Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Miskonsepsi dan Aspek Penting dalam Terapkan Budaya Kerja

November 20, 2020

Budaya kerja alias workplace culture merupakan istilah yang paling sering disalahartikan dalam sebuah institusi perusahaan atau organisasi. Persepsi umum yang dimiliki oleh budaya tempat kerja adalah bahwa budaya itu merupakan kepribadian organisasi, terlepas dari individu yang terdapat di dalamnya. Sayangnya, persepsi ini merupakan persepsi yang salah.

Budaya kerja merupakan budaya yang dianut oleh individu yang terikat di dalamnya. Budaya kerja terbentuk akibat persamaan nilai, kepercayaan, tingkah laku, hingga asumsi yang terbangun oleh tim yang berada di tempat kerja tersebut. Pengetahuan kolektif tim inilah yang membentuk struktur operasional sebuah perusahaan.

Membangun budaya kerja yang kuat dan sehat tentu saja membutuhkan waktu, konsistensi serta komitmen yang dituangkan ke dalam komunikasi dan transparansi yang terbangun secara bersama dalam setiap level pekerjaan yang ada di tempat kerja tersebut. Menanamkan budaya kerja harus menjadi prioritas sejak awal seorang talent masuk ke dalam lingkup perusahaan, tanpa terkecuali. Apakah budaya yang terbangun nantinya bisa jadi budaya kerja yang tidak sehat atau sehat, semua tergantung dari bagaimana pekerja mengimplementasikan nilai-nilai yang ada.

Terdapat beberapa miskonsepsi yang salah dalam membangun sebuah budaya kerja di tempat kerja, yaitu:

  1. Budaya kerja yang baik tidak menakut-nakuti pekerjanya. Menakut-nakuti pekerja dengan hukuman dan sanksi jika pekerja tidak mencapai KPI bukanlah pilihan yang tepat untuk membangun budaya kerja yang baik. Budaya kerja dengan hukuman dan sanksi hanya bisa membangun budaya yang instan, namun mudah untuk dihancurkan dan berpotensi merusak citra perusahaan.
  2. Budaya kerja yang baik adalah gaji tinggi dan benefit yang banyak. Tidak, konsep ini merupakan konsep budaya kerja yang salah. Memang, gaji yang tinggi dan benefit yang banyak untuk pekerja bisa membuat pekerja merasa bahagia, namun ada baiknya budaya kerja terbangun atas dasar nilai dan tujuan yang dianut oleh pekerja dan perusahaan secara bersama, bukan berdasar materi dan keuntungan yang didapat masing-masing individu yang bekerja.

3. Budaya kerja datang dari HR. Salah. Bukan hanya HR yang harus bersusah payah memikirkan, mengkampanyekan, dan mengimplementasikan budaya kerja yang baik di tengah pekerja. Pemimpin juga harus mengimplementasikan budaya kerja yang baik agar bisa menjadi contoh bagi pekerjanya. Pekerja pun harus bisa mengimplementasikan budaya kerja yang ada selama berada di tempat kerja. Komitmen inilah yang harus dipegang secara bersama, mulai dari level terendah di perusahaan hingga level C-Suite.

4. Budaya kerja yang baik adalah pekerja yang bahagia, tanpa ada konflik, dan sedikit kesalahan dalam bekerja. Tentu saja ini merupakan miskonsepsi dalam membangun budaya kerja. Harus ada keseimbangan dalam setiap emosi positif dan negaif yang dikeluarkan oleh pekerja. Konflik juga tidak selamanya berdampak negatif, konflik bisa membawa nilai positif jika setelahnya didapati jalan keluar dan penyelesaian yang bermanfaat dari pihak-pihak yang berkonflik. Kesalahan dalam bekerja merupakan hal yang normal. Justru lewat kesalahan inilah, orang bisa terus belajar dan mengubah diri mereka ke arah yang lebih baik.

Untuk itulah, dalam menerapkan budaya kerja, Anda perlu mengerti tentang tujuh aspek esensial penting terkandung dalam budaya kerja agar bisa berdampak positif untuk organisasi atau perusahaan yang lebih baik, antara lain:

  1. Tujuan

Berikan gambaran tujuan yang jelas bagi setiap pekerja untuk meningkatkan antusiasme mereka dalam bekerja. Dengan adanya tujuan, pekerja pun dapat memberikan proses kerja serta tingkah laku yang terbaik dalam bekerja.

2. Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar dapat membantu pekerja untuk meningkatkan skill serta kepuasan mereka dalam bekerja. Tentu saja, perusahaan atau organisasi dapat merasakan manfaat jika memberikan kesempatan belajar bagi pekerjanya. Kepuasan mereka dalam bekerja nantinya dapat berdampak positif pula dengan budaya kerja yang mereka cerminkan sehari-hari.

3. Apresiasi

Dalam setiap kegiatan, apresiasi dibutuhkan untuk meningkatkan semangat dan daya juang setiap pekerja. Selain itu, apresiasi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesadaran akan kemampuan diri pekerja. Sebuah perusahaan atau organisasi yang rutin memberi apresiasi kepada pekerjanya bisa meningkatkan engagement dan performa kerja mereka.

4. Kesejahteraan

Kesejahteraan bukan hanya tentang gaji atau finansiali. Kesejahteraan pekerja dapat terukur dari kesehatan fisik, kesehatan mental, hingga kesejahteraan sosial. Perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pekerjanya dan bisa bersikap empati bisa membawa kultur atau budaya kerja yang positif kepada pekerjanya.

5. Teamwork

Budaya kerja teamwork merupakan tanggung jawab bersama yang membantu pekerja dalam memecahkan masalah dan membangun produktivitas di tempat kerja. Lewat budaya kerja teamwork, perusahaan dapat mendorong pekerja untuk membentuk hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

6. Rasa hormat dan adil

Tidak ada yang mau membangun budaya kerja berdasarkan bias dan ketidakadilan yang bisa berakibat pada lingkungan kerja yang tidak sehat. Perusahaan harus mendorong para pekerjanya untuk bertindak adil dan hormat terhadap sesama.

7. Kepemimpinan

Pemimpin yang baik haruslah dapat menjadi contoh yang baik pula bagi pekerja yang berada dalam naungannya. Bagaimana seorang pemimpin membangun strategi dapat menjadi cerminan dari hasil akhir bisnis dan produktivitas pekerja. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan cepat dan fleksibel dalam segala tantangan yang ada. Dengan pemimpin yang baik, maka budaya kerja yang positif dan membangun bukan lagi sekadar khayalan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Forbes, Vantage Circle, dan Entrepreneur

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Miskonsepsi dan Aspek Penting dalam Terapkan Budaya Kerja

November 20, 2020

Budaya kerja alias workplace culture merupakan istilah yang paling sering disalahartikan dalam sebuah institusi perusahaan atau organisasi. Persepsi umum yang dimiliki oleh budaya tempat kerja adalah bahwa budaya itu merupakan kepribadian organisasi, terlepas dari individu yang terdapat di dalamnya. Sayangnya, persepsi ini merupakan persepsi yang salah.

Budaya kerja merupakan budaya yang dianut oleh individu yang terikat di dalamnya. Budaya kerja terbentuk akibat persamaan nilai, kepercayaan, tingkah laku, hingga asumsi yang terbangun oleh tim yang berada di tempat kerja tersebut. Pengetahuan kolektif tim inilah yang membentuk struktur operasional sebuah perusahaan.

Membangun budaya kerja yang kuat dan sehat tentu saja membutuhkan waktu, konsistensi serta komitmen yang dituangkan ke dalam komunikasi dan transparansi yang terbangun secara bersama dalam setiap level pekerjaan yang ada di tempat kerja tersebut. Menanamkan budaya kerja harus menjadi prioritas sejak awal seorang talent masuk ke dalam lingkup perusahaan, tanpa terkecuali. Apakah budaya yang terbangun nantinya bisa jadi budaya kerja yang tidak sehat atau sehat, semua tergantung dari bagaimana pekerja mengimplementasikan nilai-nilai yang ada.

Terdapat beberapa miskonsepsi yang salah dalam membangun sebuah budaya kerja di tempat kerja, yaitu:

  1. Budaya kerja yang baik tidak menakut-nakuti pekerjanya. Menakut-nakuti pekerja dengan hukuman dan sanksi jika pekerja tidak mencapai KPI bukanlah pilihan yang tepat untuk membangun budaya kerja yang baik. Budaya kerja dengan hukuman dan sanksi hanya bisa membangun budaya yang instan, namun mudah untuk dihancurkan dan berpotensi merusak citra perusahaan.
  2. Budaya kerja yang baik adalah gaji tinggi dan benefit yang banyak. Tidak, konsep ini merupakan konsep budaya kerja yang salah. Memang, gaji yang tinggi dan benefit yang banyak untuk pekerja bisa membuat pekerja merasa bahagia, namun ada baiknya budaya kerja terbangun atas dasar nilai dan tujuan yang dianut oleh pekerja dan perusahaan secara bersama, bukan berdasar materi dan keuntungan yang didapat masing-masing individu yang bekerja.

3. Budaya kerja datang dari HR. Salah. Bukan hanya HR yang harus bersusah payah memikirkan, mengkampanyekan, dan mengimplementasikan budaya kerja yang baik di tengah pekerja. Pemimpin juga harus mengimplementasikan budaya kerja yang baik agar bisa menjadi contoh bagi pekerjanya. Pekerja pun harus bisa mengimplementasikan budaya kerja yang ada selama berada di tempat kerja. Komitmen inilah yang harus dipegang secara bersama, mulai dari level terendah di perusahaan hingga level C-Suite.

4. Budaya kerja yang baik adalah pekerja yang bahagia, tanpa ada konflik, dan sedikit kesalahan dalam bekerja. Tentu saja ini merupakan miskonsepsi dalam membangun budaya kerja. Harus ada keseimbangan dalam setiap emosi positif dan negaif yang dikeluarkan oleh pekerja. Konflik juga tidak selamanya berdampak negatif, konflik bisa membawa nilai positif jika setelahnya didapati jalan keluar dan penyelesaian yang bermanfaat dari pihak-pihak yang berkonflik. Kesalahan dalam bekerja merupakan hal yang normal. Justru lewat kesalahan inilah, orang bisa terus belajar dan mengubah diri mereka ke arah yang lebih baik.

Untuk itulah, dalam menerapkan budaya kerja, Anda perlu mengerti tentang tujuh aspek esensial penting terkandung dalam budaya kerja agar bisa berdampak positif untuk organisasi atau perusahaan yang lebih baik, antara lain:

  1. Tujuan

Berikan gambaran tujuan yang jelas bagi setiap pekerja untuk meningkatkan antusiasme mereka dalam bekerja. Dengan adanya tujuan, pekerja pun dapat memberikan proses kerja serta tingkah laku yang terbaik dalam bekerja.

2. Kesempatan Belajar

Kesempatan belajar dapat membantu pekerja untuk meningkatkan skill serta kepuasan mereka dalam bekerja. Tentu saja, perusahaan atau organisasi dapat merasakan manfaat jika memberikan kesempatan belajar bagi pekerjanya. Kepuasan mereka dalam bekerja nantinya dapat berdampak positif pula dengan budaya kerja yang mereka cerminkan sehari-hari.

3. Apresiasi

Dalam setiap kegiatan, apresiasi dibutuhkan untuk meningkatkan semangat dan daya juang setiap pekerja. Selain itu, apresiasi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesadaran akan kemampuan diri pekerja. Sebuah perusahaan atau organisasi yang rutin memberi apresiasi kepada pekerjanya bisa meningkatkan engagement dan performa kerja mereka.

4. Kesejahteraan

Kesejahteraan bukan hanya tentang gaji atau finansiali. Kesejahteraan pekerja dapat terukur dari kesehatan fisik, kesehatan mental, hingga kesejahteraan sosial. Perusahaan yang memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pekerjanya dan bisa bersikap empati bisa membawa kultur atau budaya kerja yang positif kepada pekerjanya.

5. Teamwork

Budaya kerja teamwork merupakan tanggung jawab bersama yang membantu pekerja dalam memecahkan masalah dan membangun produktivitas di tempat kerja. Lewat budaya kerja teamwork, perusahaan dapat mendorong pekerja untuk membentuk hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

6. Rasa hormat dan adil

Tidak ada yang mau membangun budaya kerja berdasarkan bias dan ketidakadilan yang bisa berakibat pada lingkungan kerja yang tidak sehat. Perusahaan harus mendorong para pekerjanya untuk bertindak adil dan hormat terhadap sesama.

7. Kepemimpinan

Pemimpin yang baik haruslah dapat menjadi contoh yang baik pula bagi pekerja yang berada dalam naungannya. Bagaimana seorang pemimpin membangun strategi dapat menjadi cerminan dari hasil akhir bisnis dan produktivitas pekerja. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan cepat dan fleksibel dalam segala tantangan yang ada. Dengan pemimpin yang baik, maka budaya kerja yang positif dan membangun bukan lagi sekadar khayalan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Forbes, Vantage Circle, dan Entrepreneur

Written by Stefanny

Categories

Tags