Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

Good Work, Bad Attitude Worker, HR Harus Apa?

October 7, 2020

Hati manusia tidak bisa ditebak. Setiap dari mereka memiliki kebiasaan dan sifat-sifat alami yang memang diciptakan Yang Maha Kuasa unik dan berbeda satu sama lain. Bisa saja, saat dia baru menjadi bagian dari tim di perusahaan, dia adalah seorang yang baik dan memiliki sikap serta tingkah laku yang mengesankan, namun siapa sangka, beberapa tahun setelahnya, setelah dia mendapat promosi dan jabatan, orang tersebut menjadi menyebalkan. Sikap dan tingkah lakunya membuat pekerja lain tidak nyaman dan terganggu.

Sebagai orang yang menyaksikan perkembangannya, Anda menjadi menghadapi dilema yang besar. Beberapa rekan kerja mulai mengeluhkan sikap dan tingkah lakunya yang kelewat batas dan sering tidak mematuhi regulasi dan nilai perusahaan. Sayangnya, performanya dalam bekerja sangat baik. Target yang diberi perusahaan selalu dicapai dan bahkan melewati dari apa yang diharapkan. Anda sudah berusaha menegurnya, namun tetap saja, sikapnya tidak berubah ke arah yang lebih baik.

Mungkin, Anda adalah salah satu human resource yang pernah mengalami kondisi dilema seperti ini dan merasakan kebimbingan yang amat sangat ketika diharuskan untuk mengambil keputusan. Sebuah riset dari Gallup Research mengatakan dalam laporan ilmiahnya, perusahaan bisa merugi 16 ribu dolar Amerika Serikat setiap tahunnya akibat mempertahankan pekerja yang arogan.

Pertimbangan di bawah ini bisa jadi membantu Anda dalam mengambil keputusan mengenai apakah si arogan namun pekerja yang ulung ini pantas untuk dipertahankan atau lebih baik diberhentikan.

1. Cari bukti dari dampak sikap buruknya

Sebelum menegur--mungkin sedikit memberi petuah dan nasihat--Anda harus terlebih dahulu mencari bukti yang cukup dan kuat akan dampak dari sikap buruknya terhadap pekerja lain dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja pekerja lain. Semisal, adakah pekerja Anda yang resign karena si arogan ini? Adakah pekerja Anda yang menghindari untuk bekerja sama dengan si arogan?

2. Mengerti dari mana sikap buruk ini datang

Cari tahu asal mula dari sikap buruk yang ada pada si arogan ini. Sikap buruk yang ditunjukkan si pekerja arogan ini terkadang memang sudah terpupuk sejak kecil. Mungkin sejak kecil hingga dewasa, dia adalah seorang yang independen dan memiliki sikap dominan yang keras. Jika sudah seperti ini, berarti sikap tersebut memang sudah natural ada di dalam dirinya. Ada kalanya, sikap buruk ini muncul sekadar untuk membuat pekerjaannya cepat selesai dan mendapat pujian.

3. Konsekuensi dari sikap buruknya

Anda harus mencoba mencari tahu dan bertanya ke rekan-rekan kerjanya, dampak apa yang mereka rasakan ketika harus bekerja dengan si arogan. Tuliskan daftar perasaan dan apa yang rekan kerjanya pikirkan terhadap si arogan. Dari daftar tersebut, coba Anda pikirkan konsekuensi apa yang akan terjadi jika Anda mempertahankan si arogan dan apa yang akan terjadi jika Anda memberhentikannya.

4. Gunakan peraturan dan regulasi perusahaan untuk menilai

Setiap perusahaan pasti memiliki regulasi dan aturan yang dibuat agar suasana bekerja menjadi nyaman dan membuat para pekerjanya produktif. Coba tengok regulasi dan aturan ini, kira-kira pelanggaran apa saja yang pernah dilakukan oleh si pekerja cerdas nan arogan dan dampaknya terhadap perusahaan dan kinerja rekan kerjanya.

Jika Anda memutuskan untuk memberhentikan pekerja cerdas namun arogan ini, percayalah, tidak perlu merasa bersalah karena telah memberhentikan aset perusahaan yang cemerlang. Pemberhentian pekerja semacam ini akan membawa dampak yang baik baik perusahaan. Rekan-rekan kerjanya yang lain akan merasa lega dan bisa bekerja lebih produktif lagi, atau bahkan kinerja mereka bisa mengalahkan si pekerja cerdas arogan ini, namun dengan sikap yang juga cerdas. Tidak ada yang lebih baik dan menyenangkan daripada mengutamakan kebahagiaan pekerja dan kesehatan mental mereka selama bekerja daripada mengorbankan mereka demi si pekerja cerdas nan arogan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Dando Advisors dan LinkedIn

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

Good Work, Bad Attitude Worker, HR Harus Apa?

October 7, 2020

Hati manusia tidak bisa ditebak. Setiap dari mereka memiliki kebiasaan dan sifat-sifat alami yang memang diciptakan Yang Maha Kuasa unik dan berbeda satu sama lain. Bisa saja, saat dia baru menjadi bagian dari tim di perusahaan, dia adalah seorang yang baik dan memiliki sikap serta tingkah laku yang mengesankan, namun siapa sangka, beberapa tahun setelahnya, setelah dia mendapat promosi dan jabatan, orang tersebut menjadi menyebalkan. Sikap dan tingkah lakunya membuat pekerja lain tidak nyaman dan terganggu.

Sebagai orang yang menyaksikan perkembangannya, Anda menjadi menghadapi dilema yang besar. Beberapa rekan kerja mulai mengeluhkan sikap dan tingkah lakunya yang kelewat batas dan sering tidak mematuhi regulasi dan nilai perusahaan. Sayangnya, performanya dalam bekerja sangat baik. Target yang diberi perusahaan selalu dicapai dan bahkan melewati dari apa yang diharapkan. Anda sudah berusaha menegurnya, namun tetap saja, sikapnya tidak berubah ke arah yang lebih baik.

Mungkin, Anda adalah salah satu human resource yang pernah mengalami kondisi dilema seperti ini dan merasakan kebimbingan yang amat sangat ketika diharuskan untuk mengambil keputusan. Sebuah riset dari Gallup Research mengatakan dalam laporan ilmiahnya, perusahaan bisa merugi 16 ribu dolar Amerika Serikat setiap tahunnya akibat mempertahankan pekerja yang arogan.

Pertimbangan di bawah ini bisa jadi membantu Anda dalam mengambil keputusan mengenai apakah si arogan namun pekerja yang ulung ini pantas untuk dipertahankan atau lebih baik diberhentikan.

1. Cari bukti dari dampak sikap buruknya

Sebelum menegur--mungkin sedikit memberi petuah dan nasihat--Anda harus terlebih dahulu mencari bukti yang cukup dan kuat akan dampak dari sikap buruknya terhadap pekerja lain dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja pekerja lain. Semisal, adakah pekerja Anda yang resign karena si arogan ini? Adakah pekerja Anda yang menghindari untuk bekerja sama dengan si arogan?

2. Mengerti dari mana sikap buruk ini datang

Cari tahu asal mula dari sikap buruk yang ada pada si arogan ini. Sikap buruk yang ditunjukkan si pekerja arogan ini terkadang memang sudah terpupuk sejak kecil. Mungkin sejak kecil hingga dewasa, dia adalah seorang yang independen dan memiliki sikap dominan yang keras. Jika sudah seperti ini, berarti sikap tersebut memang sudah natural ada di dalam dirinya. Ada kalanya, sikap buruk ini muncul sekadar untuk membuat pekerjaannya cepat selesai dan mendapat pujian.

3. Konsekuensi dari sikap buruknya

Anda harus mencoba mencari tahu dan bertanya ke rekan-rekan kerjanya, dampak apa yang mereka rasakan ketika harus bekerja dengan si arogan. Tuliskan daftar perasaan dan apa yang rekan kerjanya pikirkan terhadap si arogan. Dari daftar tersebut, coba Anda pikirkan konsekuensi apa yang akan terjadi jika Anda mempertahankan si arogan dan apa yang akan terjadi jika Anda memberhentikannya.

4. Gunakan peraturan dan regulasi perusahaan untuk menilai

Setiap perusahaan pasti memiliki regulasi dan aturan yang dibuat agar suasana bekerja menjadi nyaman dan membuat para pekerjanya produktif. Coba tengok regulasi dan aturan ini, kira-kira pelanggaran apa saja yang pernah dilakukan oleh si pekerja cerdas nan arogan dan dampaknya terhadap perusahaan dan kinerja rekan kerjanya.

Jika Anda memutuskan untuk memberhentikan pekerja cerdas namun arogan ini, percayalah, tidak perlu merasa bersalah karena telah memberhentikan aset perusahaan yang cemerlang. Pemberhentian pekerja semacam ini akan membawa dampak yang baik baik perusahaan. Rekan-rekan kerjanya yang lain akan merasa lega dan bisa bekerja lebih produktif lagi, atau bahkan kinerja mereka bisa mengalahkan si pekerja cerdas arogan ini, namun dengan sikap yang juga cerdas. Tidak ada yang lebih baik dan menyenangkan daripada mengutamakan kebahagiaan pekerja dan kesehatan mental mereka selama bekerja daripada mengorbankan mereka demi si pekerja cerdas nan arogan.

CTA

Artikel ini dilansir dari Dando Advisors dan LinkedIn

Written by Stefanny

Categories

Tags