Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Proses Rekrutment yang Baik, Pentingkah?

November 27, 2020

Banyaknya orang yang membutuhkan pekerjaan sekarang memang tidak sebanding dengan sedikitnya lowongan pekerjaan yang ada. Namun, bukan berarti rekruter bisa dengan mudah menemukan talenta berkualitas yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Bukan berarti juga, rekruter bisa memperlakukan kandidat semaunya. Justru, sebagai garda terdepan perusahaan di para kandidat, rekruter harus bisa memposisikan diri sebagai wakil perusahaan yang baik di mata kandidat.

Kandidat yang memiliki pengalaman buruk dengan proses rekrutmen sebuah perusahaan memiliki kemungkinan untuk menyebarkan pengalamannya di media sosial atau situs review perusahaan, dan membuat kandidat-kandidat lainnya yang berpotensi menjadi pekerja berkualitas di perusahaan enggan melamar. Review negatif mengenai proses rekrutmen yang buruk tidak hanya terjadi di perusahaan kecil, namun juga terjadi pada perusahaan besar atau bahkan terkenal. Hanya ada 59 perusahaan dari Fortune Global 500 yang memiliki skor 80 persen dalam kategori “would recommend to a friend” di situs Glassdoor.

Rekruter pun jadi kesulitan untuk mendapatkan pekerja yang berkualitas dan berkompetensi untuk perusahaan karena proses rekrutmen buruk yang dialami seorang kandidat. Tentu saja, hal ini merugikan perusahaan dari sisi biaya rekrutmen dan reputasinya.

Perusahaan harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar melakukan iklan lowongan pekerjaan di seluruh platform pencarian kerja, mengeluarkan lebih banyak biaya untuk memperbaiki reputasinya di mata kandidat, dan masih banyak lagi kerugian-kerugian yang harus ditanggung perusahaan akibat buruknya proses rekrutmen yang dirasakan oleh kandidat.

Dampak negatif inilah yang menjadi alasan pentingnya good candidate experience alias pengalaman rekrutmen yang baik. Lewat good candidate experience, rekruter bisa menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi akibat pengalaman proses rekrutmen yang buruk yang dirasakan oleh kandidat.. Terdapat lima fakta menarik yang bisa menjadi alasan kuat sebuah perusahaan untuk menerapkan good candidate experience untuk kandidatnya:

  1. 60 persen dari 1200 kandidat profesional yang disurvei pernah mengalami pengalaman proses rekrutmen yang buruk, di mana 72 persen dari mereka memutuskan untuk membagi pengalaman buruk mereka secara online atau ke orang lain secara langsung.
  2. 60 persen dari 374 HR profesional pernah membaca review negatif yang ditujukan ke proses rekrutmen perusahaannya.
  3. 80 persen kandidat yang tidak mendapat kabar tentang kelanjutan aplikasi lamarannya memutuskan untuk tidak kembali melamar ke perusahaan tersebut..
  4. 60 persen kandidat memutuskan batal melamar kerja karena proses aplikasi lamaran yang berbelit dan panjang
  5. 83 persen kandidat yang mengalami pengalaman buruk interview dengan rekruter biasa akan berpikir ulang untuk melanjutkan lamarannya atau bahkan melamar di perusahaan tersebut lagi.

Jika rekruter ingin meraih kandidat berkualitas dan berkompetensi sebanyaknya untuk talent pool dan merekrut mereka-mereka yang memiliki potensi dalam mengembangkan perusahaan, maka diperlukan proses rekrutmen yang baik pula. Beberapa pertanyaan ini bisa membantu rekruter untuk melakukan serta menerapkan proses rekrutmen yang baik:

  1. Apa ekspektasi kandidat terbaik menurut perusahaan?

Sebelum terjun ke lapangan, rekruter bisa membuat daftar ekspektasi mengenai kandidat untuk sebuah posisi. Hal ini dilakukan agar rekruter dan perusahaan dapat mendapat gambaran yang jelas mengenai ekspektasi yang diharapkan dari kandidat-kandidat yang mereka inginkan. Misalnya, ekspektasi yang dipasang untuk kandidat level eksekutif harus berbeda dengan ekspektasi untuk kandidat di level junior staff.

2. Apa impresi yang ingin disampaikan ke kandidat?

Menurut penelitian, impresi  pertama terbentuk dalam kurang dari 7 detik sejak pertama kali orang bertemu. Maka dari itu penting untuk membangun impresi tentang perusahaan lewat employer branding dan employee value proposition, agar kandidat semakin tertarik untuk melamar ke perusahaan.

Ilustrasi dari candidate awareness journey dari pengalaman proses rekrutmen yang baik (good candidate experience)

3. Bagaimana cara rekruter bangun hubungan dengan kandidat?

Hubungan yang baik dengan calon kandidat bisa dimulai dari mana saja. Sebut saja media sosial atau membuat event untuk calon kandidat atau newsletter untuk calon kandidat yang pernah masuk ke dalam situs perusahaan. Lewat kegiatan-kegiatan ini, calon kandidat bisa mempertimbangkan diri untuk melamar di perusahaan. Hubungan yang erat dengan calon kandidat juga dapat meningkatkan awareness mereka terhadap perusahaan.

4. Seperti apa bentuk dan tingkat kesulitan pengisian aplikasi lamaran yang nanti diisi oleh kandidat?

Good candidate experience biasanya melibatkan pertanyaan dan obrolan seputar proses aplikasi lamaran. Rata-rata, seorang kandidat menghabiskan sekitar 3 sampai 4 jam untuk membuat aplikasi lamaran dan jika aplikasi dirasa berbelit dan panjang, kandidat biasa memutuskan untuk tidak melanjutkan proses aplikasi lamaran.

5. Bagaimana proses interview kandidat akan berjalan?

Pengalaman rekrutmen yang baik juga melibatkan proses interview, malah proses interview menjadi bagian yang paling krusial dari proses rekrutmen. Jika rekruter gagal memberi impresi dan ekspektasi kepada kandidat, hal ini bisa menyebabkan kandidat yang rekruter inginkan dan sesuai dengan kualifikasi batal melanjutkan lamarannya dan memilih mencari perusahaan lain.

Penerapan proses rekrutmen yang mudah dan baik tidak hanya menguntungkan dari sisi kandidat, namun dapat meningkatkan reputasi perusahaan di mata calon kandidat lainnya, sehingga perusahaan dapat menghasilkan pekerja-pekerja berkompetensi tinggi dan daya saing yang baik.

CTA

Artikel ini dilansir dari Beamery, Lever, dan Smart Recruiters.

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Proses Rekrutment yang Baik, Pentingkah?

November 27, 2020

Banyaknya orang yang membutuhkan pekerjaan sekarang memang tidak sebanding dengan sedikitnya lowongan pekerjaan yang ada. Namun, bukan berarti rekruter bisa dengan mudah menemukan talenta berkualitas yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Bukan berarti juga, rekruter bisa memperlakukan kandidat semaunya. Justru, sebagai garda terdepan perusahaan di para kandidat, rekruter harus bisa memposisikan diri sebagai wakil perusahaan yang baik di mata kandidat.

Kandidat yang memiliki pengalaman buruk dengan proses rekrutmen sebuah perusahaan memiliki kemungkinan untuk menyebarkan pengalamannya di media sosial atau situs review perusahaan, dan membuat kandidat-kandidat lainnya yang berpotensi menjadi pekerja berkualitas di perusahaan enggan melamar. Review negatif mengenai proses rekrutmen yang buruk tidak hanya terjadi di perusahaan kecil, namun juga terjadi pada perusahaan besar atau bahkan terkenal. Hanya ada 59 perusahaan dari Fortune Global 500 yang memiliki skor 80 persen dalam kategori “would recommend to a friend” di situs Glassdoor.

Rekruter pun jadi kesulitan untuk mendapatkan pekerja yang berkualitas dan berkompetensi untuk perusahaan karena proses rekrutmen buruk yang dialami seorang kandidat. Tentu saja, hal ini merugikan perusahaan dari sisi biaya rekrutmen dan reputasinya.

Perusahaan harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar melakukan iklan lowongan pekerjaan di seluruh platform pencarian kerja, mengeluarkan lebih banyak biaya untuk memperbaiki reputasinya di mata kandidat, dan masih banyak lagi kerugian-kerugian yang harus ditanggung perusahaan akibat buruknya proses rekrutmen yang dirasakan oleh kandidat.

Dampak negatif inilah yang menjadi alasan pentingnya good candidate experience alias pengalaman rekrutmen yang baik. Lewat good candidate experience, rekruter bisa menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi akibat pengalaman proses rekrutmen yang buruk yang dirasakan oleh kandidat.. Terdapat lima fakta menarik yang bisa menjadi alasan kuat sebuah perusahaan untuk menerapkan good candidate experience untuk kandidatnya:

  1. 60 persen dari 1200 kandidat profesional yang disurvei pernah mengalami pengalaman proses rekrutmen yang buruk, di mana 72 persen dari mereka memutuskan untuk membagi pengalaman buruk mereka secara online atau ke orang lain secara langsung.
  2. 60 persen dari 374 HR profesional pernah membaca review negatif yang ditujukan ke proses rekrutmen perusahaannya.
  3. 80 persen kandidat yang tidak mendapat kabar tentang kelanjutan aplikasi lamarannya memutuskan untuk tidak kembali melamar ke perusahaan tersebut..
  4. 60 persen kandidat memutuskan batal melamar kerja karena proses aplikasi lamaran yang berbelit dan panjang
  5. 83 persen kandidat yang mengalami pengalaman buruk interview dengan rekruter biasa akan berpikir ulang untuk melanjutkan lamarannya atau bahkan melamar di perusahaan tersebut lagi.

Jika rekruter ingin meraih kandidat berkualitas dan berkompetensi sebanyaknya untuk talent pool dan merekrut mereka-mereka yang memiliki potensi dalam mengembangkan perusahaan, maka diperlukan proses rekrutmen yang baik pula. Beberapa pertanyaan ini bisa membantu rekruter untuk melakukan serta menerapkan proses rekrutmen yang baik:

  1. Apa ekspektasi kandidat terbaik menurut perusahaan?

Sebelum terjun ke lapangan, rekruter bisa membuat daftar ekspektasi mengenai kandidat untuk sebuah posisi. Hal ini dilakukan agar rekruter dan perusahaan dapat mendapat gambaran yang jelas mengenai ekspektasi yang diharapkan dari kandidat-kandidat yang mereka inginkan. Misalnya, ekspektasi yang dipasang untuk kandidat level eksekutif harus berbeda dengan ekspektasi untuk kandidat di level junior staff.

2. Apa impresi yang ingin disampaikan ke kandidat?

Menurut penelitian, impresi  pertama terbentuk dalam kurang dari 7 detik sejak pertama kali orang bertemu. Maka dari itu penting untuk membangun impresi tentang perusahaan lewat employer branding dan employee value proposition, agar kandidat semakin tertarik untuk melamar ke perusahaan.

Ilustrasi dari candidate awareness journey dari pengalaman proses rekrutmen yang baik (good candidate experience)

3. Bagaimana cara rekruter bangun hubungan dengan kandidat?

Hubungan yang baik dengan calon kandidat bisa dimulai dari mana saja. Sebut saja media sosial atau membuat event untuk calon kandidat atau newsletter untuk calon kandidat yang pernah masuk ke dalam situs perusahaan. Lewat kegiatan-kegiatan ini, calon kandidat bisa mempertimbangkan diri untuk melamar di perusahaan. Hubungan yang erat dengan calon kandidat juga dapat meningkatkan awareness mereka terhadap perusahaan.

4. Seperti apa bentuk dan tingkat kesulitan pengisian aplikasi lamaran yang nanti diisi oleh kandidat?

Good candidate experience biasanya melibatkan pertanyaan dan obrolan seputar proses aplikasi lamaran. Rata-rata, seorang kandidat menghabiskan sekitar 3 sampai 4 jam untuk membuat aplikasi lamaran dan jika aplikasi dirasa berbelit dan panjang, kandidat biasa memutuskan untuk tidak melanjutkan proses aplikasi lamaran.

5. Bagaimana proses interview kandidat akan berjalan?

Pengalaman rekrutmen yang baik juga melibatkan proses interview, malah proses interview menjadi bagian yang paling krusial dari proses rekrutmen. Jika rekruter gagal memberi impresi dan ekspektasi kepada kandidat, hal ini bisa menyebabkan kandidat yang rekruter inginkan dan sesuai dengan kualifikasi batal melanjutkan lamarannya dan memilih mencari perusahaan lain.

Penerapan proses rekrutmen yang mudah dan baik tidak hanya menguntungkan dari sisi kandidat, namun dapat meningkatkan reputasi perusahaan di mata calon kandidat lainnya, sehingga perusahaan dapat menghasilkan pekerja-pekerja berkompetensi tinggi dan daya saing yang baik.

CTA

Artikel ini dilansir dari Beamery, Lever, dan Smart Recruiters.

Written by Stefanny

Categories

Tags