Kalibrr

Advice

Professional career advice for professionals
Indonesia - Company Insider

#Brrtamu ke Kompas Gramedia: Raksasa Media Dalam Era Disrupsi Digital

January 15, 2019

Kompas Gramedia Company Visit - 8 Januari 2019

 

Your journey here will be an exciting and challenging one.

—Arki Sudito, Vice GM HR Development of Kompas Gramedia


Bermula dari majalah Intisari, P.K. Ojong dan Jakob Oetama membangun landasan dari Kompas Gramedia; yang kini merupakan media terbesar dengan visi besar berbasis pengetahuan. Kalibrr dan mahasiswa dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) pergi brrtamu (bertamu) ke kantor pusat Kompas Gramedia untuk belajar dari perjalanan 55 tahun menjadi referensi media Indonesia. Tim Kompas Gramedia mengajak kami berkeliling di kantor pusat Kompas Gramedia yang berlokasi di Palmerah Barat.

Arki Sudito, Vice GM HR Development of Kompas Gramedia

Acara brrtamu kami dimulai dari opening yang dibawakan oleh Ibu Nathania Mulia selaku Corporate Communication dan dilanjutkan oleh Bapak Arki Sudito selaku Vice GM Human Resource Development di ruang conference. Dalam presentasinya, Bapak Arki membahas mengenai pentingnya bagi Kompas Gramedia untuk lebih cepat beradaptasi di era teknologi digital ini. “Masyarakat pada zaman sekarang sudah platform agnostic—tidak lagi bergantung dengan satu media saja untuk mendapatkan berita.” tutur Bapak Arki dalam presentasinya.

 

Partisipan dari PPI Dunia

Bapak Arki juga menyinggung tentang impian Kompas Gramedia akan pentingnya pemahaman mengenai big data untuk kedepannya membangun sebuah sistem yang dapat membuat ekosistem lokal di antara semua pilar penopang Kompas Gramedia.

 

Tren ini tentunya akan mempengaruhi masa depan Kompas Gramedia dan akan berefek besar pada operasional di masa depan. Maka dari itu, kami mengundang kalian semua untuk menjadi bagian dari transformasi media Indonesia terbesar,” ucap beliau.

 

Kami juga mendengarkan presentasi Bapak Latief, selaku Wakil Redaktur Pelaksana dari Kompas.com. Bapak Latief membahas mengenai teknik marketing yang dilakukan oleh jurnalis di masa sekarang. “Pada akhirnya, perusahaan Kompas Gramedia ini perlu pendapatan—salah satunya melalui iklan—untuk menopang kualitas dan produksinya. Namun pembaca di masa kini tidak akan kembali mengunjungi kita kalau menggunakan bentuk iklan yang mengganggu seperti pop-up ads.” Bapak Latief membahas mengenai content marketing dalam bentuk advertorial, dengan campuran infografis untuk membuat iklan-iklan Kompas tidak lagi mengganggu kenyamanan pembaca. Bapak Latief juga merasa bahwa jurnalis juga harus bisa berkembang seiring dengan zaman. Perkembangan zaman sekarang sangat dipengaruhi media sosial, maka dari itu, seorang jurnalis harus mengetahui tren pembawaan cerita masa kini agar pembaca juga tidak lagi berpikir bahwa iklan adalah sesuatu yang sangat mengganggu seperti zaman dahulu.

 

Pak Latief

 

Presentasi Bapak Latief tidak berhenti sampai di situ. Tim Kompas Gramedia membawa mahasiswa PPI untuk berkeliling dan melihat langsung ruang redaksi. Ruang Redaksi yang terletak di Lantai 5 Menara Kompas, merupakan ruangan besar yang dibagi ke banyak divisi.

 

Ruang Redaksi Kompas.com

 

Kantor Redaksi ini berkonsep open office dengan pembatas pendek. Setiap divisi terbagi dalam satu meja melingkar yang berhadapan satu sama lain, dan saling berseberangan dengan lingkaran divisi lainnya. Bapak Latief juga berkata bahwa konsep kantor seperti ini sebenarnya memudahkan staff untuk bekerja dan berkomunikasi dengan cepat dan efisien.

 

Tur keliling kantor masih belum selesai; kali ini, tim Kompas Gramedia membawa kami ke lantai 17, tempat Gramedia Digital Nusantara beroperasi. Di sana, kami disambut oleh Nadia Nesa Putri, Employer Branding yang bekerja di bawah People and Culture dari Gramedia Digital Nusantara. Suasana kantor Gramedia Digital Nusantara boleh dibilang cukup kontras dibandingkan dengan kantor redaksi yang kami saksikan sebelumnya. Masih mengusung tema open office, namun dengan desain yang jauh lebih kasual. Saat kami masuk, kami melihat dua orang di sofa tengah bermain FIFA di PlayStation.

 

Ruang Gramedia Digital Nusantara

 

“Kami adalah ujung tombak digital platform Kompas Gramedia,” ucap Nadia, selagi mulai membawa partisipan berkeliling kantor lantai 17 ini. Singkat kata, Gramedia Digital Nusantara membawa bisnis konvensional untuk go digital. Tapi tidak berhenti dari sekadar menjual platform yang meminta pengguna untuk membuat user; Tim Gramedia Digital Nusantara juga akan membimbing dalam berbagai langkah usaha mereka.

 

Di tengah jalan, kami dikenalkan oleh Samuel Hadi Nugroho, yang juga menjelaskan kepada kami bahwa walaupun dengan gaya kerja a la startup seperti ini, tidak berarti bahwa bisnis Gramedia Digital Nusantara tidak sustainable. “Justru sustainability itu yang kami pertahankan sebagai perusahaan.” ujar Samuel, sebab Gramedia Digital Nusantara merupakan unit yang sudah berada di bawah conventional business yang stabil; corporate dengan rasa startup.

 

Nadia Nesa Putri dan Samuel Hadi Nugroho

 

Kami juga dibawa berkeliling kantor, di mana kami menjumpai dua ruangan unik; silent room dengan kapasitas enam orang untuk bekerja secara efisien tanpa kebisingan, dan napping room. Menurut Nadia, napping room ini pada kenyataannya malah tidak memotivasi karyawan untuk menjadi malas. Hal ini sudah teruji melalui performance appraisal yang sudah meeting expectations.

 

Napping Room

Ada juga Nursery Room yang disediakan untuk pemenuhan regulasi pemerintah yang mewajibkan adanya nursery room. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk rebranding Kompas Gramedia secara keseluruhan. “Kami ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa Kompas Gramedia itu bukanlah grup yang kaku, tua dan tidak ada kehidupan. Kantor ini, tentu saja, adalah buktinya.” ujar Sam.

 

Acara brrtamu ini ditanggapi dengan positif oleh para mahasiswa PPI. Terlihat dari beberapa diantaranya antusias untuk bertanya dan bertukar pikiran dengan para staf Kompas Gramedia. Acara brrtamu kali ini juga disambut dengan sangat baik oleh pihak Kompas Gramedia. “Tentu saja kalian sangat boleh untuk datang kembali.” Nadia berucap sembari tertawa. “Mau drop CV juga silahkan saja, loh.”

 

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Cindy Angela, anggota PPI yang berasal dari University of Melbourne, “Seru banget! Rundown acara hari ini dari awal sampai akhir oke, dan aku nggak sangka kalau speakers-nya banyak. Jadi nggak cuma dapat informasi dari satu pihak saja. Kantornya juga, sangat nggak nyangka kalau bakal berbeda banget, aku kira bakal kaku seperti bayanganku. Terlebih lagi acara kali ini nggak ngaret, jadi oke banget deh! Lain kali pasti mau ikut lagi kalau Kalibrr yang ngadain.”

 

Terima kasih ya, untuk semua yang sudah hadir untuk brrtamu ke Kompas Gramedia. Sampai jumpa di acara brrtamu yang lainnya lagi!

 

Thank you!

Kamu tertarik untuk jadi bagian Kompas Gramedia? Bisa banget karena ada banyak lowongan terbaik Kompas Gramedia di Kalibrr. So, daftarkan dirimu sekarang DISINI! 

Written by Jeanny Sunjaya
Indonesia - Company Insider

#Brrtamu ke Kompas Gramedia: Raksasa Media Dalam Era Disrupsi Digital

January 15, 2019

Kompas Gramedia Company Visit - 8 Januari 2019

 

Your journey here will be an exciting and challenging one.

—Arki Sudito, Vice GM HR Development of Kompas Gramedia


Bermula dari majalah Intisari, P.K. Ojong dan Jakob Oetama membangun landasan dari Kompas Gramedia; yang kini merupakan media terbesar dengan visi besar berbasis pengetahuan. Kalibrr dan mahasiswa dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) pergi brrtamu (bertamu) ke kantor pusat Kompas Gramedia untuk belajar dari perjalanan 55 tahun menjadi referensi media Indonesia. Tim Kompas Gramedia mengajak kami berkeliling di kantor pusat Kompas Gramedia yang berlokasi di Palmerah Barat.

Arki Sudito, Vice GM HR Development of Kompas Gramedia

Acara brrtamu kami dimulai dari opening yang dibawakan oleh Ibu Nathania Mulia selaku Corporate Communication dan dilanjutkan oleh Bapak Arki Sudito selaku Vice GM Human Resource Development di ruang conference. Dalam presentasinya, Bapak Arki membahas mengenai pentingnya bagi Kompas Gramedia untuk lebih cepat beradaptasi di era teknologi digital ini. “Masyarakat pada zaman sekarang sudah platform agnostic—tidak lagi bergantung dengan satu media saja untuk mendapatkan berita.” tutur Bapak Arki dalam presentasinya.

 

Partisipan dari PPI Dunia

Bapak Arki juga menyinggung tentang impian Kompas Gramedia akan pentingnya pemahaman mengenai big data untuk kedepannya membangun sebuah sistem yang dapat membuat ekosistem lokal di antara semua pilar penopang Kompas Gramedia.

 

Tren ini tentunya akan mempengaruhi masa depan Kompas Gramedia dan akan berefek besar pada operasional di masa depan. Maka dari itu, kami mengundang kalian semua untuk menjadi bagian dari transformasi media Indonesia terbesar,” ucap beliau.

 

Kami juga mendengarkan presentasi Bapak Latief, selaku Wakil Redaktur Pelaksana dari Kompas.com. Bapak Latief membahas mengenai teknik marketing yang dilakukan oleh jurnalis di masa sekarang. “Pada akhirnya, perusahaan Kompas Gramedia ini perlu pendapatan—salah satunya melalui iklan—untuk menopang kualitas dan produksinya. Namun pembaca di masa kini tidak akan kembali mengunjungi kita kalau menggunakan bentuk iklan yang mengganggu seperti pop-up ads.” Bapak Latief membahas mengenai content marketing dalam bentuk advertorial, dengan campuran infografis untuk membuat iklan-iklan Kompas tidak lagi mengganggu kenyamanan pembaca. Bapak Latief juga merasa bahwa jurnalis juga harus bisa berkembang seiring dengan zaman. Perkembangan zaman sekarang sangat dipengaruhi media sosial, maka dari itu, seorang jurnalis harus mengetahui tren pembawaan cerita masa kini agar pembaca juga tidak lagi berpikir bahwa iklan adalah sesuatu yang sangat mengganggu seperti zaman dahulu.

 

Pak Latief

 

Presentasi Bapak Latief tidak berhenti sampai di situ. Tim Kompas Gramedia membawa mahasiswa PPI untuk berkeliling dan melihat langsung ruang redaksi. Ruang Redaksi yang terletak di Lantai 5 Menara Kompas, merupakan ruangan besar yang dibagi ke banyak divisi.

 

Ruang Redaksi Kompas.com

 

Kantor Redaksi ini berkonsep open office dengan pembatas pendek. Setiap divisi terbagi dalam satu meja melingkar yang berhadapan satu sama lain, dan saling berseberangan dengan lingkaran divisi lainnya. Bapak Latief juga berkata bahwa konsep kantor seperti ini sebenarnya memudahkan staff untuk bekerja dan berkomunikasi dengan cepat dan efisien.

 

Tur keliling kantor masih belum selesai; kali ini, tim Kompas Gramedia membawa kami ke lantai 17, tempat Gramedia Digital Nusantara beroperasi. Di sana, kami disambut oleh Nadia Nesa Putri, Employer Branding yang bekerja di bawah People and Culture dari Gramedia Digital Nusantara. Suasana kantor Gramedia Digital Nusantara boleh dibilang cukup kontras dibandingkan dengan kantor redaksi yang kami saksikan sebelumnya. Masih mengusung tema open office, namun dengan desain yang jauh lebih kasual. Saat kami masuk, kami melihat dua orang di sofa tengah bermain FIFA di PlayStation.

 

Ruang Gramedia Digital Nusantara

 

“Kami adalah ujung tombak digital platform Kompas Gramedia,” ucap Nadia, selagi mulai membawa partisipan berkeliling kantor lantai 17 ini. Singkat kata, Gramedia Digital Nusantara membawa bisnis konvensional untuk go digital. Tapi tidak berhenti dari sekadar menjual platform yang meminta pengguna untuk membuat user; Tim Gramedia Digital Nusantara juga akan membimbing dalam berbagai langkah usaha mereka.

 

Di tengah jalan, kami dikenalkan oleh Samuel Hadi Nugroho, yang juga menjelaskan kepada kami bahwa walaupun dengan gaya kerja a la startup seperti ini, tidak berarti bahwa bisnis Gramedia Digital Nusantara tidak sustainable. “Justru sustainability itu yang kami pertahankan sebagai perusahaan.” ujar Samuel, sebab Gramedia Digital Nusantara merupakan unit yang sudah berada di bawah conventional business yang stabil; corporate dengan rasa startup.

 

Nadia Nesa Putri dan Samuel Hadi Nugroho

 

Kami juga dibawa berkeliling kantor, di mana kami menjumpai dua ruangan unik; silent room dengan kapasitas enam orang untuk bekerja secara efisien tanpa kebisingan, dan napping room. Menurut Nadia, napping room ini pada kenyataannya malah tidak memotivasi karyawan untuk menjadi malas. Hal ini sudah teruji melalui performance appraisal yang sudah meeting expectations.

 

Napping Room

Ada juga Nursery Room yang disediakan untuk pemenuhan regulasi pemerintah yang mewajibkan adanya nursery room. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk rebranding Kompas Gramedia secara keseluruhan. “Kami ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa Kompas Gramedia itu bukanlah grup yang kaku, tua dan tidak ada kehidupan. Kantor ini, tentu saja, adalah buktinya.” ujar Sam.

 

Acara brrtamu ini ditanggapi dengan positif oleh para mahasiswa PPI. Terlihat dari beberapa diantaranya antusias untuk bertanya dan bertukar pikiran dengan para staf Kompas Gramedia. Acara brrtamu kali ini juga disambut dengan sangat baik oleh pihak Kompas Gramedia. “Tentu saja kalian sangat boleh untuk datang kembali.” Nadia berucap sembari tertawa. “Mau drop CV juga silahkan saja, loh.”

 

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Cindy Angela, anggota PPI yang berasal dari University of Melbourne, “Seru banget! Rundown acara hari ini dari awal sampai akhir oke, dan aku nggak sangka kalau speakers-nya banyak. Jadi nggak cuma dapat informasi dari satu pihak saja. Kantornya juga, sangat nggak nyangka kalau bakal berbeda banget, aku kira bakal kaku seperti bayanganku. Terlebih lagi acara kali ini nggak ngaret, jadi oke banget deh! Lain kali pasti mau ikut lagi kalau Kalibrr yang ngadain.”

 

Terima kasih ya, untuk semua yang sudah hadir untuk brrtamu ke Kompas Gramedia. Sampai jumpa di acara brrtamu yang lainnya lagi!

 

Thank you!

Kamu tertarik untuk jadi bagian Kompas Gramedia? Bisa banget karena ada banyak lowongan terbaik Kompas Gramedia di Kalibrr. So, daftarkan dirimu sekarang DISINI! 

Written by Jeanny Sunjaya

Categories

Tags