Skip to main content
kriteria sukses eb
Management

5 Kriteria Mengukur Tingkat Kesuksesan Sebuah Employer Brand

By Roh Budianto on October 2, 2019

Fakta di dunia kerja saat ini hanya ada sedikit kandidat unggulan yang aktif mencari pekerjaan, karena mereka lebih memilih bersikap pasif - bahkan hanya menunggu mendapat referensi pekerjaan dari koneksi.

Mudahnya mendapatkan informasi lowongan pekerjaan di era digital ini, membuat banyak “top talent” menjadi picky menanggapi kesempatan yang menyapa, dan tak ayal lagi hanya perusahaan mempunyai employer brand yang kuatlah yang mampu menarik minat mereka untuk menghadiri undangan interview. Hal ini membuat talent war menjadi sesuatu yang inevitable.

Pemenang dari talent war ini tentu saja perusahaan yang berhasil dalam membangun reputasi positif, yang mengkomunikasikan dengan jelas kepada target audiens, tentang “value” apa yang mereka miliki dan diberikan kepada karyawannya, serta mampu menanamkan brand image kepada audiens sebagai best place to work melalui aktivitas employer brandingnya.

Lalu bagaimana bagaimana mengukur “Employer Branding” suatu perusahaan apakah telah memberi hasil terbaik? Berikut ini 5 kriteria sebagai barometer kesuksesan employer branding: 

  1. Menarik Minat Talent yang Tepat.

menarik minat

 

Kriteria employer brand yang berhasil bukan diukur dari banyaknya jumlah pelamar tetapi lebih kepada “high potential talent” yang benar-benar ingin bergabung, dan ingin berkontribusi yang fit dengan budaya organisasi yang dibangun. 

Employer tanpa brand reputation yang baik akan menjadi pilihan kedua atau hanya sebagai pembanding (demi mengetahui penawar terbaik sebelum kandidat bersangkutan memutuskan pindah) yang mana ujung-ujungnya sering dijumpai kandidat menolak offering yang diberikan dan memilih bekerja di perusahaan lain yang memiliki company brand yang lebih bagus.

Exposure diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan agar pesan bahwa organisasi Anda adalah tempat yang baik untuk bekerja terus menempel di pikiran target audiens. Efeknya perusahaan tidak pernah benar-benar kehabisan kandidat potensial untuk mengisi posisi kosong, bahkan sebelum posisi-posisi tertentu dibutuhkan.

  1. Tingkat Turnover yang terkendali

Tingginya tingkat karyawan keluar dapat menimbulkan motivasi karyawan yang rendah. Karyawan yang sejatinya memiliki tingkat kepuasan kerja yang baik, saat menghadapi keadaan tim yang menyusut justru berbalik termotivasi untuk ikut “melompat” juga.

Hal tersebut terjadi tak lain disebabkan oleh karyawan yang stay mengalami peningkatan beban kerja karena adanya kekosongan jabatan yang tak kunjung terisi dengan talent yang tepat. Disisi lain kesempatan berkarir di tempat lain terbuka lebar.

Jadi sangat penting menjaga turnover rate karyawan tetap stabil untuk menciptakan organisasi yang dikenal dengan tingkat retensi tinggi terhadap top performersnya sebagai salah satu parameter kesuksesan employer branding. 

  1. Sukses Mengubah Karyawan Menjadi Brand Ambassadors Perusahaan.

Employer Brand Ambassadors paling terpercaya adalah karyawan perusahaan itu sendiri. Mereka adalah aktivis story teller terbaik yang dengan sukarela menceritakan kisah perusahaan tempatnya bekerja berdasarkan pengalaman emosional yang melekat di benak mereka tentang manajemen, praktek bisnis, dan dampaknya pada kehidupan mereka kepada keluarga, teman, rekan kerja, dan bahkan orang asing di social media.

Jadi penting untuk memastikan karyawan yang masih bekerja dan yang sudah  keluar perusahaan untuk menjadi Brand Ambassadors dan menceritakan sesuatu yang baik tentang perusahaan . Secara tidak langsung mereka juga menjalankan employee referral (agen rekomendasi)  yang memberikan impact untuk menarik minat fit best talent dari luar organisasi.

Contoh employer branding yang sukses mengubah karyawan menjadi brand ambassador perusahaan dapat anda lihat di sini

  1. Tingkat Employee Engagement

employee engagement

 

Semua pekerja pastinya sepakat bahwa gaji adalah satu motivasi utama bekerja, tetapi tanpa adanya faktor-faktor lain yang meretensi seperti perkembangan karir, pelatihan, dan keselarasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, cepat atau lambat akan menjadi faktor penghambat bagi talenta-talenta di perusahaan untuk bekerja dengan keikhlasan dan berkontribusi secara maksimal. 

Loyalitas karyawan mudah terjadi pada kondisi dimana harapan karyawan sesuai kenyataan yang diberikan perusahaan, menimbulkan kepuasan kerja yang pada akhirnya menimbulkan employee engagement yang tinggi. 

  1. Keseimbangan antara Pengelolaan dan Produktivitas Perusahaan

keseimbangan

 

Business is business, profit adalah goal dari didirikannya suatu perusahaan, dan people adalah faktor produksi yang paling berperan terhadap produktivitas dan kelangsungan perusahaan.

Tingkat kecakapan karyawan dalam bekerjasama erat hubungannya dengan kontribusi yang dihasilkan karyawan terhadap pencapaian misi perusahaan. Karena itu baik buruknya kualitas organisasi yang dihasilkan oleh employer branding tercermin dari tingkat produktivitas, growth dan kelangsungan perusahaan. 

HRD sebagai “jembatan” antara kepentingan pemberi kerja dan pekerja harus berperan sebagai figur penggerak yang meningkatkan setiap upaya pembangunan employer brand secara seimbang

Upaya tersebut bukan hanya untuk “terlihat baik” namun harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas. Tanpa memberi pengaruh positif terhadap tujuan perusahaan, employer branding adalah omong kosong.

Sebuah perusahaan mudah saja menyatakan value mereka di company page atau sosial media mereka, tetapi kenyataan bagaimana cara bisnis dijalankan mencerminkan hal sebenarnya.

Mengabaikan konsep dan elemen-elemen yang memberdayakan employer branding adalah cara pasti untuk membantu perusahaan Anda digulung perubahan zaman.

Singkatnya melalui employer branding yang tepat dapat mengatasi banyak masalah yang dihadapi perusahaan di era disruption saat ini, dan tingkat kebahagiaan karyawan adalah kunci dari semua kriteria sukses membangun employer brand reputation.

Roh Budianto

Human Resources Practitioner