Skip to main content
UMN : Understanding Gig Economy in Industry 4.0
Kalibrr Indonesia

Kalibrr x UMN : Understanding Gig Economy in Industry 4.0

By Diah Wahyu Asih on May 3, 2019

Tangerang - Ketika teknologi telah masuk dalam babak baru, segala sesuatu juga terpengaruh. Tidak terkecuali cara mencari kerja bahkan pekerjaan itu sendiri. Adanya perkembangan big data memungkinkan sebuah algoritma untuk memahami perilaku manusia. Misalnya dengan melihat pada informasi CV, sebuah sistem dapat memberikan rekomendasi pekerjaan yang sesuai. Tentunya hal ini ditujukan untuk memudahkan kita memilih keputusan terbaik. 

Perubahan ini pun membawa dampak tersendiri dari sisi lapangan pekerjaan, salah satunya membuat banyak pekerjaan manusia tergantikan. Namun di saat yang bersamaan, banyak juga pekerjaan baru yang bermunculan seperti influencer, Youtuber, Content Creator yang mungkin asing untuk generasi Baby Boomer atau bahkan generasi X. 

Peserta Euforia UMN Gig Economy
Peserta Euforia 2019 UMN 

 

Tepat di hari Kamis, 25 April 2019, Kalibrr diundang untuk mengikuti sebuah forum diskusi kreatif yang diorganisir oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (HIMMA UMN). Forum diskusi ini merupakan salah satu bagian dari serangkaian acara EUFORIA 2019 yang mengangkat tema Gig Economy in Industry 4.0

Dalam forum ini, HIMMA UMN menghadirkan Michael Crisyanto selaku Co-Founder Eatlah dan juga Bontot Pandawa Satria Jaka selaku Founder dari Videoin.id. Sebagai partner edukasi, Kalibrr juga turut diundang untuk memaparkan tentang bagaimana cara berkarir di Industry 4.0 saat ini. Michael Budiman Mulyadi selaku Enterprise Partner Senior Manager dari Kalibrr  berkesempatan dalam mengemukakan tren dalam pasar SDM.

Para pembicara menerima penghargaan dari UMN
Para pembicara menerima penghargaan dari UMN

Dimulai pukul 11.00, Founder Videoin.id membeberkan bahwa pekerjaan di zaman ini mulai memiliki kontrak yang pendek atau bersifat freelance. “Sekarang kita itu working without a job, kerja tapi berasa tidak ada pekerjaan. Orang tua mungkin tidak mengerti karena ini mainan kita” tukas Bontot. Menurutnya, hal ini memiliki konsekuensi seperti menghilangnya proteksi dari kantor, ketidakstabilan pendapatan, dan upah yang tidak adil. 

Selanjutnya Michael Crisyanto membagikan cerita menarik dibalik kemunculan Eatlah, sebuah brand makanan nasi ayam telur asin yang populer di kalangan anak muda. Menurutnya sekarang jauh lebih mudah untuk membangun sebuah bisnis karena banyak venture capital sudah bermunculan. “Sekarang bagaimana membuat bisnis dengan nilai investasi yang kecil tapi memiliki perputaran (uang) yang cepat” kata Michael. Pengalamannya dari membuat bisnis fashion hingga konsultan brand membawanya pada satu kesimpulan. Sesuatu yang baru merupakan hasil dari yang lampau, dimana branding harus sesuai dengan era.

How to Decide  on a Career  in Gig Economy
Michael membawakan materi tentang bagaimana menentukan karir di era Gig Economy

Giliran Kalibrr membawakan materi tentang bagaimana memilih jalan karir. Ada lima  hal yang disampaikan untuk dapat bertahan dalam Gig Economy, diantaranya kelincahan, kreativitas, kemampuan dan kompetensi, exposure, serta pribadi yang sehat. “Carilah arti kehadiran kalian, apa dampak kalian terhadap lingkungan. Itu mungkin bisa menjadi jawaban karirmu” jelas Michael saat ditanya mengenai passion dalam memilih karir. Menurutnya karir dapat “beradaptasi” karena merupakan sebuah entitas yang mudah terpengaruh. Contohnya dari segi spiritualitas, seseorang mungkin saja keluar dari pekerjaannya yang sudah stabil karena dinilai riba. Dan itu terjadi sepanjang perjalanan Michael menemukan passion-nya.

Oleh karena, itu maksimalkan kelebihan diri kamu dan bawa terus sesuai standar zaman. Jangan lupa untuk terus #kejarsuksesmu bersama Kalibrr.