pekerja untuk bekerja secara produktif dan efektif di tempatnya masing-masing, walaupun HR dan manajemen tidak dapat melihat dan mengontrol pekerja secara langsung.

Dalam survei yang dilakukan Gartner, 76 persen HR mengkhawatirkan produktifitas dan engagement pekerja yang berkurang ketika remote work, apalagi HR tidak dapat melihat dan mengontrol secara langsung kinerja pekerja di tempatnya masing-masing.

Padahal, dengan bekerja secara remote bisa menghindarkan pekerja dari interupsi-interupsi yang tidak penting seperti yang terjadi di kantor pada umumnya. Pekerja pun bisa mengalokasikan waktunya untuk bekerja secara baik dan meningkatkan produktivitas mereka.

3. Gencarkan penggunaan teknologi

Survei yang dilakukan Gartner menunjukkan 54 persen HR setuju bahwa permasalahan utama dalam remote working adalah kurangnya implementasi dan pengertian penggunaan teknologi menyebabkan remote working jadi tidak efektif.

Penggunaan teknologi menjadi semakin lazim bagi pekerja saat ini, tapi penggunaan teknologi untuk remote working masih belum lazim bagi pekerja. Diperlukan usaha untuk memberikan pekerja pengetahuan dan cara pemakaian teknologi yang dapat mendukung mereka untuk tetap produktif dan efektif dalam remote working.

Maksimalkan penggunaan teknologi cloud-based seperti Google Drive, penggunaan email dan pesan instan, serta media sosial internal untuk membantu pekerja dalam produktivitas, efektivitas, serta fleksibilitas dalam remote working.

4. Batasi waktu kerja

Remote work membuat pekerja menjadi tidak memiliki batasan waktu bekerja seperti di kantor. Seringkali, remote work juga tidak mengusung konsep lembur, padahal jam bekerja sudah lewat bagi pekerja. Pekerja pun seringkali dihadapkan pada meeting berkelanjutan hingga malam hari dengan video conference yang membuat mereka lelah.

HR bisa membantu pekerja untuk membuat batas waktu kerja agar pekerja tidak mudah burnout alias kelelahan. Selain itu, HR bisa mengecek keadaan pekerja dengan melakukan regular check-in serta menanyakan kabar pekerja dan komentar mereka akan pekerjaan yang mereka lakukan.

Tidak mudah untuk membangun lingkungan remote working yang bisa mengakomodasi kebutuhan seluruh pihak di perusahaan. Apalagi, semua divisi dan level di perusahaan juga sedang beradaptasi dengan gaya kerja remote working yang baru bagi mereka.

Namun, jika HR dan manajemen dapat mengimplementasikan keempat hal ini dalam penyesuaian remote work bagi pekerja, niscaya remote working akan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi pekerja dan perusahaan.

CTA

Artikel dilansir dari Gartner, Forbes, dan Fuze.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Tren HR 2021: Remote Working

December 29, 2020

Dalam hitungan hari, masyarakat akan menyongsong tahun yang baru. Data-data mengenai tren pekerja dan HR pun sudah banyak dipublikasi oleh perusahaan-perusahaan konsultan. Ada satu tren dari tahun 2020 yang diprediksi masih akan menjadi tren juga di tahun 2021--atau lebih tepatnya, selama pandemi masih ada di dunia.

Pandemi mengharuskan masyarakat untuk beraktivitas dari tempat tinggalnya masing-masing, termasuk dalam hal bekerja, untuk menekan angka penyebaran dan penularan virus COVID-19. Maka, muncullah konsep remote working alias bekerja jarak jauh--jarak jauh di sini yang berarti tempat tinggal. Mungkin, remote working bukan sebuah konsep bekerja yang baru bagi sebagian kecil orang. Namun bagi masyarakat yang bekerja pada umumnya, konsep bekerja dari tempat tinggal masih asing.

Bahkan, setelah diterapkan selama lebih kurang sepuluh bulan di Indonesia, masih ada beberapa dari masyarakat yang masih berusaha beradaptasi dan mengakali diri agar remote working bisa berjalan secara produktif dan efektif. Bagi pekerja, remote working sulit untuk dijalankan karena mereka merasa terasingkan, tidak dapat bersosialisasi dengan teman sekantor. Engagement dan budaya kerja yang telah terbangun selama bertahun-tahun antar rekan kerja, terasa sia-sia karena harus melakukan pekerjaan dari rumah.

Bagi sebagian tim manajemen, dan tim eksekutif perusahaan, pengaplikasian remote work juga menemui jalan terjal, akibat kurangnya kepercayaan antara tim manajemen ke pekerjanya. Lalu, alasan selanjutnya yang membuat remote work sulit untuk dijalankan adalah hilangnya budaya kerja yang terbangun di kantor akibat pekerja yang melakukan remote work.

Lalu, bagaimana cara agar remote work tetap bisa berjalan efektif dan produktif saat dunia tampaknya belum bisa pulih dari pandemi dalam beberapa waktu ke depan? Berikut, ada beberapa tips yang bisa HR jalankan untuk membangun remote work yang sukses, bagi manajemen, juga pekerja:

  1. Komunikasi secara terbuka dan sering

Remote work membuat gaya komunikasi pekerja berubah. Beberapa dari mereka mungkin merasa informasi tentang perusahaan yang biasanya mudah didapat, kini menjadi sulit untuk didapatkan. Remote work juga meningkatkan kemungkinan misinformasi antara pekerja dan manajemen.

Padahal keterbukaan dan penyampaian informasi tentang perusahaan penting dan dapat memberi dampak yang signifikan bagi perusahaan. Jika HR dan manajemen tidak memberikan informasi secara terbuka, maka ada kemungkinan pekerja untuk mencari informasi sendiri lewat media sosial atau situs pencari. Kemungkinan pekerja menjadi misinformasi juga tinggi karena informasi yang mereka dapat bukan dari perusahaan.

Bangunlah komunikasi secara dua arah antara manajemen, pekerja, dan juga HR, untuk meningkatkan kepercayaan pekerja kepada perusahaan dan menyukseskan program remote working.

2. Berikan kepercayaan kepada pekerja

Suksesnya remote work bergantung pada seberapa HR dan manajemen percaya akan pekerja untuk bekerja secara produktif dan efektif di tempatnya masing-masing, walaupun HR dan manajemen tidak dapat melihat dan mengontrol pekerja secara langsung.

Dalam survei yang dilakukan Gartner, 76 persen HR mengkhawatirkan produktifitas dan engagement pekerja yang berkurang ketika remote work, apalagi HR tidak dapat melihat dan mengontrol secara langsung kinerja pekerja di tempatnya masing-masing.

Padahal, dengan bekerja secara remote bisa menghindarkan pekerja dari interupsi-interupsi yang tidak penting seperti yang terjadi di kantor pada umumnya. Pekerja pun bisa mengalokasikan waktunya untuk bekerja secara baik dan meningkatkan produktivitas mereka.

3. Gencarkan penggunaan teknologi

Survei yang dilakukan Gartner menunjukkan 54 persen HR setuju bahwa permasalahan utama dalam remote working adalah kurangnya implementasi dan pengertian penggunaan teknologi menyebabkan remote working jadi tidak efektif.

Penggunaan teknologi menjadi semakin lazim bagi pekerja saat ini, tapi penggunaan teknologi untuk remote working masih belum lazim bagi pekerja. Diperlukan usaha untuk memberikan pekerja pengetahuan dan cara pemakaian teknologi yang dapat mendukung mereka untuk tetap produktif dan efektif dalam remote working.

Maksimalkan penggunaan teknologi cloud-based seperti Google Drive, penggunaan email dan pesan instan, serta media sosial internal untuk membantu pekerja dalam produktivitas, efektivitas, serta fleksibilitas dalam remote working.

4. Batasi waktu kerja

Remote work membuat pekerja menjadi tidak memiliki batasan waktu bekerja seperti di kantor. Seringkali, remote work juga tidak mengusung konsep lembur, padahal jam bekerja sudah lewat bagi pekerja. Pekerja pun seringkali dihadapkan pada meeting berkelanjutan hingga malam hari dengan video conference yang membuat mereka lelah.

HR bisa membantu pekerja untuk membuat batas waktu kerja agar pekerja tidak mudah burnout alias kelelahan. Selain itu, HR bisa mengecek keadaan pekerja dengan melakukan regular check-in serta menanyakan kabar pekerja dan komentar mereka akan pekerjaan yang mereka lakukan.

Tidak mudah untuk membangun lingkungan remote working yang bisa mengakomodasi kebutuhan seluruh pihak di perusahaan. Apalagi, semua divisi dan level di perusahaan juga sedang beradaptasi dengan gaya kerja remote working yang baru bagi mereka.

Namun, jika HR dan manajemen dapat mengimplementasikan keempat hal ini dalam penyesuaian remote work bagi pekerja, niscaya remote working akan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi pekerja dan perusahaan.

CTA

Artikel dilansir dari Gartner, Forbes, dan Fuze.

Written by Stefanny

Categories

Tags