Skip to main content
Kalibrr x Ruby Indonesia : Ruby untuk Perusahaan 1 Juta Dolar
All About Kalibrr

Kalibrr x RubyID : Bahasa Ruby untuk Perusahaan 1 Juta Dolar

By Diah Wahyu Asih on September 2, 2019

Berkolaborasi dengan komunitas Ruby Indonesia, Kalibrr mengadakan meetup bertajuk “Road to RubyConfID 2019”. Di kesempatan kali ini, Kalibrr dan Ruby Indonesia membahas bagaimana bahasa pemrograman Ruby masih relevan dan mampu mendukung startup unicorn Indonesia, GoJek. 

Bertempat di TierSpace, Jakarta Selatan, meetup kali ini terbagi ke dalam 2 sesi diskusi. Sesi pertama dibawakan langsung oleh Didik Wicaksono, CTO Cookpad Indonesia. Ia menjelaskan mengapa Ruby itu menyenangkan dan mampu memberikan profit yang lebih bagi individu dan perusahaan. Selain karena penulisan bahasa pemrograman Ruby yang cukup fleksibel, Ruby memiliki library (kumpulan code dalam suatu modul) yang banyak jumlahnya. Inilah yang membuat bahasa Ruby dapat mendongkrak nggak hanya performa, namun juga biaya dalam produksi.

“Menulis ruby itu mudah, programmer dapat mengekspresikan diri mereka ke dalam kode yang dibuat. Selain itu, Ruby juga membuat kita menulis kode yang lebih sederhana.” Kata Didik.

narasumber
Didik Wicaksono, CTO Cookpad (kiri) dan Giovanni Sakti, System Engineer GoJek (kanan)

Sesi kedua dibawakan oleh Giovanni Sakti, System Engineer GoJek, Ia membahas soal Ruby yang menurut orang-orang lambat, dan menjelaskan mengapa pendapat itu tidak relevan 90% setiap saat. 

“Yang bilang kalau Ruby itu lambat biasanya ada 2 jenis orang. Yang pertama adalah evangelist dari bahasa pemrograman lain, yang kedua adalah orang-orang yang benar-benar sudah menyentuh batas optimisasi Ruby. Karena bahasa pemrograman itu hanya bagian kecil dari persepsi kecepatan pengguna.” Jelas pria yang kerap disapa Gio.

sesi tanya jawab
Sesi tanya jawab bersama narasumber

Menurutnya ada banyak faktor, sedikitnya 3 komponen yang harus dioptimalkan sebelum masuk pada bahasa Ruby itu sendiri. Ketiga komponen tersebut adalah Network (jaringan), I/O (input output), dan Framework. Ketika komponen-komponen tersebut telah dimaksimalkan, baru kita dapat menganalisa performa dari bahasa pemrograman. Bahkan setelah kita mengoptimalkan Ruby, kita masih harus mempertimbangkan aspek external service yang nggak bisa kita kendalikan. 

“GoJek sendiri dari awal telah lama menggunakan Ruby hingga akhirnya mencapai valuasi 1 juta dollar. Namun ketika beranjak ke valuasi di atas ini, kita memang harus mulai menggunakan kombinasi bahasa pemrograman yang lain.” lanjut Gio.

Sebagai penutup Gio juga menjelaskan bahwa setiap bahasa pemrograman diciptakan untuk tujuan khusus agar dapat memiliki performa yang tinggi. Contohnya seperti Ruby yang memang didesain untuk web development. Golang untuk micro service dan sebagainya.

Dengan adanya kolaborasi seperti ini diharapkan Kalibrr dapat terus meningkatkan ekosistem IT di Indonesia melalui dukungan-dukungan yang diberikan kepada komunitas IT untuk bertumbuh dan meningkatkan kemampuan khususnya dalam era digital.

Terakhir, kalau kamu penasaran lowongan kerja di GoJek, yuk klik di sini!