Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Kalibrr Indonesia

5 Cara Tarik Talent Milenial Berkualitas

October 13, 2020

Generasi milenial atau generasi Y menjadi istilah yang sering terdengar di berbagai tema acara, topik tulisan dan riset, termasuk pekerjaan dan lowongan kerja. Menurut situs Live Science, generasi milenial adalah generasi yang lahir di antara tahun 1980-an hingga 1990-an, dan seringkali generasi yang lahir di tahun 2000-an awal juga masuk dalam kategori generasi milenial. Generasi ini diprediksi akan membanjiri bursa pencari kerja dan pada 2025, generasi milenial akan menempati 75 persen populasi usia pekerja.

Pendekatan ke talent berbakat generasi milenial tidak mudah. Banyak human resource dan recruiter yang merasa kewalahan menangani generasi milenial. Selain keinginan yang banyak, rumornya, generasi milenial seringkali dicap sebagai “kutu loncat” alias tidak dapat bertahan lama di suatu perusahaan. Generasi milenial juga dianggap lebih self-centered dan narsistik dibanding generasi lain.

Bagi generasi milenial, bekerja tidak sekadar untuk gaji tinggi, jabatan, dan benefit yang banyak dari perusahaan. Lebih dari itu, generasi milenial menginginkan tujuan bekerja yang jelas jika menjadi pekerja di perusahaan. Mereka menginginkan pengembangan diri, bukan hanya sekadar puas dengan talenta dan kemampuan yang mereka miliki sekarang. Generasi milenial tidak menginginkan atasan yang bossy, tapi yang mengayomi dan bersedia membimbing mereka.

Namun, tentu saja dibalik kesulitan yang dihadapi human resource dan recruiter dalam merekrut para talent milenial, ada beberapa cara yang bisa human resource dan recruiter lakukan untuk menarik talent milenial ini menjadi pekerja:

  1. Job Description Singkat, Padat, Jelas

Buat job description singkat, namun padat dan jelas. Pastikan jika dibaca, job description tidak memakan waktu lebih dari 30 sampai 60 detik dan berisi 100 sampai 150 kata. Cantumkan benefit apa saja yang didapatkan dalam job description ini.

  1. Waktu Kerja Fleksibel

Salah satu benefit dari pekerjaan yang dicari oleh generasi milenial adalah waktu kerja fleksibel. Beberapa perusahaan telah menerapkan sebuah kebijakan bekerja fleksibel dimana karyawannya dapat bekerja di rumah sesekali waktu ataupun jam masuk dan pulang kerja yang lebih fleksibel.

  1. Kesempatan Pengembangan Diri

Generasi milenial menyukai perusahaan yang memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan diri, berikan mereka tantangan dan pelatihan penuh dalam pekerjaan agar mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih profesional.

  1. Company Brand Story

Human resource dan recruiter bisa membuat konten cerita atau video yang di-posting di media sosial mengenai visi dan misi perusahaan dan kultur kerja perusahaan, dan buat konten company brand story  atau kerap disebut employer branding ini mudah diakses.

  1. Perkembangan Karir

Cegah milenial dari status “kutu loncat” dengan memberikan gambaran perkembangan karir yang jelas ketika interview kerja. Apa yang bisa mereka raih jika bekerja di perusahaan ini dalam 2 sampai 5 tahun ke depan? Posisi apa saja yang menanti mereka jika tawaran kerja ini diterima?

Terakhir, iklankan lowongan pekerjaan untuk talent milenial ini lewat media sosial atau platform-platform yang sering dikunjungi milenial. Jika memungkinkan, gunakan jasa employer branding untuk menarik minat talent milenial lebih lagi. Survei menunjukkan bahwa perusahaan yang mengiklankan lowongan kerja dengan menarik di platform media sosial memiliki kesempatan mendapatkan talent terbaik di bidangnya.

CTA

Artikel ini dilansir dari Forbes dan TalentLyft

Written by Stefanny
Kalibrr Indonesia

5 Cara Tarik Talent Milenial Berkualitas

October 13, 2020

Generasi milenial atau generasi Y menjadi istilah yang sering terdengar di berbagai tema acara, topik tulisan dan riset, termasuk pekerjaan dan lowongan kerja. Menurut situs Live Science, generasi milenial adalah generasi yang lahir di antara tahun 1980-an hingga 1990-an, dan seringkali generasi yang lahir di tahun 2000-an awal juga masuk dalam kategori generasi milenial. Generasi ini diprediksi akan membanjiri bursa pencari kerja dan pada 2025, generasi milenial akan menempati 75 persen populasi usia pekerja.

Pendekatan ke talent berbakat generasi milenial tidak mudah. Banyak human resource dan recruiter yang merasa kewalahan menangani generasi milenial. Selain keinginan yang banyak, rumornya, generasi milenial seringkali dicap sebagai “kutu loncat” alias tidak dapat bertahan lama di suatu perusahaan. Generasi milenial juga dianggap lebih self-centered dan narsistik dibanding generasi lain.

Bagi generasi milenial, bekerja tidak sekadar untuk gaji tinggi, jabatan, dan benefit yang banyak dari perusahaan. Lebih dari itu, generasi milenial menginginkan tujuan bekerja yang jelas jika menjadi pekerja di perusahaan. Mereka menginginkan pengembangan diri, bukan hanya sekadar puas dengan talenta dan kemampuan yang mereka miliki sekarang. Generasi milenial tidak menginginkan atasan yang bossy, tapi yang mengayomi dan bersedia membimbing mereka.

Namun, tentu saja dibalik kesulitan yang dihadapi human resource dan recruiter dalam merekrut para talent milenial, ada beberapa cara yang bisa human resource dan recruiter lakukan untuk menarik talent milenial ini menjadi pekerja:

  1. Job Description Singkat, Padat, Jelas

Buat job description singkat, namun padat dan jelas. Pastikan jika dibaca, job description tidak memakan waktu lebih dari 30 sampai 60 detik dan berisi 100 sampai 150 kata. Cantumkan benefit apa saja yang didapatkan dalam job description ini.

  1. Waktu Kerja Fleksibel

Salah satu benefit dari pekerjaan yang dicari oleh generasi milenial adalah waktu kerja fleksibel. Beberapa perusahaan telah menerapkan sebuah kebijakan bekerja fleksibel dimana karyawannya dapat bekerja di rumah sesekali waktu ataupun jam masuk dan pulang kerja yang lebih fleksibel.

  1. Kesempatan Pengembangan Diri

Generasi milenial menyukai perusahaan yang memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan diri, berikan mereka tantangan dan pelatihan penuh dalam pekerjaan agar mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih profesional.

  1. Company Brand Story

Human resource dan recruiter bisa membuat konten cerita atau video yang di-posting di media sosial mengenai visi dan misi perusahaan dan kultur kerja perusahaan, dan buat konten company brand story  atau kerap disebut employer branding ini mudah diakses.

  1. Perkembangan Karir

Cegah milenial dari status “kutu loncat” dengan memberikan gambaran perkembangan karir yang jelas ketika interview kerja. Apa yang bisa mereka raih jika bekerja di perusahaan ini dalam 2 sampai 5 tahun ke depan? Posisi apa saja yang menanti mereka jika tawaran kerja ini diterima?

Terakhir, iklankan lowongan pekerjaan untuk talent milenial ini lewat media sosial atau platform-platform yang sering dikunjungi milenial. Jika memungkinkan, gunakan jasa employer branding untuk menarik minat talent milenial lebih lagi. Survei menunjukkan bahwa perusahaan yang mengiklankan lowongan kerja dengan menarik di platform media sosial memiliki kesempatan mendapatkan talent terbaik di bidangnya.

CTA

Artikel ini dilansir dari Forbes dan TalentLyft

Written by Stefanny

Categories

Tags