Kalibrr

Blog

Everything you need to know about the Future of Work
Management

Peniti Karir Masa Depan: Digital Self-Marketer

December 4, 2019

Di masa depan, atau setidaknya di saat ini, peniti karir yang sukses adalah yang sepanjang waktunya sanggup membangun & merawat visibilitas dirinya di kalangan publik, lewat pemanfaatan teknologi komunikasi & media sosial.

Pertanyaannya, mengapa di jaman sekarang dan masa depan, visibilitas publik ini penting untuk mayoritas peniti karir?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa komunikasi publik & media sosial adalah segalanya. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa komunikasi publik & media sosial lebih penting daripada jati diri atau kompetensi kita semua.

Yang saya coba katakan di sini adalah di era keterbukaan informasi ini, ketika kita “tidak terlihat & tidak terdengar” oleh publik, baik melalui teknologi komunikasi maupun melalui media sosial; akan ada kecenderungan Rekruter atau User “lebih segan” untuk merekrut kita, terutama untuk posisi-posisi yang memiliki kewenangan atau dampak besar dalam setiap pengambilan keputusannya.

Di era teknologi ini, keterbukaan dan transparansi adalah segalanya. Termasuk identitas kita sebagai seorang profesional.

Saya sepenuhnya setuju, bahwa ada cukup banyak peniti karir yang sudah sukses tanpa harus banyak tampil di hadapan publik atau di media sosial. Mereka dapat meraih sukses tanpa visibilitas publik, berkat adanya kompetensi sangat tinggi, kepemilikan keahlian khusus yang spesifik, atau jaringan koneksi kelas atas yang benar-benar solid.

Sayangnya, tidak semua peniti karir seberuntung itu. Tidak semua peniti karir memiliki semua kemewahan itu.  Maka untuk itulah hadir teknologi komunikasi dan media sosial, agar kita semua tanpa kecuali, dapat mulai membangun visibilitas publik. Ini berlaku bagi kita semua, dari tingkatan umur berapa pun, tingkatan jabatan apa pun, dan tingkatan pengalaman seberapa lama pun.

Pertanyaan berikutnya, di manakah sarana atau media sosial yang paling tepat untuk kita semua, dalam membangun visibilitas publik yang solid? Nama yang terlintas pertama kalinya di benak kita tentunya adalah: LinkedIn.

Di artikel inilah saya akan terutama membahas aspek historis dan anatomi audience LinkedIn, sehingga kita semua dapat memiliki gambaran tentang bagaimana kita harus memposisikan diri, dan seperti apakah interaksi yang harus kita bangun bersama para netizen lainnya. Karena ketika kita berbicara tentang LinkedIn, maka kita bukan berbicara tentang sesuatu yang self-centered seperti layaknya media sosial lainnya, melainkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan transparansi, kredibilitas, kebersamaan, dan engagement.

LinkedIn: Desentralisasi Kewenangan Rekrutmen

desentralisasi kewenangan rekrutmen

 

Beberapa dekade lalu, ketika proses rekrutmen masih dilakukan secara tradisional dan tersentralisasi pada fungsi HR / Rekrutmen; para pencari kerja, kandidat, dan peniti karir jarang sekali yang memiliki “akses langsung” ke kalangan User. Ini ditambah lagi dengan belum adanya teknologi komunikasi seperti saat ini, sehingga satu-satunya pihak yang berurusan dengan para kandidat hanyalah HR atau Rekruter.

Kita semua tahu bahwa yang sesungguhnya memegang keputusan akhir dalam proses rekrutmen adalah User, sebagai pihak yang kelak akan secara langsung berurusan dengan sang kandidat, ketika telah secara resmi menjadi karyawan. Umumnya HR / Rekruter bersifat sebagai pemasok data, insight dari sisi psikologi & mapping karakter, dan sejumlah pertimbangan teknis ketenagakerjaan. Kecuali jika sang User tersebut memang adalah si HR / Rekruter itu sendiri.

Disrupsi dalam dunia karir dan pencarian kerja terjadi ketika muncul Internet, teknologi komunikasi, dan satu media sosial baru yang secara spesifik memang diperuntukkan bagi kalangan profesional, yaitu LinkedIn.

Saya menulis artikel tentang LinkedIn tanpa kepentingan apa pun, selain agar kita semua dapat memanfaatkan LinkedIn sebagai leverage (daya ungkit) perjalanan karir kita di masa depan. Saya bukanlah endorser yang dibayar oleh LinkedIn. Faktanya, bahkan akun pribadi yang selama ini saya gunakan pun adalah yang Non-Berbayar, bukan yang Premium.

Namun bahkan dengan apa yang ada selama ini pun, saya telah membuktikan sendiri betapa powerful-nya LinkedIn bagi karir & visibilitas publik kita, jika kita memahami anatomi dan esensi penggunaannya.

Beberapa tahun sejak kemunculannya yang pertama kalinya di tahun 2003, LinkedIn telah menjelma menjadi media sosial berskala global yang terkenal dengan orisinalitasnya. Di LinkedIn, kita tidak dapat “memalsukan” jati diri dan interaksi kita. Kita tidak dapat membeli followers, tidak dapat membeli atau memanipulasi Like, Comment, dan interaksi lainnya.

Artikel atau pribadi dengan engagement rate tinggi di LinkedIn, pasti didasarkan atas konten-konten orisinil yang bermutu, dan oleh karenanya, LinkedIn dikenal sebagai media sosial yang paling sulit “ditaklukkan” oleh netizen secara umum.

Intinya, apa yang kita tampilkan dan lakukan di LinkedIn, “harus” dilakukan di atas fondasi jati diri yang asli, apalagi jika mengingat karakternya sebagai media sosial untuk kalangan peniti karir, profesional, dan korporat atau bisnis (B2B dan B2C). Setiap akun pribadi, juga “terikat” pada identitas pekerjaan, nama kantor, label jabatan, dan sejumlah atribut profesional lainnya. Kita menampilkan interaksi yang serampangan, maka nama baik perusahaan dan jabatan kita pun akan menjadi taruhannya.

Ini menjadikan LinkedIn sebagai lahan yang subur bagi mereka yang menyukai orisinalitas, keaslian jati diri, pertukaran gagasan, diskusi sehat yang santun dan konstruktif, penyerapan pengetahuan dan tren global, dan masih banyak hal positif lainnya.

Nampak mengintimidasi? Untuk sejumlah orang, kelihatannya demikian. Tapi karena karakter audience LinkedIn itulah, justru menjadikan LinkedIn sebagai lahan yang tepat bagi para praktisi rekrutmen dan juga kelompok-kelompok profesional lainnya, untuk nongkrong di situ.

Siapa sajakah para praktisi rekrutmen yang suka “nongkrong” di LinkedIn? Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, saat ini telah terjadi desentralisasi kewenangan dalam proses rekrutmen. Dulu, fungsi rekrutmen didominasi oleh kalangan HR / Rekruter. Namun saat ini, LinkedIn telah memperlihatkan pada kita semua bahwa setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam proses rekrutmen.
 

Garis Besar Anatomi Audience LinkedIn - Berdasarkan Pengalaman Nyata

Mengenal sesuatu hal secara mendalam agar dapat memberikan dan menarik manfaat darinya, jelas membutuhkan pengetahuan anatomi yang baik. Seperti tubuh kita sendiri, dimana kita harus mengenalnya secara baik, agar mengetahui secara persis apa saja yang harus dilakukan atau jangan dilakukan terhadap tubuh kita.

Pertama kalinya saya membuat akun LinkedIn adalah pada tahun 2012. Namun saya baru aktif pada pertengahan 2017. Setelah melalui “perjalanan panjang & melelahkan” dalam membangun kekuatan akun LinkedIn, akhirnya saya dapat mengelompokkan jenis atau karakter para netizen LinkedIn yang tercakup dalam koneksi 1st Degree atau Followers, dalam kategori sebagai berikut:

Maka penting bagi suatu perusahaan membangun Employer Brand yang baik untuk dapat merekrut talent lewat social media. Namun, belum semua perusahaan aware dengan hal ini. Kalibrr melakukan survey dengan 400 perusahaan di Indonesia untuk mengetahui seberapa penting employer branding diimplementasikan di suatu perusahaan. Temukan informasi mengenai Employer Branding dari 400 perusahaan di Indonesia dengan mengunduh Kalibrr Insights ini.

CTA EBOOK EB RESEARCH

 

Demikianlah adanya 5 kelompok audience di LinkedIn. Agar lebih mantap, saya berikan gambaran tersebut dalam grafis sederhana ini.

 

 

Perlu kita ingat bersama, bahwa angka persentase dan gambaran pembagian kelompok-kelompok ini bukanlah sesuatu yang statis dan eksak, melainkan sesuatu yang dinamis dan personal. Apa yang saya alami di LinkedIn, sangat mungkin berbeda dengan apa yang rekan-rekan lain alami. Semua ini saya paparkan, murni sebagai upaya saya untuk memudahkan penggambaran anatomi LinkedIn beserta pola interaksinya.

Berdasarkan anatomi ini, ketika kita berencana untuk membangun aktivitas di LinkedIn, ada baiknya kita putuskan terlebih dahulu, kita akan menjadi netizen di kelompok yang mana. Setelah itu, tentukanlah tujuan dan fokus komunikasi, akan diarahkan ke kelompok yang mana. Karena itu akan sangat mempengaruhi karakter dan corak komunikasi publik yang kita tampilkan, dan oleh karenanya, juga akan mempengaruhi hasil akhirnya.

Bagaimana cara kita selama ini dalam membangun narasi, berkomunikasi dengan sesama netizen, dan bagaimana sikap kita dalam menanggapi suatu isu atau pertanyaan; akan sangat menentukan konfigurasi lingkaran koneksi LinkedIn kita, beserta angka-angka persentasenya tersebut.
 

Membangun Aktivitas Positif di LinkedIn

membangun aktivitas positif

 

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya tidak langsung aktif di LinkedIn. Butuh waktu dari sejak pertama kalinya saya membuat akun LinkedIn di 2012, untuk mulai aktif di pertengahan 2017.

Mengapa saya tiba-tiba aktif di LinkedIn? Sebenarnya lebih karena realitas karir saya yang tidak stabil dan tidak mudah dijalani. Beberapa kali saya harus bertemu dulu dengan perusahaan atau atasan yang pada akhirnya saya dapati tidak cocok dalam hal value, prinsip, dan cara kerjanya.

Awalnya saya hanya ingin “menumpahkan” kekesalan saya saja terhadap sistem ketenagakerjaan & kultur rekrutmen di Indonesia. Namun dalam waktu singkat, aktivitas yang saya bangun di LinkedIn mendapatkan engagement tinggi bersama netizen lainnya.

Karakter konten maupun komunikasi yang saya paparkan pun bergeser, dari yang tadinya perihal kekesalan saya tersebut, menjadi konten-konten yang lebih inspiratif, melalui metode Storytelling.

Jika kita lihat bagan demografi audience yang saya paparkan, di setiap tingkatan piramida tersebut saya pisahkan dengan garis putus-putus. Itu menandakan bahwa sebenarnya pengelompokkan tersebut bukanlah hirarki atau pembatasan eksak, melainkan sesuatu yang cair dan dinamis. Kita dapat menjadi atau dapat berkomunikasi dengan kelompok mana pun di piramida tersebut.

Selain itu saya juga bermaksud mengingatkan, bahwa walaupun piramida ilustrasi tersebut tampak vertikal, namun sesungguhnya tidak ada satu orang atau satu kelompok pun yang derajatnya lebih tinggi dari yang lainnya. Ilustrasi ini hanya sebagai sketsa pemetaan semata.

Satu hal yang harus kita ingat bersama, bersama mereka yang ada di kelompok Enabler, Rekruter, maupun Final Decision Maker jelas membutuhkan metode dan kualitas komunikasi yang berbeda. Dengan menentukan seperti apakah kualitas interaksi yang akan kita hadirkan bersama netizen, siapa pun tanpa kecuali, dapat memiliki dan membangun akses bahkan hingga ke Kelompok 1%.

Setelah saya menyadari adanya demografi audience semacam ini di LinkedIn, saya mengubah tone dan karakter komunikasi saya di LinkedIn. Setelah perubahan itu, terbukti, saya bisa mendapatkan penawaran menarik dari para Founder atau CEO perusahaan-perusahaan startup. Justru inilah sebenarnya tujuan saya, yaitu berkarir di startup. Saya yakin, experience ini dapat dialami juga oleh orang lain, jika membangun aktivitas di LinkedIn secara tepat.

Tiga Metode Komunikasi LinkedIn: Read-Write, Auditory, Visual, Kinestetik 

Setelah kita memahami faktor “why” beserta anatomi audience LinkedIn, maka sebaiknya kita terlebih dahulu mengenali apa yang selama ini nyaman kita lakukan dalam berinteraksi di media sosial. Ada tiga jenis interaksi media sosial yang dapat saya simpulkan, berdasarkan gaya komunikasi kita selama ini:

Setelah kita memaksimalkan LinkedIn, maka tinggal tunggu waktu saja hingga tawaran project, tawaran pekerjaan, undangan seminar atau kopi darat, dan masih banyak kegiatan positif lainnya; akan dapat mengantarkan kita ke tujuan karir impian kita. Kegiatan kopi darat di dunia nyata terutama digemari oleh mereka yang termasuk kategori pembelajar kinestetik, alias suka dengan kegiatan fisik atau tatap-muka.

Memang benar bahwa LinkedIn dapat juga dipergunakan untuk sekedar mencari kerja, misalnya lewat fitur LinkedIn Jobs, atau lewat Company Page masing-masing perusahaan. Namun ternyata LinkedIn merupakan media sosial yang jauh lebih powerful dari sekedar Job Portal semata, jika kita memahami esensi dan anatominya. Kita bisa mengalami lompatan karir yang tak terduga, berkat membangun komunikasi terbaik dan kebersamaan di LinkedIn.

Karena peniti karir terbaik di masa depan, adalah bukan saja mereka yang memiliki karakter terbaik dan kompetensi jempolan, melainkan juga mereka yang mahir membangun Personal Brand yang mewujud lewat kualitas komunikasi publik, alias Digital Self-Marketer.

Optimalkan Pencarian Kandidat Berkualitas Melalui Social Recruitment Bersama Kalibrr

Meskipun LinkedIn menawarkan kesempatan yang luas untuk peniti karir dan Rekruter, tapi kenyataannya banyak Rekruter yang belum terlalu aktif menggunakan LinkedIn untuk menjaring kandidat yang pasif (Kelompok Silent). Harus kita akui bersama, tidak semua orang bisa nyaman dengan dirinya sendiri, membangun aktivitas secara konsisten di LinkedIn. Namun kita semua yakin bahwa realitas ini dapat diatas dengan teknologi dari Kalibrr Indonesia.

Masih banyak Rekruter yang lebih memilih untuk menyeleksi kandidat hanya berdasar mereka yang telah melamar saja ke job portal atau portal karir perusahaan, dan biasanya hal ini disebabkan karena alasan beban kerja para Rekruter yang belum memungkinkan untuk menjelajahi talenta pasif melalui LinkedIn

Jangan khawatir, karena Kalibrr Indonesia memiliki layanan Social Recruitment. Didukung oleh tim rekrutmen yang handal, Kalibrr dapat menjangkau berbagai kelompok kandidat, termasuk diantaranya kandidat pasif yang ada di LinkedIn Layanan Social Recruitment memungkinkan Anda menemukan kandidat terbaik dengan lebih cepat, seperti apa pun jenis & kelompok kandidat yang dihadapi.

Jadi, tunggu apalagi... mari jadikan Kalibrr sebagai partner rekrutmen Anda, dan bawalah proses rekrutmen perusahaan Anda ke tingkatan yang lebih tinggi! Jangan lupa, Kalibrr Indonesia juga nongkrong di LinkedIn lho… Maka pastikanlah kita membangun aktivitas se-positif mungkin di LinkedIn. Kita tidak pernah tahu, kapan tim Kalibrr Indonesia melihat semua potensi kita, dan menawarkan kita sesuatu yang tak terduga.

cta

 

Management

Peniti Karir Masa Depan: Digital Self-Marketer

December 4, 2019

Di masa depan, atau setidaknya di saat ini, peniti karir yang sukses adalah yang sepanjang waktunya sanggup membangun & merawat visibilitas dirinya di kalangan publik, lewat pemanfaatan teknologi komunikasi & media sosial.

Pertanyaannya, mengapa di jaman sekarang dan masa depan, visibilitas publik ini penting untuk mayoritas peniti karir?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa komunikasi publik & media sosial adalah segalanya. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa komunikasi publik & media sosial lebih penting daripada jati diri atau kompetensi kita semua.

Yang saya coba katakan di sini adalah di era keterbukaan informasi ini, ketika kita “tidak terlihat & tidak terdengar” oleh publik, baik melalui teknologi komunikasi maupun melalui media sosial; akan ada kecenderungan Rekruter atau User “lebih segan” untuk merekrut kita, terutama untuk posisi-posisi yang memiliki kewenangan atau dampak besar dalam setiap pengambilan keputusannya.

Di era teknologi ini, keterbukaan dan transparansi adalah segalanya. Termasuk identitas kita sebagai seorang profesional.

Saya sepenuhnya setuju, bahwa ada cukup banyak peniti karir yang sudah sukses tanpa harus banyak tampil di hadapan publik atau di media sosial. Mereka dapat meraih sukses tanpa visibilitas publik, berkat adanya kompetensi sangat tinggi, kepemilikan keahlian khusus yang spesifik, atau jaringan koneksi kelas atas yang benar-benar solid.

Sayangnya, tidak semua peniti karir seberuntung itu. Tidak semua peniti karir memiliki semua kemewahan itu.  Maka untuk itulah hadir teknologi komunikasi dan media sosial, agar kita semua tanpa kecuali, dapat mulai membangun visibilitas publik. Ini berlaku bagi kita semua, dari tingkatan umur berapa pun, tingkatan jabatan apa pun, dan tingkatan pengalaman seberapa lama pun.

Pertanyaan berikutnya, di manakah sarana atau media sosial yang paling tepat untuk kita semua, dalam membangun visibilitas publik yang solid? Nama yang terlintas pertama kalinya di benak kita tentunya adalah: LinkedIn.

Di artikel inilah saya akan terutama membahas aspek historis dan anatomi audience LinkedIn, sehingga kita semua dapat memiliki gambaran tentang bagaimana kita harus memposisikan diri, dan seperti apakah interaksi yang harus kita bangun bersama para netizen lainnya. Karena ketika kita berbicara tentang LinkedIn, maka kita bukan berbicara tentang sesuatu yang self-centered seperti layaknya media sosial lainnya, melainkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan transparansi, kredibilitas, kebersamaan, dan engagement.

LinkedIn: Desentralisasi Kewenangan Rekrutmen

desentralisasi kewenangan rekrutmen

 

Beberapa dekade lalu, ketika proses rekrutmen masih dilakukan secara tradisional dan tersentralisasi pada fungsi HR / Rekrutmen; para pencari kerja, kandidat, dan peniti karir jarang sekali yang memiliki “akses langsung” ke kalangan User. Ini ditambah lagi dengan belum adanya teknologi komunikasi seperti saat ini, sehingga satu-satunya pihak yang berurusan dengan para kandidat hanyalah HR atau Rekruter.

Kita semua tahu bahwa yang sesungguhnya memegang keputusan akhir dalam proses rekrutmen adalah User, sebagai pihak yang kelak akan secara langsung berurusan dengan sang kandidat, ketika telah secara resmi menjadi karyawan. Umumnya HR / Rekruter bersifat sebagai pemasok data, insight dari sisi psikologi & mapping karakter, dan sejumlah pertimbangan teknis ketenagakerjaan. Kecuali jika sang User tersebut memang adalah si HR / Rekruter itu sendiri.

Disrupsi dalam dunia karir dan pencarian kerja terjadi ketika muncul Internet, teknologi komunikasi, dan satu media sosial baru yang secara spesifik memang diperuntukkan bagi kalangan profesional, yaitu LinkedIn.

Saya menulis artikel tentang LinkedIn tanpa kepentingan apa pun, selain agar kita semua dapat memanfaatkan LinkedIn sebagai leverage (daya ungkit) perjalanan karir kita di masa depan. Saya bukanlah endorser yang dibayar oleh LinkedIn. Faktanya, bahkan akun pribadi yang selama ini saya gunakan pun adalah yang Non-Berbayar, bukan yang Premium.

Namun bahkan dengan apa yang ada selama ini pun, saya telah membuktikan sendiri betapa powerful-nya LinkedIn bagi karir & visibilitas publik kita, jika kita memahami anatomi dan esensi penggunaannya.

Beberapa tahun sejak kemunculannya yang pertama kalinya di tahun 2003, LinkedIn telah menjelma menjadi media sosial berskala global yang terkenal dengan orisinalitasnya. Di LinkedIn, kita tidak dapat “memalsukan” jati diri dan interaksi kita. Kita tidak dapat membeli followers, tidak dapat membeli atau memanipulasi Like, Comment, dan interaksi lainnya.

Artikel atau pribadi dengan engagement rate tinggi di LinkedIn, pasti didasarkan atas konten-konten orisinil yang bermutu, dan oleh karenanya, LinkedIn dikenal sebagai media sosial yang paling sulit “ditaklukkan” oleh netizen secara umum.

Intinya, apa yang kita tampilkan dan lakukan di LinkedIn, “harus” dilakukan di atas fondasi jati diri yang asli, apalagi jika mengingat karakternya sebagai media sosial untuk kalangan peniti karir, profesional, dan korporat atau bisnis (B2B dan B2C). Setiap akun pribadi, juga “terikat” pada identitas pekerjaan, nama kantor, label jabatan, dan sejumlah atribut profesional lainnya. Kita menampilkan interaksi yang serampangan, maka nama baik perusahaan dan jabatan kita pun akan menjadi taruhannya.

Ini menjadikan LinkedIn sebagai lahan yang subur bagi mereka yang menyukai orisinalitas, keaslian jati diri, pertukaran gagasan, diskusi sehat yang santun dan konstruktif, penyerapan pengetahuan dan tren global, dan masih banyak hal positif lainnya.

Nampak mengintimidasi? Untuk sejumlah orang, kelihatannya demikian. Tapi karena karakter audience LinkedIn itulah, justru menjadikan LinkedIn sebagai lahan yang tepat bagi para praktisi rekrutmen dan juga kelompok-kelompok profesional lainnya, untuk nongkrong di situ.

Siapa sajakah para praktisi rekrutmen yang suka “nongkrong” di LinkedIn? Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, saat ini telah terjadi desentralisasi kewenangan dalam proses rekrutmen. Dulu, fungsi rekrutmen didominasi oleh kalangan HR / Rekruter. Namun saat ini, LinkedIn telah memperlihatkan pada kita semua bahwa setiap orang dapat terlibat secara aktif dalam proses rekrutmen.
 

Garis Besar Anatomi Audience LinkedIn - Berdasarkan Pengalaman Nyata

Mengenal sesuatu hal secara mendalam agar dapat memberikan dan menarik manfaat darinya, jelas membutuhkan pengetahuan anatomi yang baik. Seperti tubuh kita sendiri, dimana kita harus mengenalnya secara baik, agar mengetahui secara persis apa saja yang harus dilakukan atau jangan dilakukan terhadap tubuh kita.

Pertama kalinya saya membuat akun LinkedIn adalah pada tahun 2012. Namun saya baru aktif pada pertengahan 2017. Setelah melalui “perjalanan panjang & melelahkan” dalam membangun kekuatan akun LinkedIn, akhirnya saya dapat mengelompokkan jenis atau karakter para netizen LinkedIn yang tercakup dalam koneksi 1st Degree atau Followers, dalam kategori sebagai berikut:

Maka penting bagi suatu perusahaan membangun Employer Brand yang baik untuk dapat merekrut talent lewat social media. Namun, belum semua perusahaan aware dengan hal ini. Kalibrr melakukan survey dengan 400 perusahaan di Indonesia untuk mengetahui seberapa penting employer branding diimplementasikan di suatu perusahaan. Temukan informasi mengenai Employer Branding dari 400 perusahaan di Indonesia dengan mengunduh Kalibrr Insights ini.

CTA EBOOK EB RESEARCH

 

Demikianlah adanya 5 kelompok audience di LinkedIn. Agar lebih mantap, saya berikan gambaran tersebut dalam grafis sederhana ini.

 

 

Perlu kita ingat bersama, bahwa angka persentase dan gambaran pembagian kelompok-kelompok ini bukanlah sesuatu yang statis dan eksak, melainkan sesuatu yang dinamis dan personal. Apa yang saya alami di LinkedIn, sangat mungkin berbeda dengan apa yang rekan-rekan lain alami. Semua ini saya paparkan, murni sebagai upaya saya untuk memudahkan penggambaran anatomi LinkedIn beserta pola interaksinya.

Berdasarkan anatomi ini, ketika kita berencana untuk membangun aktivitas di LinkedIn, ada baiknya kita putuskan terlebih dahulu, kita akan menjadi netizen di kelompok yang mana. Setelah itu, tentukanlah tujuan dan fokus komunikasi, akan diarahkan ke kelompok yang mana. Karena itu akan sangat mempengaruhi karakter dan corak komunikasi publik yang kita tampilkan, dan oleh karenanya, juga akan mempengaruhi hasil akhirnya.

Bagaimana cara kita selama ini dalam membangun narasi, berkomunikasi dengan sesama netizen, dan bagaimana sikap kita dalam menanggapi suatu isu atau pertanyaan; akan sangat menentukan konfigurasi lingkaran koneksi LinkedIn kita, beserta angka-angka persentasenya tersebut.
 

Membangun Aktivitas Positif di LinkedIn

membangun aktivitas positif

 

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya tidak langsung aktif di LinkedIn. Butuh waktu dari sejak pertama kalinya saya membuat akun LinkedIn di 2012, untuk mulai aktif di pertengahan 2017.

Mengapa saya tiba-tiba aktif di LinkedIn? Sebenarnya lebih karena realitas karir saya yang tidak stabil dan tidak mudah dijalani. Beberapa kali saya harus bertemu dulu dengan perusahaan atau atasan yang pada akhirnya saya dapati tidak cocok dalam hal value, prinsip, dan cara kerjanya.

Awalnya saya hanya ingin “menumpahkan” kekesalan saya saja terhadap sistem ketenagakerjaan & kultur rekrutmen di Indonesia. Namun dalam waktu singkat, aktivitas yang saya bangun di LinkedIn mendapatkan engagement tinggi bersama netizen lainnya.

Karakter konten maupun komunikasi yang saya paparkan pun bergeser, dari yang tadinya perihal kekesalan saya tersebut, menjadi konten-konten yang lebih inspiratif, melalui metode Storytelling.

Jika kita lihat bagan demografi audience yang saya paparkan, di setiap tingkatan piramida tersebut saya pisahkan dengan garis putus-putus. Itu menandakan bahwa sebenarnya pengelompokkan tersebut bukanlah hirarki atau pembatasan eksak, melainkan sesuatu yang cair dan dinamis. Kita dapat menjadi atau dapat berkomunikasi dengan kelompok mana pun di piramida tersebut.

Selain itu saya juga bermaksud mengingatkan, bahwa walaupun piramida ilustrasi tersebut tampak vertikal, namun sesungguhnya tidak ada satu orang atau satu kelompok pun yang derajatnya lebih tinggi dari yang lainnya. Ilustrasi ini hanya sebagai sketsa pemetaan semata.

Satu hal yang harus kita ingat bersama, bersama mereka yang ada di kelompok Enabler, Rekruter, maupun Final Decision Maker jelas membutuhkan metode dan kualitas komunikasi yang berbeda. Dengan menentukan seperti apakah kualitas interaksi yang akan kita hadirkan bersama netizen, siapa pun tanpa kecuali, dapat memiliki dan membangun akses bahkan hingga ke Kelompok 1%.

Setelah saya menyadari adanya demografi audience semacam ini di LinkedIn, saya mengubah tone dan karakter komunikasi saya di LinkedIn. Setelah perubahan itu, terbukti, saya bisa mendapatkan penawaran menarik dari para Founder atau CEO perusahaan-perusahaan startup. Justru inilah sebenarnya tujuan saya, yaitu berkarir di startup. Saya yakin, experience ini dapat dialami juga oleh orang lain, jika membangun aktivitas di LinkedIn secara tepat.

Tiga Metode Komunikasi LinkedIn: Read-Write, Auditory, Visual, Kinestetik 

Setelah kita memahami faktor “why” beserta anatomi audience LinkedIn, maka sebaiknya kita terlebih dahulu mengenali apa yang selama ini nyaman kita lakukan dalam berinteraksi di media sosial. Ada tiga jenis interaksi media sosial yang dapat saya simpulkan, berdasarkan gaya komunikasi kita selama ini:

Setelah kita memaksimalkan LinkedIn, maka tinggal tunggu waktu saja hingga tawaran project, tawaran pekerjaan, undangan seminar atau kopi darat, dan masih banyak kegiatan positif lainnya; akan dapat mengantarkan kita ke tujuan karir impian kita. Kegiatan kopi darat di dunia nyata terutama digemari oleh mereka yang termasuk kategori pembelajar kinestetik, alias suka dengan kegiatan fisik atau tatap-muka.

Memang benar bahwa LinkedIn dapat juga dipergunakan untuk sekedar mencari kerja, misalnya lewat fitur LinkedIn Jobs, atau lewat Company Page masing-masing perusahaan. Namun ternyata LinkedIn merupakan media sosial yang jauh lebih powerful dari sekedar Job Portal semata, jika kita memahami esensi dan anatominya. Kita bisa mengalami lompatan karir yang tak terduga, berkat membangun komunikasi terbaik dan kebersamaan di LinkedIn.

Karena peniti karir terbaik di masa depan, adalah bukan saja mereka yang memiliki karakter terbaik dan kompetensi jempolan, melainkan juga mereka yang mahir membangun Personal Brand yang mewujud lewat kualitas komunikasi publik, alias Digital Self-Marketer.

Optimalkan Pencarian Kandidat Berkualitas Melalui Social Recruitment Bersama Kalibrr

Meskipun LinkedIn menawarkan kesempatan yang luas untuk peniti karir dan Rekruter, tapi kenyataannya banyak Rekruter yang belum terlalu aktif menggunakan LinkedIn untuk menjaring kandidat yang pasif (Kelompok Silent). Harus kita akui bersama, tidak semua orang bisa nyaman dengan dirinya sendiri, membangun aktivitas secara konsisten di LinkedIn. Namun kita semua yakin bahwa realitas ini dapat diatas dengan teknologi dari Kalibrr Indonesia.

Masih banyak Rekruter yang lebih memilih untuk menyeleksi kandidat hanya berdasar mereka yang telah melamar saja ke job portal atau portal karir perusahaan, dan biasanya hal ini disebabkan karena alasan beban kerja para Rekruter yang belum memungkinkan untuk menjelajahi talenta pasif melalui LinkedIn

Jangan khawatir, karena Kalibrr Indonesia memiliki layanan Social Recruitment. Didukung oleh tim rekrutmen yang handal, Kalibrr dapat menjangkau berbagai kelompok kandidat, termasuk diantaranya kandidat pasif yang ada di LinkedIn Layanan Social Recruitment memungkinkan Anda menemukan kandidat terbaik dengan lebih cepat, seperti apa pun jenis & kelompok kandidat yang dihadapi.

Jadi, tunggu apalagi... mari jadikan Kalibrr sebagai partner rekrutmen Anda, dan bawalah proses rekrutmen perusahaan Anda ke tingkatan yang lebih tinggi! Jangan lupa, Kalibrr Indonesia juga nongkrong di LinkedIn lho… Maka pastikanlah kita membangun aktivitas se-positif mungkin di LinkedIn. Kita tidak pernah tahu, kapan tim Kalibrr Indonesia melihat semua potensi kita, dan menawarkan kita sesuatu yang tak terduga.

cta

 

Categories

Tags